
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.. Tut tut"
Suara perempuan itu begitu menggema di telingaku, setelah berkali-kali ku coba menekan tombol hijau bergambar gagang telpon, berkali-kali juga suaranya ku dengar di kejauhan sana.
Entah panggilan yang ke berapa, yang jelas sudah dua hari ini Akbar menghilang, ia sama sekali tak memberiku kabar, bahkan dari semua akun social medianya tidak ada satupun yang aktif.
Aku benar-benar telah putus asa di buatnya, kekhawatiran yang ku rasakan terlalu berlebihan sepertinya.Tapi, aku pernah benar-benar kehilangannya, itulah yang membuatku begitu khawatir padanya, aku takut jika saja ia pergi lagi, meninggalkanku seorang diri dan membuatku terluka untuk yang kesekian kalinya.
Kring kring
Satu panggilan masuk, nomor yang sama sekali tidak aku kenali sebelumnya.
"Hallo"
Suara yang tak asing ku dengar dari kejauhan sana, secara sepontan membuat senyumku kembali mengembang, untuk sesaat aku melupakan kekhawatiran ku.
"Kamu kemana aja sih? Aku khawatir tau !" Aku menjawab sapaannya dengan sedikit membentak, meluapkan emosiku yang ku tahan selama 2 hari ini.
"Kamu dimana? aku mau ketemu" Ia tak menjawab pertanyaanku. Namun, dari nada bicaranya ia terlihat begitu serius.
Tak lama kemudian datang seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan beberapa tato di sekeliling tangannya, wajahnya terlihat agak sangar dengan anting menghiasi telinga sebelah kiri, pakaiannya terlihat ngasal dengan mengenakan celana jeans robek dan jaket denim berwarna biru cerah. Pria itu lebih mirip seperti preman yang siap memalakku kapan saja. Parahnya lagi, kedua bola matanya terlihat memerah sepertinya ia tidak sedang benar-benar sadar.
"Farid, ngapain kamu ke sini?" Adalah Farid Hartanto, aku mengenalnya sejak duduk di bangku MA kelas X, Akbar yang mengenalkannya padaku, ia adalah salah satu sahabat terbaiknya, dulu waktu kami duduk di bangku SMA Akbar hampir setiap hari membawaku ke rumahnya, untuk sekedar nongkrong atau menghabiskan waktu yang seharusnya di pakai belajar di sekolah.
Rumah Farid seperti basecamp, dimana setiap hari semua orang berkumpul , termasuk aku dan Akbar yang sengaja memilih untuk bolos sekolah demi menghabiskan waktu bersama.
"Ayo naik, dia sudah menunggu !" Farid mempersilahkanku untuk naik ke sepeda motornya. Aku segera mengambil tas dan pergi menaiki motor Farid yang terparkir di halaman depan rumah . Tak butuh waktu lama, karena jarak yang cukup dekat hanya memerlukan waktu 30 menit untuk sampai di rumah Farid kami pun sampai di depan rumahnya.
Aku segera turun dari motor sportnya, iapun dengan sigap memarkirkan motor kesayangannya itu , tak lama ia berjalan masuk ke dalam rumahnya akupun mengikutinya dari belakang.
Rumah Farid sangat sepi, ku lihat Akbar sedang terlelap di sofa. Aku menghampirinya, ku usap pucuk kepalanya perlahan, lama ku tatap wajah lelahnya sebelum akhirnya ia membuka mata.
"Loh kamu udah nyampe? Kok ngga ngebangunin aku?" Tanya Akbar, ia mengucek kedua matanya dan segera duduk di sampingku .
__ADS_1
"Aku baru dateng kok, kamu nyenyak banget tidurnya aku ga tega buat ngebangunin"
"Maaf, aku udah nyuruh Farid buat jemput kamu, abisnya aku capek banget ! Aku belum pulang ke rumah, semalam habis nonton konser Burgerkill"
Akbar sangat menyukai music gotic-rock, dan di masa itu Burgerkill sangat tenar, semua anak muda menyukainya. Terlebih Akbar, ia sangat fanatik dengan band itu, bahkan di kamarnya terpampang stiker dan juga poster bergambar band tersebut. Pakaiannya pun tak luput dari gambar band itu entah berbentuk tulisan atau foto.
Seketika raut wajah khawatirku berubah jadi amarah, bukan tanpa alasan. Jika ia berkeliaran untuk bersenang-senang dengan teman-temannya artinya ia sudah menenggak minuman keras, dan ia tau pasti aku sangat tidak menyukainya.
"Minum , lagi? Kamu sengaja banget sih bikin aku marah, harus berapa kali aku bilang aku ngga suka kamu minum, kamu ngerti ngga?"
Sejak kecil aku tumbuh di lingkungan yang agamis, keluargaku begitu Fanatik jika berbicara tentang Agama. Itulah alasan kenapa aku tidak menyukai pria yang mengkonsumsi alcohol.
"Iya, aku janji ini yang terakhir" Ekor matanya melirik ke arahku, aku tau itu bukan sebuah kesungguhan, buktinya sudah sejak lama aku melarangnya minum tapi ia tetap melakukannya.
"Lalu, kenapa kau tidak mencoba untuk menghubungi ku? Apa kau berencana untuk meninggalkan ku lagi?" Setengah berteriak, rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menahan luapan emosiku yang ku tahan sejak tadi.
"Ponselku hilang, aku tidak ingat telah menjatuhkan nya dimana" Ia menundukkan kepalanya, mencoba mengingat dimana ia terakhir kali memegang ponselnya.
"Bar, sorry aku mau jemput dulu ade ku ya, kalian aku tinggal dulu gapapa?".
Farid memakai jaket kulit miliknya, ia bersiap-siap untuk pergi, entah kemana tujuannya, yang ku tau dia memiliki seorang adik perempuan dan kalo tidak salah adiknya masih sekolah kelas 3 SMP saat itu.
"Tapikan ga ada siapa siapa di sini, apa ngga masalah?".
Tanya Akbar, ternyata pikirannya sama denganku, apa kata orang nanti jika di dalam rumah yang sebesar ini kami di tinggalkan pemilik rumah dengan hanya berdua saja. Bagaimana jika nanti pak RT datang lalu mengira kami melakukan hal yang tidak-tidak?
" Engga ko, tenang aja. Aman hehe". Sambil mengedipkan mata dan berlalu meninggalkan kami. Entah apa maksud dari kedipan mata itu, yang jelas aku tidak memperdulikannya.
Tinggalah kita berdua di rumah itu, Farid sudah memiliki rumah sendiri tak heran kalo teman temannya senang berlama lama nongkrong di rumahnya.
Akbar menatapku, tatapannya cukup tajam seolah ia hendak memakanku hidup-hidup, terasa mengerikan.
"Apa kamu mencintaiku ?".
__ADS_1
"Tentu saja" . Aku membalas tatapan matanya, seketika rasa jengkel itu hilang, suasana berubah menjadi hening.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, perlahan ia menutup mata dan mengecup lembut bibirku, terasa hangat. L*dahnya mulai bermain dengan g*nas. Dia benar-benar telah menguasaiku hari ini.
Jantungku berdebar sangat kencang, entah perasaan aneh apa yang sedang ku rasakan.
Lama terdiam membiarkannya bermain dengan caranya perlahan aku membalas ci*mannya dengan sangat hati hati.
"Mau coba yang lain?" Ia tersenyum menatapku dengan buas, seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.
Aku terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia membuka segalanya tanpa menunggu persetujuanku. Tangannya mulai meraba bagian terpenting dari tubuhku.
"A.. Aku" Hati dan pikiranku berkecambuk, ada banyak keraguan yang ku simpan, namun sama halnya dengan dia yang begitu menikmatinya akupun begitu dan bohong kalau aku bilang tidak menginginkan nya.
Hampir satu jam lamanya kami berc**ta sebelum akhirnya sampai pada puncak kenikmatan dan berakhir saling berpelukan. Suara nafas yang memburu saling bersahutan melepas segala keraguan yang tersimpan dalam benak.
Hari ini aku membiarkan nya melakukan apapun yang ingin ia lakukan seiring dengan jatuhnya keyakinanku untuk sepenuhnya percaya padanya.
Aku menyerahkan satu satunya hartaku yang paling berharga yang aku miliki, yang tidak seharusnya aku berikan hari ini.
Iya aku melakukannya, kesalahan terbesar yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Adalah awal dari kehancuranku. Aku mengutuk diriku sendiri, aku menyesal dan sangat menyesal.
"Tuhan, kenapa aku melakukannya". Batinku.
Aku menangis di pelukannya , dengan menahan rasa sakit yang aku rasakan sejak tadi.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu". Ia menghapus air mataku.
Aku terdiam memikirkan banyak hal, bagaimana jika kami tidak menikah? bagaimana jika sesuatu terjadi padaku? jika dia pergi siapa yang sudi menerima keadaanku sekarang? apa yang akan terjadi selanjutnya? aku masih terdiam dengan air mata yang terus mengalir di pipiku.
Setelah kejadian itu , aku hampir tidak pernah tidur, segalanya slalu terbayang siang dan malam.
Aku merasa cemas dan ketakutan, bagaimana bisa aku membiarkan ini terjadi dengan sangat cepat, aku sangat menyesalinya.
__ADS_1