Pena Hitam

Pena Hitam
90


__ADS_3

"Selamat bergabung di Cafe Taria, semoga betah ya" Ucap seorang perempuan berambut pirang bergelombang. Ia menyodorkan tangan kanan mengajakku bersalaman, mulutnya tersenyum lebar padaku.


"Iya bu terima kasih, semoga saya dapat beradaptasi dengan cepat" Aku tersenyum girang.


Jika biasanya hari pertama bekerja akan di suguhkan dengan rekan kerja yang rese atau atasan yang memasang wajah mengerikan , lain halnya di tempat ini.


Cafe ini menerapkan peraturan keras mengenai ATITTUDE , semua karyawannya di tuntut untuk selalu bahagia, bekerja sama , ramah, dan sopan santun terhadap customer maupun sesama karyawan. Jika salah satu di antara kami ada yang bermasalah atau berkelahi maka tak segan-segan SVP akan memotong gajih kami


Hari-hariku sangat menyenangkan, tempat baru dengan teman-teman yang baru, mereka sangat baik dan terbuka membuatku merasa leluasa sehingga dapat beradaptasi dengan cepat.

__ADS_1


Karena jam kerja yang mengharuskan pulang larut malam bahkan terkadang mendadak lembur akhirnya aku mengajak Doni untuk pindah kontrakan ke tempat yang lebih dekat dengan Cafe Taria, Doni pun menyetujuinya. Sedangkan Putri, ia terlihat sedih karena sekarang kontrakan kita berjauhan. Walaupun begitu, kami masih saling mengunjungi satu sama lain.


Satu tahun telah berlalu, tak ada masalah apapun lagi di antara kami , semua terlihat baik-baik saja. Doni dengan dunianya aku dengan duniaku, kesibukan masing-masing membuat kita lupa pentingnya komunikasi.


Setiap sepulang bekerja Doni selalu sibuk dengan ponselnya, ia akan bermain game hingga terlelap. Sedangkan aku, melepas penat dengan nongkrong bersama teman-temanku, tak jarang aku tak pulang ke rumah, ku habiskan malam dengan mereka yang masih lajang.


Tertawa riang gembira, bergadang bersama, bermain gitar, ngopi dan ngerokok bareng, bahkan tak jarang menenggak minuman keras.


Kembali ku tenggelam dalam lubang hitam, terjerat dosa yang ku sebut sebagai kenikmatan.

__ADS_1


Ekonomi yang sudah membaik, teman-teman yang menyenangkan serta pekerjaan yang mapan membuatku terlena akan surga dunia.


Tak ada lagi pria di otakku, hanya uang , nongkrong, dan belanja. Meski begitu, aku tak pernah melupakan kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku tetap pulang setiap sehabis menerima seleri untuk mengajak Bintangku jalan-jalan atau sekedar menemaninya bermain.


Doni mulai jengah dengan kelakuanku yang setiap malam tidur di luar, nongkrong ga jelas, party bersama anak-anak berandalan. Kami sering berantem hebat karena itu semua. Walau begitu, aku tak memperdulikan ocehan Doni. Aku hanya berusaha untuk bahagia dengan caraku sendiri.


"Mau kemana lagi?" Tanya Doni, ia berdiri di depan pintu menghalangi jalanku.


"Nongkrong lah, memangnya kamu pernah membawaku liburan atau sekedar nongkrong di luar?" Aku menjawab Doni dengan sinis.

__ADS_1


"Heh, makin hari makin kurang ajar ya?" Doni hendak melayangkan tangan kanannya untuk menamparku, namun belum menempel tangan itu di pipiku langsung ia hentikan, ia memukul pintu dan masuk ke dalam rumah, sedangkan aku tidak memperdulikan Doni aku tetap pergi bersama teman-temanku.


" Kenape muke lu ? berantem lagi? halah udahlah kalo ga nyaman ngapain lu terusin, mending kayak kite-kite bebas, ia nggak?" Mas agum menuangkan minuman di gelas kosong milikku.


__ADS_2