Pena Hitam

Pena Hitam
71


__ADS_3

Rupanya perkataanku telah membuat Doni tersinggung, ia berdiri tegak menatapku yang sedang menangis sambil menikmati makanan yang ia bawa.


DUGG


Ia menendang tubuhku dengan sangat keras, seketika sekotak nasi yang sedang ku nikmati berhamburan .


Aku menangis sejadi-jadinya, ku ambil semua pakaian milik ku dan bayi Bintang yang sudah ku rapikan, ku masukan ke dalam tas bayi berwarna cokelat dengan kepala Teddy Bear menempel di bagian depannya. Tas bekas yang selalu ku pakai kemanapun aku pergi membawa bayi bintang pemberian dari kakak pertama Doni, yang waktu itu aku ingat betul, kakak iparku memberikan tas ini karena mertuaku melarang keras membeli peralatan bayi.


Aku masih menggunakan piyama dengan tangan pendek dan celana panjang, segera ku ambil jaket jeans dan kerudung instan. Ku ambil gendongan bayi, ku angkat dan kupeluk bayiku yang sedang terlelap , ku masukan ke dalam gendongan. Aku berdiri, tangan kanan ku gunakan untuk menggendong bayiku , sedangkan tangan kiri ku jinjing sebuah tas yang berisi pakaian .

__ADS_1


Aku berlari sekuat yang ku bisa entah kemana tujuanku tanpa uang sepeserpun , sedangkan Doni masih mematung di tempatnya menyaksikan kepergianku.


15 menit aku berlari , pinggangku mulai ngilu, kedua tanganku serasa hampir copot. Ku lihat bayi Bintang masih bermain di dalam mimpinya. Tak terasa aku berlari cukup jauh hingga sampai di sebuah taman, aku duduk sejenak menyaksikan orang berlalu lalang. Pikiranku yang sedari tadi kacau, serta air mata yang mulai mengering bersamaan dengan redanya tangisanku.


"Aku harus kemana? Ya Alloh, aku ingin pulang. Kirimkan pertolonganMu" Benakku terus memohon padaNya.


Di tengah kebingungan yang ku rasakan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku baru sadar jika ponsel milik Doni terbawa olehku.


Syukurlah pertolongan Tuhan telah datang.

__ADS_1


"Kamu dimana? mau pulang ngga? kalo mau kita barengan" .


Betapa senangnya hatiku, aku sangat bersyukur pada Alloh SWT yang telah mengirimkan pertolonganNya padaku melewati Nisya.


Nisya adalah teman satu MA ku tepatnya dia sabahatku, kami berteman sejak kelas 3 MA. Kami bersahabat dekat selain Nisya ada juga Nur. Kami bertiga sudah seperti saudara, bahkan Mama menganggap mereka seperti anaknya sendiri.


Selepas sekolah kita semua melamar pekerjaan di prusahaan Property yang sangat familiar di kota bandung, di sana kita di berikan pemahaman cara berjualan , pengenalan mengenai Property, serta keuntungan yang sangat besar yang di dapat jika kita mampu menguasainya. Hanya Nisya yang sangat berantusias mengikuti pemahaman yang di berikan kepada kami, ia percaya bahwa ia mampu terjun di dunia marketing karena sipatnya yang supel dan memiliki sosialisasi yang tinggi. Nur tidak begitu menyukai ini, ia tidak begitu yakin pada dirinya sendiri, ia satu-satunya perempuan yang sangat agamis di antara kita, paling dewasa dan keibu-ibuan, ia juga paling tua di antara kita.


Sedangkan aku, cita-citaku adalah menjadi seorang guru, jelas ini sangat bertentangan denganku. Marketing bukan duniaku, aku mengundurkan diri dan memilih untuk tidak melanjutkan perjuangan yang sudah kita sepakati bersama. Nur juga, ia memilih melamar menjadi Admin di perusahaan tempat Nisya bekerja. Dan Nisya? tentu saja ia sukses menjadi Marketing Property yang hebat di lingkungannya.

__ADS_1


"Aku di taman Alun-Alun Bandung Nisy, kebetulan aku juga mau pulang, kamu jemput aku ke sini ya" Aku menutup telponnya dan menunggu kedatangan Nisya.


__ADS_2