
Februari, 2015
Pagi-pagi sekali aku bangun dan mengemas barang-barang yang akan di perlukan selama di Subang. Mengingat pesan Farin, katanya subang itu sangat dingin. Akhirnya aku memutuskan membawa selimbut dan beberapa baju hangat yang akan ku perlukan, tak lupa beberapa alat mandi juga spatu untuk nanti bekerja, tak banyak yang ku bawa hanya barang-barang yang ku anggap penting saja.
Subang? sebuah pemandian umum atau kolam renang dengan air hangat alami yang berasal dari mata air yang tercampur dengan belerang, ya itulah yang ada di benakku saat mengingat nama Subang.
Aku meminta izin pada kedua orang tua ku, mencium punggung tangan mereka, Mama terlihat sangat sedih , karena untuk yang pertama kalinya mereka melepaskan anaknya ke dunia luar yang cukup berbahaya.
Tepatnya kedua kalinya, setelah kemarin bekerja pada sebuah butik, seharusnya tidak begitu sedih karena aku juga pernah bekerja sebelumnya, tapi karena kota Subang cukup jauh dari tempat tinggalku dan di sana juga tidak ada sanak saudara yang akan menjagaku, itulah alasan kenapa mama terlihat sedih dan khawatir dengan kepergianku.
Aku segera berangkat ke Subang , ku lihat Farin sudah menungguku di halaman depan rumah dengan motor meticnya. Aku pergi dengan pikiran yang kacau , kenangan tentang Akbar masih melekat di ingatanku seperti menolak untuk di lupakan.
__ADS_1
Jarak antara rumahku dan Farin sebenarnya cukup jauh, memerlukan waktu 30 menit untuknya sampai di rumahku, lalu entah jam berapa ia berangkat dari rumahnya yang jelas jam 08.00 ia sudah mengetuk pintu rumahku. Padahal dulu jaman-jaman MTS ia sangat pemalas, bahkan terbilang sulit bangun pagi.
Sekitar dua jam sudah kami di perjalanan, cukup melelahkan, hingga akhirnya sampai di tempat tujuan.
TID TID
Farin menekan klakson motor meticnya, ia berhenti tepat di depan sebuah rumah dengan gerbang tinggi berchat hitam , seorang security keluar dari rumah itu dengan setengah berlari ia segera membuka pintu gerbang hitam yang terkunci.
"Eh teh Farin baru dateng? silahkan masuk teh" Sapa security itu, ia tersenyum lebar melihat kedatangan Farin dan aku , ternyata ia bukan hanya security tapi juga penjaga di kosan itu.
"Ada teh, masuk aja langsung" Ia mempersilahkan kami masuk, lalu kembali mengunci pintu gerbang bercat hitam dengan tinggi sekitar 1,8 meter .
__ADS_1
Aku dan Farin masuk ke dalam rumah dengan cat hijau tosca, dari depan tampak beberapa jendela berjejer rapi, rumah yang cukup megah memiliki halaman yang luas dengan beberapa pohon mangga di depannya, dari luar rumah itu terlihat sangat bersih dan juga sepi.
Rupanya Reno sudah tau akan kedatanganku, pintu kos ia buka lebar, ia duduk di depan TV dengan beberapa cemilan di depannya.
"Ren, kenalin ini temenku yang semalam aku ceritain" Farin menggandeng tanganku.
"Oh hei.. aku Reno," Ia mengulurkan tangan kanannya mengajakku bersalaman.
Reno Septian , mereka berhubungan sejak Farin masuk SMA, menurut cerita Farin, Reno ini dulunya guru honorer di SMA tempatnya sekolah, lalu takdir mempertemukan mereka dan hingga sekarang mereka menjalin hubungan.
Saat ini Reno duduk di bangku kuliah semester 7, ia kuliah di kampus yang cukup terkenal di kalangan Mahasiswa yakni kampus UP* , lalu aku tidak begitu faham jurusan apa yang ia ambil mungkin perkantoran atau apalah itu , akupun tidak begitu dekat dengannya. Yang jelas ia baru saja selesai melaksanakan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) di tempat yang kemarin Farin rekomendasikan padaku.
__ADS_1
"Naura" Aku tersenyum membalas jabatan tangannya.
Kosan itu adalah tempat dimana Reno tinggal selama PPL. Karena PPL sudah selesai di laksanakan maka Farin mengajakku untuk mengisi kamar tersebut menggantikan Reno, selain murah kosan itu sangat bersih dan lokasinya cukup dekat dengan tempat dimana aku akan bekerja.