
"Nak ini cuman syukuran kecil, ada Mama di sini? bagaimana bisa kamu bersikap layaknya anak-anak? kamu sudah menjadi seorang ibu, bukan lagi bayi Mama yang manja, Ini hari yang baik untuk bayimu jangan kamu rusak dengan drama yang kamu buat".
Entah apa yang sedang Mama pikirkan, yang pasti ucapan Mama ada benarnya juga. Walau sebenarnya, kesedihan yang ku rasakan tak dapat ku sembunyikan.
Aku segera menghapus air mataku, beranjak pergi dari tempat dudukku, sedang Mama asik mengayun bayi Bintang yang terlelap di pangkuannya.
Acara akan di mulai 30 menit lagi, semua orang berdatangan satu persatu, Mama Doni berdiri tegak di depan pintu menyambut para tamu yang hadir sore hari ini.
Dengan perasaan yang kacau aku segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari berbagai macam kotoran dan debu yang menempel.
"Loh sayang, kok kamu baru mandi. Acara 30 menit lagi loh di mulai".
Doni memperhatikanku, sepertinya ia menyadari, bahwa pikiranku benar-benar sedang kacau. Jelas ini terlalu berlebihan, tapi entahlah semua terjadi begitu saja, atau mungkin aku mulai mengidap baby blues syndrom? penyakit sejenis apa itu? benar-benar merepotkan jika itu memang yang sedang terjadi.
Aku mengabaikannya dan berlalu begitu saja. Entahlah semua orang terlihat begitu membosankan sore hari ini.
__ADS_1
***
Guyuran demi guyuran ku siramkan di atas kepalaku, entah memang cuaca sore hari ini yang sedang dingin atau aku yang terlalu menikmati setiap guyuran air yang ku siram di atas kepalaku.
"Hmmm segar sekali, rasanya aku ingin berlama-lama di kamar mandi". Benakku terus menerus membawa pikiranku melayang sejauh yang ku rasakan.
"Tok tok tok". Seseorang mengetuk pintu kamar mandi.
"Sebentar , aku segera keluar". Ku rasa aku tau siapa sosok yang berdiri tegak di balik pintu kamar mandi. Siapa lagi kalo bukan Doni.
"Waaah, kamu cantik sekali setelah mandi, apa aku boleh masuk?" Doni menggodaku dengan senyuman nakalnya.
"Tidak, yang benar saja ! cepat ambilkan aku baju, di luar sana pasti sudah banyak tamu yang hadir. Bagaimana bisa aku masuk ke kamarku hanya menggunakan sehelai handuk". Ucapku ketus.
"Baik nyonya, ah rasanya aku tak sabar ingin segera malam". Doni berlalu meninggalkanku di kamar mandi sendiri.
__ADS_1
"Memangnya ada apa nanti malam?" Pikirku dalam hati.
"Nih, cepat pakai bajumu. Semua orang sudah menunggumu, acara sudah di mulai". Doni menyodorkan Longdres dan pasmina yang sudah ku siapkan sebelum aku beranjak ke kamar mandi.
"Hei, apa-apan ini. Jelas dia bayiku, kenapa mereka memulai acara tanpa aku? apa aku terlalu lama di kamar mandi? ah yang benar saja !".
Aku mengambil baju yang Doni sodorkan lalu segera memakainya.
Aku keluar dari kamar mandi terlihat ruangan begitu penuh dengan tamu, Doni sudah menungguku di antara kerumunan para tamu, ia menggendong bayi Bintang yang terus terlelap di pangkuannya.
Aku berdiri di samping Mama Doni, aku membiarkan Doni dengan leluasa menggendong bayi Bintang. Doni mengelilingi para tamu yang berdiri dengan menggendong bayi Bintang dan membiarkan tokoh-tokoh masyarakat seperti ustad dan RW memotong rambut bayi Bintang. Sungguh pemandangan yang luar biasa, ada perasaan haru di sana, rasa bahagia dan tak percaya.
Sesekali Doni menatapku dengan senyuman, aku melihat ada kebanggaan dalam dirinya ketika menggendong bayi Bintang, adalah perasaan yang sama yang slalu aku rasakan belakangan ini.
Benar aku merasa bangga ketika aku memiliki bayi.
__ADS_1