
Aku sangat menikmati pekerjaan baruku, tepatnya profesiku sebagai guru baru yang bahkan tak memiliki pengalaman sedikitpun di dunia pendidikan, rupanya tak mudah menjadi seorang single parent, apalagi aku juga seorang Mahasiswa, terlebih memiliki anak yang masih berusia 2 tahun.
Tentu bebanku bertambah banyak, aku harus menghidupi anak semata wayangku, memenuhi setiap kebutuhannya, apalagi sejak usia 19 bulan ia sudah ku sapih, mau tidak mau sebagai gantinya aku harus memberinya susu formula. Kuliah terpaksa aku menunggak beberapa bulan karena tak punya uang untuk membayarnya, kondisi keuanganku kembali melemah, uang gajih yang ku dapat sebesar 350rb perbulan, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku.
Selain mengajar, setiap hari minggu Bu April mengajakku mengelola usahanya yakni berjualan Nasi Bakar yang cukup di kenal di kalangan para kaula muda karena memang usaha tersebut di buat semenarik mungkin, sehingga tak heran jika Nasi Bakar buatannya di kenal banyak orang.
Selain itu, ia pun sedang merangkai usaha baru. Yakni Butik dan Konveksi, ia mempercayakan usaha barunya itu kepadaku, ia telah banyak membantuku. Aku mensyukuri setiap detik di dalam hidupku, aku merasa bangga ketika orang bergantung padaku, artinya mereka membutuhkanku.
__ADS_1
Setiap hari kesibukan slalu ku rasakan, apalagi ketika memasuki bulan-bulan tertentu, seperti bulan Dzulhijjah dan Maulid, akan ada job dadakan yang Bu April dapatkan karena iapun memiliki usaha Catering di rumahnya. Dan aku selalu ia bawa kemanapun ia pergi, ia sudah seperti Ibu bagiku. Aku menjadi satu-satunya orang kepercayaannya, bahkan ia berniat untuk memindah tangankan TKI yang ia bangun kepadaku.
Selama satu tahun lamanya kami bersama, kami sudah seperti keluarga. Ia menaikkan harkat dan derajatku dengan sangat cepat.
Sementara di tempat lain, Doni kehilangan usahanya. Usaha yang ia bangun menggunakan keringatku ketika aku masih bekerja di pabrik Garment. Ia bangkrut setelah satu minggu aku meninggalkannya, hidupnya tak beraturan. Ia sangat prustasi , perempuan yang tempo hari bersamanya pun meninggalkannya bahkan keluarganya sendiri tak mau menerimanya.
Mendengar kabar buruk itu, aku merasa sangat iba. Seburuk apapun perlakuannya terhadapku ia tetap Ayah dari anakku, ia juga pernah mengisi hari-hariku, ia telah mengajarkan banyak hal padaku, kesabaran, ketulusan dan perjuangan.
__ADS_1
"Kau tinggal dimana selama ini?" Aku melontarkan satu pertanyaan kepadanya sehingga memecah keheningan.
"Aku hidup di jalanan, aku tak punya arah dan tujuan, aku kehilangan segalanya dalam hidupku, istriku, anakku, rumah dan segala yang ku miliki. Aku sangat menyesal, maafkan aku" Ia menundukkan kepalanya, ku lihat ia menahan air mata agar tak keluar dari kantung matanya.
"Aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kau meminta maaf". Entah mengapa perasaanku ikut hanyut bersamanya, luka yang selama ini ku rasakan dapat ku lupakan hanya dengan menatap kesedihannya.
"Apa yang harus ku lakukan , agar kau mau menerimaku kembali? aku rindu Bintangku, aku rindu kamu yang selalu menemaniku" Ia bersujud di kakiku, ia menciumi kedua tanganku, hingga membuatku merasa risih.
__ADS_1
"Bangunlah, semua orang menatapku. Aku sungguh malu karenamu" Aku berdiri untuk membangunkannya yang masih berlutut di kakiku.
"Tidakkah kau punya hati nurani? akan seperti apa anakku kelak jika kita benar-benar berpisah? tak cukupkah satu tahun bagimu untuk menyiksaku dengan meninggalkanku sendirian? ku mohon pikirkan keputusan ini kembali, jangan mengikuti egomu. Aku tau aku salah , aku khilaf. Tapi Bintang juga membutuhkanku, aku dan kamu sebagai orang tua yang utuh"