
Matahari mulai terbit , menunjukan eksistensinya. Cuaca dingin menyelimuti ruangan sederhana yang di penuhi dengan berbagai macam boneka yang berjejer rapih tepat di atas kepalaku .
Ku lihat jam telah menunjukan pukul 6.30 pagi. Aku segera beranjak dari tempat tidurku, dengan setengah berlari menuju kamar mandi yang tak begitu jauh dari kamarku.
BYUUR
Ku siram seluruh tubuhku dengan cepat, rasa dingin tak ku hiraukan lagi. Rupanya Cinta telah membuatku buta bahkan mati rasa. Ah , jika kau tau aku begitu bahagia, sangat bahagia.
"Dan tunggulah aku di sana, memecahkan celengan rinduku, berboncengan denganmu, mengelilingi ko.... Ta"
TOK TOK TOK
"Woy berisik.. masih pagi ah, ganggu orang tidur aja".
__ADS_1
Suara Farin menggema di telingaku, rupanya aku bernyanyi sangat keras sehingga menimbulkan kebisingan yang membuatnya terbangun dari mimpi indahnya.
Ku buka pintu kamar mandi dengan masih mengenakan handuk mini berwarna pink dengan gambar hello kitty milikku, juga tak lupa kepala yang di bungkus handuk kecil milik Farin.
Farin sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tubuh yang memebelakangiku, ia terlihat sangat kesal .
"He..he Sorry sis.. " Aku menatap wajahnya yang merah padam sembari tertawa kecil, rasa senang rupanya tak dapat ku pendam . Aku tidak peduli ia marah atau kesal yang pasti hatiku sangat berbunga-bunga.
"Si Farin kenapa ya? ga biasanya dia sensitif gitu, udah gitu mukanya pucet banget lagi, apa dia sakit ya?" Pikirku dalam hati. Aku berdiri mematung mengingat ekpresi yang ia berikan padaku.
Ohok ohok oek
Suara dari dalam kamar mandi terdengar cukup keras, ku pikir mungkin Farin sedang menggosok giginya hingga menimbulkan suara yang hampir mirip dengan orang yang sedang memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
Ah aku tidak begitu peduli, kalopun ia sakit biasanya ia akan meminta bantuanku untuk membeli obat dan semacamnya, dan lagi ia juga sudah besar kalo ada masalah dengan tubuhnya pasti akan menceritakannya padaku.
Tak ku hiraukan Farin yang sedang berada di dalam kamar mandi, aku kembali ke kamar ku dengan handuk yang masih melilit di tubuhku, memang terdengar egois, tapi ya begitulah orang ketika jatuh cinta terkadang tak dapat memikirkan kondisi orang lain, ku ambil ponsel yang tergeletak di atas kasur .
"Sampai jumpa nanti sore, sayang" Ingin rasanya aku berlari mengelilingi kota Subang, berteriak di depan mereka yang sedang sibuk berlalu lalang.
Benar, setelah percakapan ku dan Akbar tadi malam yang cukup panjang, bahkan kami hampir tidak tidur semalaman karena terlalu asik bertukar cerita, saling melepas rindu, juga membicarakan banyak hal tentang masa depan. Segitu yakinnya aku padanya, merasa jika ia manusia terakhir yang harus menemaniku hinggu tua nanti.
Di akhir obrolan kami sebelum sama-sama terbang ke alam mimpi, ia menyampaikan keinginannya yakni hendak menemuiku sore ini, untuk yang pertama kalinya setelah kepergiannya waktu itu.
Aku? tentu saja menyetujuinya. Mengingat selama ini ia tak pernah pergi dari pikiranku, bahkan slalu ada di setiap langkahku. Menemaniku dalam sepi, juga slalu hidup di dalam hatiku. Entah kenapa jika aku membicarakannya rasanya aku tak pernah bosan, bahkan ia slalu terlihat asik untuk di ceritakan.
Aku segera melepas handuk lalu memakai baju untuk secepatnya bergegas ke kantor tempat dimana aku bekerja. Tak sabar menunggu kedatangannya jika saja aku tak punya malu rasanya ingin sekali berguling-guling di lantai, sebagai bukti bahwa aku sangat bahagia.
__ADS_1