Pena Hitam

Pena Hitam
25


__ADS_3

"Mamaaaaa, aku sudah pulang." Teriakku pada Mama yang sedang memasak.


Mama menghampiriku, memeluk dan menciumku, matanya berkaca kaca. Mungkin ia merasakan kerinduan, mengingat aku tak pernah pulang sejak terakhir kali berangkat ke Subang.


" Kamu udah pulang sayang? kenapa? engga betah kerjanya". Tanya Mama.


Aku menceritakan semua yang terjadi selama aku bekerja di sana.


" Oh ya Ma, kenalin ini Akbar , pacarku." Aku memandang Mama dengan malu-malu.


"Ibu" . Akbar menghampiri Mama lalu mencium panggung tangannya.


"Nak Akbar, masuk sini nak" . Mama mempersilahkan Akbar masuk.


"Ayo masuk jangan malu malu" . Aku memapahnya masuk ke ruang tamu sambil menggandeng tangannya.


"Mau minum apa nak? kopi atau susu?" Tanya Mama sedikit teriak.


" Air putih aja Bu, engga usah repot-repot" . Jawab Akbar.


Ini bukan kali pertama Akbar main ke rumah ku, seharusnya ia sudah terbiasa dengan Mama. Namun, setiap kali ia berkunjung selalu saja saat Mama sedang tidak ada di rumah.


Aku menyusul Mama ke dapur, tiba tiba Mama berbisik.


"Sudah berapa lama kamu sama dia?". Sambil tersenyum.


" Dari kelas 1 SMA Ma, kenapa?". Aku menunduk menahan malu.


" Ko baru kamu kenalin?".


" Baru sempet Ma, lagian dia juga dulu pernah ke sini. Tapi, kebetulan Mama sedang pergi". Kataku membalik badan sambil berjalan, dan mengantarkan minuman pada Akbar.


Akbar meminum seteguk air putih yang aku berikan sebelum akhirnya berpamitan pulang. Dia meminta ijin pada Mama untuk membawaku ke rumahnya. Awalnya aku sempat ragu, mengingat ini adalah pertama kalinya untukku berkunjung ke rumah seorang pria, tapi akhirnya ia berhasil meyakinkan ku untuk ikut dengannya. Ya memangnya mau sampai kapan kita pacaran terus, jika dia jodohku lambat laun kami akan menikah, dan tentu saja rumahnya akan menjadi rumahku juga bukan?


"Ma, Akbar mau ajak Naura main ke rumah, boleh?". Tanya Akbar sambil tersenyum.


"Boleh, tapi jangan pulang malam ya". Mama membalas senyuman Akbar. Ya mama begitu baik hari ini, padahal jamannya sekolah dulu ia sangat protektif sekali padaku, jangankan pacar. Teman saja ia pilih, tidak boleh berteman dengan si itu, harus dekat dengan si ini, ya begitulah mama memperlakukan satu-satunya anak perempuannya yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Kali ini ia begitu pengertian, ia slalu menjadi teman di dalam hidupku, Mama sangat mengerti aku, dia jarang sekali marah padaku, Mama juga slalu memanjakanku meskipun usiaku sudah 18 tahun, di matanya aku tampak seperti bayi yang baru saja menginjak usia 8 bulan.


"Akbar pamit ya Ma" . Sambil mencium punggung tangan Mama.


"Iya nak , hati hati ya. " Mama mengantarkan kami ke depan rumah sambil melambaikan tangan kanannya.


Akbar melajukan motor meticnya dengan sangat apik. Jarak rumah aku dan Akbar tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di rumahnya.


"Sudah sampai" . Kata Akbar.


Rumah yang cukup ramai , ada banyak sekali anak kecil berlari-larian ke sana kemari mengitari aku dan Akbar yang masih berdiri di halaman depan rumah, keluarganya begitu hangat, terutama Pak Adam dan Bu Susi yakni kedua orang tua Akbar,  semua orang memperhatikanku dengan rasa penasaran membuatku menunduk menahan malu.


Tak jauh dari jalan raya, letak rumah Akbar masuk ke dalam gang, tepat di kanan dan kiri rumahnya adalah rumah Nenek dan Tantenya, yakni adik dari Bu Susi. Tak hanya itu, hampir semua tetangganya pun masih memiliki ikatan sebagai sanak saudara, tak heran jika banyak sekali anak kecil berkeliaran di rumahnya.


Di beberapa teras rumah terlihat ibu-ibu berkumpul ria, tertawa bersama sadar akan kedatangan seseorang yang cukup asing di mata mereka sesekali mereka melirik ke arahku dengan tatapan ramah lalu saling berbisik satu sama lain. Entah apa yang sedang mereka bicarakan di sana.


"Maaaaa, Paaa.." Akbar berteriak.


" Iya a" . Sahut Bu Susi.


"Mana? " . Pak Adam berjalan keluar kamar.


" Ko cantik a , nemu dimana?" . Pak Adam menggoda Akbar sambil tertawa kecil.


Aku tersenyum menahan malu, lalu dengan gesit mencium punggung tangan Pak Adam. Tak lama seorang perempuan bertubuh gemuk usianya kira-kira 38 tahun keluar dari dapur dan menggandengku masuk.


"Ini calon mantu Mama? , ko kamu ga pernah bilang kalo kamu punya pacar" . Kata Bu Susi, ia memapahku masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo masuk " . Pak Adam mempersilahkanku untuk masuk.


"Mau minum apa Neng?". Tanya Bu Susi.


"Engga usah Ma, jangan repot-repot." Aku menunduk sesekali ku tatap ruangan bercat Pink dengan sofa cokelat dan beberapa pas bunga yang terletak di beberapa tempat.


"Engga ngerepotin ko" . Jawab Bu Susi, ia terlihat sangat baik dan ramah.


"Ya udah Ma , air putih aja" . Aku tersenyum menatap wajahnya yang sedikit menua.

__ADS_1


Bu Susi mengantarkan minum lalu menaruhnya di atas meja tepat di depanku. Ia duduk di sampingku. Sedangkan Akbar berlalu meninggalkan kami entah kemana.


"A Akbar berapa bersaudara Ma?" . Aku memberanikan diri bertanya lebih dulu.


" Ada 3, Akbar itu anak pertama , adeknya satu cewek dan satu cowok". Jawab Bu Susi mantap.


" Besok ada acara keluarga , kamu ikut ya ". Kata Bu Susi.


" Besok? Iya Ma insya alloh, Neng dateng."


"Mama lagi masak , Mama tinggal ke dapur ya". Bu Susi berdiri sambil berlalu meninggalkan ku seorang diri di ruang tamu.


Tak lama Akbar kembali dengan seorang gadis remaja , mengenakan seragam biru putih dengan rambut yang panjang dan lurus, berkulit kecoklatan dan tingginya hampir sama denganku .


"Salam dulu dong Dek, sama Tetehnya. Maen nyelonong aja" Akbar menegur gadis itu.


Gadis itu tersenyum menghampiriku, aku berdiri menghadapnya, ia mengambil punggung tanganku lalu menciumnya, rupanya ia adalah adik bungsu Akbar. Bahkan setelah sekian lama kami berhubungan baru kali ini aku mendapat kesempatan bertemu langsung dengannya.


"Besok aku engga ikut ya". Aku merajuk pada Akbar.


"Kan Mama sudah mengundang kamu, ya harus ikut dong". Ia menatapku berharap aku memberikan jawaban Ya.


" Aku malu, pasti banyak sekali orang di sana". Kataku lagi.


" Tidak apa-apa kan ada aku yang slalu nemenin kamu" . Akbar mencium keningku.


Cukup lama kami berbincang, obrolan yang cukup panjang, bahkan kedua orang tuanya pun tanpa ragu mengajakku berbicara membuatku nyaman dekat dengan mereka.


" Udah sore pulang yuk" . Ajakku pada Akbar.


" Maaa, mau anterin dulu Naura pulang ya".


"Kok buru-buru sih neng, Mama masih kangen loh, mama cuman punya satu anak perempuan itupun main terus, makanya Mama kadang kesepian di rumah sendirian" Bu Susi memegang kedua tanganku seolah tak rela aku meninggalkannya.


"Iya nih Ma,  udah sore. Neng harus pulang takut Mama khawatir" Ku raih tangan kanan Bu Susi lalu menciumnya, begitupun dengan Pak Adam.


Mereka menatap kepergian kami dengan senyuman dan lambaian tangan. Ah, rasanya aku ingin hidup selamanya berdampingan dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2