
Aida menatapku dengan lekat, tersirat penyesalan di dalam dirinya. Sedang aku, masih saja merasa kesal padanya. Padahal berkali-kali ia sudah meminta maaf padaku, ya aku tau itu bukan salahnya, tapi pria yang telah menempatkan ku pada bahaya kan pacarnya, orang dia cintai juga orang yang slalu ia bela, setauku sejak aku mengenalnya ketika kami duduk di bangku MA, ia slalu mengedepankan pacarnya itu di banding teman atau siapapun yang cukup dekat dengannya.
Aku tidak mengerti racun apa yang pernah ia konsumsi, yang jelas pria itu telah berhasil mencuci otaknya, bahkan ia rela berbohong pada orang tuanya demi untuk dapat hidup bersama dengannya.
Putri berusaha membujukku, ia tidak ingin ada konflik di antara kita, tapi aku tidak peduli perasaanku masih sangat kesal, manusia macam apa yang sudah membiarkan temannya sendiri dalam bahaya, bahkan ia sangat tau apapun tentang pacarnya itu, tapi ia tidak berusaha untuk melarangku pergi.
Aku segera beranjak dari tempat tidurku, di ikuti Riani yang berlari kecil hingga dapat berjalan sejajar denganku. Tak peduli berapa lama aku tertidur, bahkan kesadaranku belum pulih sepenuhnya, kepalaku masih terasa berat, efek tadi malampun masih ku rasakan dengan hebatnya.
Putri mengikutiku, ia berusaha membujukku untuk tidak bekerja hari ini, ia menyuruhku beristirahat saja di kamarku, sebenarnya akupun ingin begitu, tapi melihat wajah Aida rasanya aku gemas sekali, ingin mencabik wajah cantiknya itu.
__ADS_1
"Ra, please ! dengeken urang. Ulah indit !" (dengerin aku. Jangan pergi !)
Putri membentakku, ia menarik paksa tangan kiriku yang terus berjalan dengan Riani di sampingku, hingga membuat tubuhku berbalik 90°.
"Naon sih?" (Apa sih?)
Aku balik membentaknya, dengan reflek ku kibaskan tangan kiriku dengan kasar hingga membuat tubuh kurusnya terdorong, beruntung kedua kakinya dapat menopang berat tubuh dengan seimbang sehingga tak sampai membuatnya terjatuh.
"Ulah ngaganggu aing!" (Jangan ganggu aku) Aing adalah sebuah kalimat kasar yang jika dalam bahasa indonesia artinya adalah aku.
__ADS_1
Entah sejak kapan aku memiliki keberanian seperti itu, di pagi yang cerah dengan mentari yang mulai menampakan kehangatannya, aku membiarkan Putri menerima kemarahanku padahal ia hanya merasa khawatir padaku, sungguh jika ku ingat hari itu, aku merasa seperti orang paling konyol di dunia ini.
Ia tetap berusaha bersikap tenang menghadapi kemarahanku. Ia tau pasti bagaimana sifatku, tapi jika memperlakukan nya dengan kasar ini adalah untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, entah karena pengaruh dari alcohol atau memang aku tidak dapat mengendalikan amarahku yang sedang memuncak.
"Ulah mangkat, urang ulin" (jangan berangkat kita main)
Ia berbicara dengan setengah berbisik, aku terdiam tidak peduli pada ajakannya, dengan segera aku kembali berjalan menuju pabrik tempat dimana aku bekerja , aku meninggalkannya seorang diri yang masih berdiri tegak dengan memperhatikanku yang mulai berjalan membelakanginya.
Tak lama aku sampai di tempat kerjaku, aku duduk dan berusaha bersikap normal, mengendalikan setiap emosi yang ku rasakan, juga menyembunyikan semua kekesalanku pada semua orang yang hari ini seakan terasa begitu menyebalkan.
__ADS_1
"Naura, kamu harus pulang ! penting .. Ini surat izin, nanti kamu tinggal kasih aja ke security di depan sana, sudah Mami tanda tangani" Mami Ehan, pengawas yang sudah ku anggap seperti Mamaku sendiri, ia memberikanku selembar kertas yang berisi surat izin darurat yang ia buat.
Aku bingung dan tidak mengerti, bahkan ia menyuruh Mery pulang untuk mengantarkan ku ke rumah, katanya ini sangat penting saking pentingnya bahkan aku tidak dapat menolak permintaannya .