Pena Hitam

Pena Hitam
11


__ADS_3

Beberapa panggilan masuk yang tak sempat ku jawab datang dari nomor baru tanpa nama . Bersama dengan satu pesan masuk yang berhasil membuatku penasaran.


"Boleh kita bicara sebentar?" Isi pesan yang di kirim seseorang dari pemilik nomor yang sama sekali tak ku kenali.


Aku menelpon balik nomor tersebut namun tak ada jawaban, orang ini begitu misterius sehingga membuatku merasa penasaran akan sosoknya.


Aku segera bergegas untuk berangkat ke sekolah, setelah memastikan jika hari ini Akbar tidak akan menghubungiku untuk memintaku menemaninya bolos, padahal hari ini aku ingin sekali bolos mengingat hari kemarin cukup buruk yang membuat ku tak dapat mengatur konsentrasi maupun semangat untuk belajar di sekolah.


Annisa sudah menungguku di depan gerbang, dengan wajah yang sedikit panik, sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu yang cukup penting padaku.


"Ra, tadi pagi ada perempuan nelpon urang" Urang yang dalam bahasa Indonesia artinya aku atau saya merujuk pada kalimat yang sedikit kasar dan di tujukan untuk teman orang yang cukup dekat.


Deg


Jantungku terasa panas, jika aku dapat menghentikan waktu seperti Doraemon, mungkin saat ini aku ingin menghentikannya, menyuruh paksa Annisa untuk tidak mengatakan apapun yang akan membuatku terluka. Sedikit terdengar berlebihan tapi memang seperti itulah kenyataannya


"Perempuan itu bernama Risna, katanya dia pacar Akbar.." Annisa melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Apa nomornya yang ini?" Aku memberikan ponselku pada Annisa agar ia dapat melihat nomor yang ku maksud.


"Ah iya ini, benar" Annisa kembali memberikan ponsel itu padaku.


Rasa sesak merayap di dadaku, jika saja saat ini Akbar ada di hadapanku sudah pasti ku tampar habis-habisan pipinya.


"Sebenarnya ini yang ingin aku bicarakan padamu waktu itu, ketika kamu mengajakku bicara di kelasmu. Tapi aku tidak tega untuk mengatakannya karena waktu itu kamu terlihat sangat bahagia"


"Benarkah?" Air mataku mulai menetes membasahi pipiku. Rasanya tidak percaya, bahkan Akbar sudah berjanji akan slalu bersamaku dalam keadaan apapun dan aku percaya, sungguh memilukan.


Hal paling menyakitkan adalah ketika mengetahui sebuah kebenaran, kebenaran tentang dia, satu-satunya orang yang paling kamu percaya telah menghianatimu.


"Jadi, Risna itu sebenarnya siapa?" Dengan menahan sesak dan air mata yang terus mengalir, aku memberanikan diri untuk bertanya berharap mendapatkan jawaban yang akan membuatku berhenti menangis.


"Nanti sepulang sekolah kita cari tau" Jawab Annisa mantap, ia menggandeng tanganku untuk masuk ke kelas. Aku segera menghapus air mataku dan melupakan perasaan aneh yang cukup membuat dadaku sesak ini.


***

__ADS_1


RISNA BERLYNDA


Aku mengetik nama itu dan mulai mencari tau siapa perempuan ini melalui aplikasi Fac*book, aplikasi yang sedang tren di kalangan para pelajar, aplikasi yang sangat membantu untuk berjualan, berkenalan, mencari jodoh, hingga mencari bukti perselingkuhan seperti yang sedang ku lalukan sekarang. Lima detik kemudian muncul nama Risna Berlynda dengan poto propil perempuan gemuk dan beberapa bio juga informasi yang mengarah padanya.


Karena propilnya bersifat publik sehingga aku dapat melihat semua aktifitasnya dengan leluasa tanpa harus mengirim pertemanan terlebih dahulu.


Beberapa status romantis tertera di sana dengan menggunakan inisial huruf A yang tak lain adalah Akbar, memangnya siapa lagi kalo bukan Akbar? hatiku mulai terbakar cemburu, menerka-nerka apa yang sedang terjadi di belakangku.


Berkali-kali Annisa mencoba menghubungi nomor Risna, tapi tak satupun ia angkat. Annisa ini memang sahabat terbaik ku, ketika aku merasa begitu terluka ia adalah manusia pertama yang menghibur ku bahkan ia sibuk mencari tau siapa sosok Risna yang tak lain adalah simpanan Akbar.


"Ada urusan apa kamu menghubungiku?" Annisa mengirim pesan itu dengan cepat, sedangkan aku merasakan sakit yang terus merambat di dadaku, sakit namun tak berdarah. Entahlah untuk anak seusia kami yang baru menginjak usia 16 tahun hal menyedihkan dalam hidup hanyalah putus cinta.


"Aku pacar Akbar, kita sudah cukup lama berpacaran, aku hanya ingin memastikan jika temanmu itu juga memiliki status yang sama denganku yakni sama-sama pacar Akbar" Jawaban perempuan itu membuatku muak, dia pikir aku siapa? mau memperebutkan pria yang bahkan baru ku pacari beberapa minggu ini. Sialan !


Rasanya aku mulai jengah, ku coba alihkan perasaanku dengan memesan mie ayam di depanku, Annisa pun ikut memesan. Memang sudah kebiasaanku kalo sedang patah hati aku harus segera makan, karena menerima kenyataan pahit pun juga butuh tenaga.


Annisa yang terpancing emosi, ia tidak tega melihatku patah hati oleh pria yang Iwan kenalkan padaku, akhirnya ia menelpon Risna memarahinya habis-habisan , itulah yang di namakan sahabat. Ketika sahabatnya terluka ia ikut terluka, ketika sahabatnya bahagia ia pun merasakannya. Sungguh, suatu keberuntungan mengenal seorang Annisa, wanita terhebat yang tak pernah sekalipun aku melihatnya menangis di hadapanku.

__ADS_1


__ADS_2