Pena Hitam

Pena Hitam
55


__ADS_3

Satu hari rasa setahun, satu minggu rasa seabad itu nyata ku rasakan, hari-hari ku yang begitu buruk ku lalui sendirian, tanpa keluarga dan teman. Terkurung dalam asa dan kesedihan, menunggu hari esok berharap kebahagiaan datang.


Kosong, hampa, sepi, rumah yang begitu besar ini terasa begitu dingin. Aku terlena di dalam lamunan, seandainya satu saja di antara mereka ada bersamaku, menemaniku yang tengah gundah. Ya Tuhan, aku rindu mama. Rindu perempuan yang telah melahirkan, menyusui dan membesarkanku, aku rindu babe, pria gagah yang slalu mengajariku banyak hal tentang hidup, rindu aa yang slalu bersedia kapanpun untuk mendengarkan semua keluh kesahku. Aku rindu keluargaku, rindu rumah dimana aku selalu pulang bahkan saat larut sekalipun.


Semakin hari tubuhku semakin tak terawat, tulang pipi mulai terlihat menonjol, kantung mata semakin menghitam, bahkan kerutan halus mulai terlihat di wajahku yang baru saja menginjak usia 19 tahun .


Pikiranku kalut, hatiku tak pernah sekalipun merasa tenang, aku benar-benar sendirian dan kesepian, dan Dav seperti tenggelam di antara ketidak berdayaan.


Ku tatap lembut bayiku yang kini berusia 3 bulan, ia mulai pintar berbicara dan telungkup, ia telah tumbuh dengan baik meski keadaanku selalu tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Aku tersenyum bangga ketika menatapnya, bayiku telah menjadi penguat dalam hidupku, hingga tiba saat dimana Doni menatapku dengan sangat dalam. Ia menatapku dari berbagai sudut, aku membalas tatapannya dengan tatapan yang kosong, aku begitu menderita.


Doni bilang ia akan segera membawaku keluar dari rumah itu, rupanya ia telah memahami banyak hal, bahkan orang tuanya sekalipun.


Aku begitu bahagia mendengar penuturannya, meski aku tidak terlalu berharap banyak padanya, mengingat sifatnya yang memang seperti itu. Banyak bicara namun nyatanya sampai detik inipun aku masih menderita.


Aku berdiri tepat di depan pintu kamar mereka, mungkin sikapku salah, tapi aku begitu penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan sampai-sampai harus menyebut namaku.


Rupanya Doni sudah berbicara dengan mamanya, mengenai keinginannya untuk membawaku keluar dari rumah itu. Tak ada yang menyetujui nya, alasannya hanya karena mereka menganggapku sebagai beban untuk Doni.

__ADS_1


Jantungku berdegup sangat kencang, berharap itu hanyalah percakapan omong kosong. Aku segera berlalu dari depan pintu kamar itu, air mataku tak dapat ku bendung, ini begitu menyedihkan rasanya ingin menangis sejadi-jadinya.


Aku kembali ke kamar ku, ku edarkan pandanganku di langit-langit kamar, ku lihat ada mimpi di sana mimpi yang ingin sekali ku wujudkan namun harus lenyap begitu saja.


Ku coba untuk menghubungi Doni, ku ceritakan semua yang sudah ku dengar, seperti biasanya Doni hanya terdiam tanpa memperdulikan apapun yang ku katakan.


"Bawa aku pergi"


Akhir kalimat yang ku katakan, rasanya tak mampu ku bendung lagi, aku tidak tahan sendirian di sini. Mereka bukan keluargaku, mereka orang asing yang ku tumpangi. Aku akan selalu mengingat ini bahkan hingga aku mati sekalipun, perlakuan mereka terhadapku, aku telah berjanji akan menjadi apapun di dunia ini, menjadikan diriku sebagai gantungan untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2