
"Cepi, apa kabar ya dia?" Benakku terus bertanya, sebuah keresahan ku rasakan begitu dalam, bukan menyesal karena telah menduakannya, hanya tak terbayang jika saja ia tau aku menduakannya, apa yang akan ia lakukan padaku? tentu saja ia akan sangat marah.
Mengingat sejauh ini ia sangat setia padaku, ia juga slalu memperlakukanku dengan baik, bahkan setelah lebih dari 3 bulan lamanya kami berhubungan, tak satupun ku dapati nomor perempuan di ponselnya, bahkan seluruh sosial medianya hanya berisi status atau poto-poto milikku saja.
Beberapa hari telah berlalu, di pagi yang cerah ini aku memutuskan untuk masuk kelas, walaupun sebenarnya malas jika harus berpapasan langsung dengan si Shaun The Sheep, ya hari ini jadwal piket guru killer, seorang guru BP dan kesiswaan yang terkenal keras dan garang, bahkan ia tak pernah tersenyum. Raut wajahnya slalu menampakan keseriusan. Ia bertubuh gemuk dengan perut yang maju ke depan , itulah kenapa aku memanggilnya Shaun the Sheep atau Shaun si Domba , adalah sebuah film animasi yang menceritakan kehidupan para Domba dan seekor Anjing yang slalu bertugas sebagai penjaganya.
Guru killer itu tak lain adalah pak Udin. Lalu, apa hubungannya guru killer itu dengan animasi Shaun the Sheep? yap, tubuh dan ekpresi wajah pak Udin yang sangat mirip dengan salah satu tokoh Domba gemuk yang tertera di film animasi tersebut. Itulah alasan kenapa aku menamainya Shaun The Sheep, karena memang ia sangat mirip dengan salah satu domba di film tersebut.
Baru satu langkah keluar dari rumah, Akbarl sudah menelpon, memintaku untuk menemani kegabutannya, kegabutan yang mungkin slalu ia rasakan setiap pagi.
Dengan terpaksa aku mengikuti keinginannya, hari ini aku kembali bolos demi untuk menemaninya. Ya, itu terjadi hampir setiap pagi setelah kami resmi berpacaran, bahkan jika aku mencari alasan untuk masuk kelas aku slalu gagal, karena sikapnya yang terkadang frontal membuatku mau tidak mau harus mengalah.
__ADS_1
Sebegitu takutnya aku kehilangan dia, mungkin terdengar sedikit gila, tapi aku memanglah mencintainya. Bahkan jika suatu hari nanti ia menyakitiku, aku akan slalu memaafkannya. Aku slalu menjadi rumah untuknya, menerima dengan terbuka kapanpun ia datang.
Seperti biasa dengan senyuman tipis ia telah menungguku di persimpangan jalan, tanpa di suruh lagi aku langsung naik ke atas motornya.
"Mau kemana lagi hari ini?" Tanyaku agak ketus, mukanya sedikit tidak bersahabat, mungkin moodnya sedang tidak baik.
"Ke situ deh" Situ yang dalam bahasa indonesia artinya danau.
"Kenapa lagi hari ini? aku sudah beberapa hari ini loh ga masuk sekolah, kalo terlalu sering bisa-bisa pihak sekolah memanggil orang tuaku untuk datang ke sekolah" Aku menggerutu.
"Kenapa? udah gamau nemenin aku?" Ia membentakku, seketika membuatku terdiam. Padahal ia tak pernah membentakku sebelumnya.
__ADS_1
Di tengah perjalanan dengan hati yang panas, sekumpulan orang sedang duduk menikmati kopi dan rokok yang mereka bawa di depan sebuah warung dekat dengan danau.
Mereka menatapku dari kejauhan, di antara mereka ada satu orang yang mengangkat jari telunjuk ke arahku seolah menyuruhku berhenti.
"Siapa dia?" Gumamku dalam hati, rupanya Akbar tak menyadari keberadaan mereka, terbukti ia tetap membawa motornya dengan santai tak merasa terganggu sedikitpun, atau memang ia mengenal mereka lalu sengaja bersikap menyebalkan dengan menantang mereka untuk mengejar kita.
"Kamu mengenal mereka?" Tanyaku pada Akbar, yang masih terdiam sejak tadi.
"Mereka siapa?" Benar, rupanya ia tak menyadari keberadaan orang itu, tapi perasaanku menjadi sangat gelisah. Menerka-nerka akan sosok Cepi yang beberapa hari ini sengaja tak ku beri kabar.
Perasaan ku menjadi tak karuan, resah dan takut. Bukan takut kehilangan kehilangan Cepi, hanya saja jika mengingat sifatnya yang over protective mungkin akan sangat sulit bagi dia menerima kenyataan atau mungkin ia akan bersikap kasar padaku nantinya.
__ADS_1
Entahlah pemikiran buruk seperti ini membuat ku kalut sekaligus merasa bersalah juga sedikit menyesal. Hatiku terus bertanya, akankah Cepi mengetahui hal ini?