Pena Hitam

Pena Hitam
88


__ADS_3

Selama beberapa hari aku tidak berbicara dengan Doni, sejak kejadian itu aku memilih untuk diam dan tidak mau tau apapun yang berhubungan dengan Ria atau Doni. Aku hanya bertahan untuk Bintang selebihnya aku tidak peduli.


Ruangan yang sempit di tambah suasana yang panas membuatku merasa tak betah berlama-lama di rumah.


Setiap hari keadaan kian rumit, bermasalah dengan satu orang seperti memiliki seribu musuh, di tambah lagi pertengkaran hebat yang kemarin seakan menyisakan jejak yang buruk.


Mereka akan saling berbisik setiap kali melihatku keluar rumah, meski begitu aku selalu berusaha untuk tetap tenang.


Apalah arti sebuah komentar jika yang mereka tau hanyalah apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka alami.


"Kamu masih marah ya? aku tidak ada hubungan apapun dengan perempuan itu? tak bisakah kita saling bicara? kenapa kau selalu di kuasai amarah ?"

__ADS_1


Doni menahan tubuhku yang hendak pergi ke tempat dimana aku bekerja, pikiranku masih di kuasai amarah dan kebencian , sedikitpun aku tak dapat berfikir jernih. Menatap wajahnya hanya membangkitkan luka yang terus menusuk, belum sembuh luka-luka yang ia goreskan di hari krmarin, kini ia tambahkan lagi dengan luka baru yang tak ingin ku pedulikan lagi. Ku tinggalkan Doni yang mulai tak nyaman dengan sikapku. Lalu ku pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Jika benar yang kau lakukan demi Bintang, seharusnya kau tetap berperilaku baik-baik saja . Jika saja Bintang mengetahui kepura-puraan kalian mungkin ia akan sangat sedih" Putri berjalan di belakangku, seolah ia faham betul bagaimana sifatku.


"Ayolah, aku baik-baik saja" Aku menatap Putry yang terus melangkah mengikutiku.


"Kau mungkin bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku" Langkahnya berhenti, ia menatapku sinis. Kali ini aku tidak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan dariku.


Dia memang sahabatku, yang selalu dapat mengertiku. Dia juga seperti kakak bagiku, selalu membuatku tertawa sedalam apapun kesedihan yang tengah ku rasakan. Ia lebih bisa ku percaya daripada Doni.


"Duduklah, ada beberapa hal yang belum ku ceritakan. Aku salah jika terus menyembunyikan kebenaran ini darimu" Ia menggenggam tanganku dan menariknya untuk duduk.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku menatapnya sendu, ku harap sebuah kebenaran itu bukanlah kesedihan atau fakta yang sama sekali tak ingin ku dengar.


"Maafkan aku, aku tidak tau bagaimana Doni selama di sini. Karena aku dan suamiku sama-sama bekerja , sehingga di antara kami tak ada yang tau bagaimana kelakuan Doni selama ini"


Putry menunduk menunjukkan rasa kecewanya terhadap Doni.


"Kau sudah banyak membantuku, bahkan aku banyak berhutang Budi padamu. Katakan saja apa yang ingin kau katakan, kau tidak perlu merasa tidak enak denganku" Ucapku, yang sebenarnya aku sudah menerka-nerka apa yang akan ia katakan.


"Ria sering mendatangi kamarku untuk membicarakan Doni sebelum kau tinggal di sini, aku tidak tau apa di antara mereka ada hubungan atau tidak yang jelas mereka sangatlah dekat. Doni sering memakai barang-barang Ria, bahkan yang sedang ia kenakan sekarang adalah kaos milik Ria. Ia juga setiap hari tidur di kamar Ria, memasak untuk Ria, bahkan terkadang menyuapinya. Doni juga memberikan ATM pribadinya kepada Ria, ku sembunyikan kebenaran ini tak lain adalah agar rumah tanggamu baik-baik saja. Tak hanya itu, ku pikir mungkin akan lebih baik jika kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, bukan dari perkataan orang lain".


Kali ini aku tak lagi menangis , air mataku sepertinya mulai mengering. Aku terdiam membiarkan Putri mengatakan semua kebenaran yang selama ini ia simpan.

__ADS_1


"Beberapa kali ku peringati Ria agar tidak terlalu dekat dengan Doni, akupun sudah memberitahunya jika Doni sudah memiliki istri. Tapi dia tidak mempedulikanku bahkan tidak mau tau" Putri melanjutkan kalimat yang sempat ia hentikan, terlihat keraguan di raut mukanya.


__ADS_2