Pena Hitam

Pena Hitam
56


__ADS_3

Sudah waktunya Doni kembali bekerja setelah beberapa hari ia ambil cuti, menjadi karyawan biasa rupanya tak cukup bagi Doni untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kita, terlebih saat aku tau bahwa Doni terlilit hutang yang cukup besar. Aku meminta izin kepada Doni untuk kembali bekerja setelah beberapa bulan meninggalkan pekerjaan lamaku demi untuk menjaga bayiku.


"Mama tidak mau Doni, apa-apaan ini. Mama bukan pembantu, bayi itu mempunyai Ibu, kenapa Mama harus merawatnya? kenapa harus memiliki bayi kalo dia tidak mau merawatnya?" Teriak seorang wanita tua dari balik dapur, rupanya Doni sedang membicarakan keinginanku untuk kembali bekerja pada Mamanya.


" Hmm, sial ! kenapa aku sebodoh ini. Menikahi pria yang bahkan Ibunya saja tidak menginginkan bayiku, bagaimana bisa ia menerimaku sebagai menantunya?". Pikirku dalam hati.


Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya, entah kenapa aku begitu membenci pagi ini, ketika harus mendengar lengkingan teriakan Ibu dari suamiku.


"Sayang". Doni keluar dari dapur, bersamaan dengan Mamanya, mereka menghampiriku yang sedang menyusui bayi Bintang.


"Mama tidak bisa menjaga bayimu, kenapa tidak Mamamu saja ?"


Mama Doni duduk di sampingku, sementara Doni hanya memandangku, tak satupun kalimat keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Ini masih jam 5 pagi, tak bisakah kita bicarakan lain kali saja?" Tanyaku pada Doni.


Mama Doni bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan kami.


"Sudah ku duga jawabannya akan seperti itu, dia memang tidak bisa di ajak bicara baik-baik. Ada masalah apa Mama mu dengan ku? kenapa dia begitu membenciku. Lihat saja nanti, dari banyaknya menantu hanya aku yang akan benar-benar menyayanginya".


Pagiku ku awali dengan pertengkaran. Anehnya darahku selalu naik ketika membahas keluarga Doni. Mereka seperti musuh bagiku, bahkan kesabaranku slalu tumbang di buatnya.


"Mereka sudah tua, mungkin kita yang harus memakluminya" Doni merapikan kemeja putih yang ia kenakan.


Aku bangkit dari tempat tidurku, menghampiri Doni yang sedang berdiri tepat di hadapanku.


"Sudahlah jangan mengeluh saja, tidak ada gunanya mengeluhkan susu yang sudah tumpah".

__ADS_1


"Ya ampun laki-laki ini, kenapa tidak peka sekali. Doni, kamu ini suamiku, tak bisakah kamu membawaku keluar dari Neraka ini?" Aku memandangnya dengan perasaan sedih.


"Lihat aku, yakinkan dalam dirimu. Semua akan baik-baik saja, kita akan melewati hari yang indah lagi setelah ini, hanya saja kita perlu bersabar, maaf sudah menyusahkanmu sejauh ini, aku akan membawamu keluar dari sini, setelah semua hutangku ku lunasi, aku janji". Ia memandangku sebelum akhirnya mencium keningku.


Lagi-lagi ia berusaha menenangkanku, tapi kali ini aku benar-benar jenuh, rasanya aku tak ingin mempercayainya lagi. Bagaimana tidak? mereka mengatur rumah tanggaku, menguasai suamiku sepenuhnya, membiarkan ku bersabar terlalu lama, hingga aku merasakan derita.


Orang bilang mertua adalah Ibu kedua bagi seorang wanita, rupanya itu tak berarti bagiku. Jika saja, dulu aku tau akan seperti ini pada akhirnya mungkin aku akan memilih untuk tidak menikahinya. Yang benar saja, aku bahkan selalu mengeluh akan pernikahanku.


Pernikahan bukanlah hanya tentang kebahagiaan, ada banyak kerikil di dalamnya. Kau harus melaluinya dengan tenang, jika tidak kau akan terjatuh di sana, kerikil yang terlihat kecil bisa saja membuatmu terjatuh atau tersandung jika kau tidak berjalan dengan berhati-hati.


"Aku akan segera pulang, jaga bayi kita baik-baik yah. Aku akan sangat marah jika dia terluka". Doni menyalakan stater motor sebelum akhirnya ia pergi.


"Hey yang benar saja, dia bayiku. Tentu saja aku akan menjaganya". Aku melambaikan tangan pada Doni hingga ia menghilang dari pandanganku.

__ADS_1


Dia hanya pergi untuk bekerja, tapi rasanya seperti ia meninggalkanku dengan waktu yang sangat lama .


__ADS_2