
KRING KRING
Suara telpon berdering, nomor baru tanpa nama telah masuk ke ponselku.
"Ya hallo, Luwak White Coffee?"
" Kopi manis, semanis kamu" Suara lembut menjawab di kejauhan sana, suara yang sama sekali tak ku kenali.
" Hahaha, siapa nih?" Tawaku pecah ketika mendengar jawaban yang ia lontarkan padaku.
" Saya utusan Shinigami yang sengaja di turunkan ke bumi Pasundan untuk mencintai kamu" Ucap seorang pria di kejauhan sana.
"Eh serius ieu saha? ( serius ini siapa )" Tanyaku yang sedikit heran sekaligus penasaran.
"Perkenalkan nama saya Abdul Akbar As-Sundani, tinggal di Amerika dan suka makan Bala-bala" Dengan suara lantang yang sedikit berteriak. (Bala-bala yang kalo dalam bahasa indonesia artinya Bakwan).
"Hah, sejak kapan di Amerika aya bala-bala?' Tanyaku yang sedikit menahan tawa.
__ADS_1
Ya itulah percakapan pertama kami di sore itu, percakapan yang menurutku unik. Siapa yang tau jika itu adalah awal dari kebersamaan kami.
Setelah hari itu berlalu, semakin hari kami semakin dekat, tidak ada satu haripun yang ku lewati tanpa kabar darinya, pria unik yang katanya anggota gengster terkenal nyatanya telah menghanyutkan hatiku, membuatku melayang dan terlelap dalam buaiannya.
Mungkin kali ini Iwan benar, aku harus berterima kasih padanya karena sudah mengenalkan sosok menyenangkan dan humoris itu padaku. Walaupun pada awalnya, seperti layaknya perasaan ku pada Joni, hanya menjadikan nya pelampiasan agar aku mampu melupakan Rudi yang sudah bahagia dengan pacar barunya itu.
Hingga suatu hari di bulan januari, ia datang langsung ke sekolahku untuk pertama kalinya menemuiku, aku merasakan hal yang berbeda darinya, tidak seperti pria lain yang ku kenali, ia mampu membuat jantungku berdegup kencang tak beraturan, rasanya dadaku hampir meledak.
"Nah kan, aku bilang juga apa? kamu kepincut juga kan akhirnya. Hahaha" Iwan datang membawa motor jupiter MX berwarna biru kesayangannya, ia turun mendekati Annisa dan aku yang sedang duduk menunggu kedatangan mereka. Ia mengejekku dengan girang, rupanya kali ini ia merasa menang dariku.
Memang terdengar jahat, tapi itulah aku di masa putih abuku. Cuek, masa bodoh dan egois itu sangat jelas tergambar di wajah manisku yang kata orang-orang aku seperti terlahir dari keturunan india, mengingat hidungku yang mancung dengan kulit sawo matang dan bibir yang seksi. hehe
Akbar datang setelah 30 menit lamanya kami menunggu, ia hanya melemparkan senyum ke arahku , manis. Itulah yang terbesit di pikiranku seraya membalas senyumannya.
"Ayo naik" Ia mempersilahkanku untuk naik ke atas jok motor MX berwarna merah miliknya. Entah kemana ia akan membawaku yang jelas motor kami melaju dengan arah yang berbeda.
Di tengah perjalanan yang tak tau kemana arah motornya akan melaju, kami saling terdiam sebelum akhirnya ia membuka percakapan mengajakku berbicara dan perlahan mengubah keadaan menjadi lebih santai.
__ADS_1
"Jika aku memintamu menjadi bagian penting dari hidupku, jawaban apa yang akan kamu berikan ?" Pertanyaan itu tak lantas membuatku meresponnya dengan mudah. Apa yang pria ini pikirkan sekarang? bahkan ia memiliki perasaan yang sama terhadapku.
"Emh.. aku.." Lidahku kelu namun detak jantungku berdegup semakin kencang, aku ingin mengatakan Ya , tapi aku teringat Cepi, apa jadinya jika aku menerimanya menjadi pacarku. Walaupun aku tidak begitu mencintainya, ya setidaknya ini akan menyakitinya.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggu jawaban itu, tidak perlu terburu-buru, kau boleh memikirkannya selama yang kau mau"
Sedikit yang ku fahami, pria ini berbeda dengan Cepi walaupun secara fisik Cepi lah yang menjadi pemenangnya, tapi sikap dan sifatnya yang tenang, dewasa, humoris dan sabar membuatku merasa harus memilikinya, berbanding terbalik dengan Cepi pria itu bersifat temprament, over protektif dan juga cemburuan, ia slalu mengekangku memperlakukanku layaknya sebuah boneka.
"Baiklah, Cepi biar ku urus nanti.." Pikirku dalam hati.
"Oke, aku mau menjadi bagian terpenting itu dengan syarat kamu harus berjanji untuk selalu bersamaku apapun yang terjadi nantinya"
Sebegitu menariknya nama Cepi di dalam hidupku sehingga membuatku berlebihan, apa aku telah mulai merasa takut untuk kehilangannya, atau ini hanya perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan terhadap Cepi? entahlah, Akbar begitu menyenangkan membuatku jatuh cinta dan merasa sangat bahagia
"Janjiku janji pelaut"
Sejak saat itu perlahan ingatanku tentang Rudi mulai memudar, bahkan aku hampir melupakannya. Dan Cepi menjadi satu-satunya pemilik hati yang telah lama terluka itu, ya terluka oleh penyesalan yang terus menerus menyiksaku sejak aku kehilangan sosok Rudi.
__ADS_1