Pena Hitam

Pena Hitam
15


__ADS_3

Wali kelasku yakni bu Tuti memanggilku untuk datang ke kantornya, sesuai yang beliau perintahkan dengan segera aku berjalan memasuki kantor dimana ia telah menungguku.


Setelah sampai, ia mempersilahkanku untuk duduk di kursi depan mejanya. Aku mengangguk mengikuti perintahnya.


"Nilai kamu sudah bagus, kehadiran kamu juga. Ibu seneng liat perubahan kamu sekarang, mudah-mudahan slalu seperti itu ya?" Ia menyodorkan selembaran kertas berisi daftar nilai dan beberapa kegiatan yang aku ikuti. Aku tersenyum puas, aku telah berhasil mengembalikan nilai-nilai yang seharusnya ku dapat ketika duduk di kelas satu.


Tiba-tiba ingatan tentang Akbar muncul. Sudah berapa lama ia menghilang?, atau lebih tepatnya kita sama-sama menghindar.


Aku mencoba untuk menghubunginya, dan berhasil. Hari-hariku yang tertunda telah kembali normal dengan Akbar yang kembali berada di sampingku. Namun, sayang Akbar yang sekarang bukanlah Akbar yang dulu.

__ADS_1


Kalo dulu ia slalu menyempatkan waktunya untuk sekedar bertemu denganku, atau berjalan-jalan setelah sepulang sekolah dan menikmati indahnya senja di danau. Sekarang tak lagi kita lakukan.


Bahkan untuk sekedar mengabariku rasanya sangat mahal sekali, ia benar-benar telah berubah membuatku berfikir buruk tentangnya, hingga setiap hari pertengkaran slalu terjadi bahkan hampir tak pernah semanis dulu.


Rupanya keadaan membuatnya terlihat sangat sibuk, sejak masuk kelas tiga Akbar slalu mengikuti kelas, ia juga mengikuti beberapa les, selain itu pemantapan untuk persiapan ujian akhir semester membuatnya tak lagi memiliki waktu untuk bermain denganku.


Bahkan, di hari minggu ia akan bekerja membantu Ayahnya. Walau begitu aku tak pernah peduli, yang ku pikirkan hanyalah bagaimana bisa ia berubah secepat itu? Ia telah sibuk sendiri dan tak lagi memiliki waktu untuk sekedar mengajakku jalan-jalan.


Keputusan itu tentu tak dapat ku terima dengan mudah, bahkan setelah hubungan kita benar-benar berakhir. Dan lucunya, ia slalu bertukar kabar dengan Annisa. Hal yang membuatku marah pada Annisa untuk yang pertama kalinya, ia slalu merespon Akbar, mendengarkan semua ucapan yang Akbar ceritakan padanya. Padahal ia tau pasti aku sangat terluka saat itu.

__ADS_1


Desember 2013, Akbar telah di nyatakan lulus oleh pihak sekolahnya, walau begitu aku tidak tau lagi tentang keberadaannya. Yang ku tau saat ini ia sedang dekat dengan Annisa sahabatku sejak kelas satu smp.


Melihat beberapa postingan Annisa yang slalu hadir nama Akbar sebagai komentator terbaiknya. Tentu, membuatku gerah. Ego telah menguasaiku, amarah, sesak dan luka bercampur menjadi satu.


Aku menghubunginya sekali lagi, mengutarakan semua perasaanku yang telah terluka, amarah dan air mata tak hentinya mengalir tak dapat ku bendung lagi.


"Asal kamu tau aja, Annisa itu pacarku. Sekarang ia menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Jangan menggangguku lagi !" Pesan singkat yang cukup membuatku bungkam. Kini menangis adalah satu-satunya hal yang ingin sekali ku lakukan.


Di jam istirahat, ku lihat Annisa sedang berdiri bersama teman-temannya, membicarakan banyak hal dengan ekspresi yang gembira. Aku menghampirinya dengan air mata yang tak hentinya mengalir membasahi pipiku. Amarah yang bergejolak dan juga ego yang terus mendorongku untuk memakinya.

__ADS_1


"Dasar penghianat ! tega ya kamu, ngelakuin semua ini sama aku? sabahat macam apa kamu ini? munafik ! kamu perempuan munafik" Aku mengumpat, amarahku mengalir begitu saja. Aku membencinya, sangat membenci mereka, pacarku dan sahabat terbaikku, lebih tepatnya mantan. Hari itu, rasanya separuh jiwaku menghilang, mati dan terasa kosong.


__ADS_2