
Dua hari telah berlalu, keadaanku mulai pulih. Namun, ketakutan yang berubah menjadi trauma itu masih ku rasakan.
Ku cari ponselku lalu ku nyalakan, deretan pesan dan panggilan masuk ku terima dari Akbar , memang selama dua hari ini aku sengaja mematikan ponselku tujuannya hanya satu aku ingin tenang dan tidak di ganggu oleh siapapun.
Perasaan ku yang begitu enggan untuk menghubunginya, jika mengingat hari kemarin, rasa benci muncul begitu saja di benakku. Bahkan, ketidak peduliannya akan keadaanku membuatku muak.
PING !!!
"Bagaimana keadaanmu? apa kamu baik baik saja?". Beberapa pesan kembali masuk melalui aplikasi BBM beberapa detik yang lalu, ia masih mencoba untuk menghubungiku rupanya.
"Aku baik baik saja" Jawabku singkat, rasa benci perlahan merambat di dinding hatiku, terbesit di pikiranku untuk pergi saja meninggalkannya laki-laki tak berguna yang sudah melepas tanggung jawabnya terhadap calon bayiku.
.
"Bagaimana dengan janinnya?". Biar ku tebak, ia menghubungiku hanya untuk memastikan apakah janinnya sudah keluar atau belum, ia tidak benar-benar peduli padaku.
"Aku sudah membuangnya, ini begitu mudah mungkin Tuhan memberikan kesempatan untuk kita memperbaiki diri". Aku menjawab ketus, menyebalkan sekali. Bahkan dia tidak ada di sampingku ketika aku butuh dia kemarin.
__ADS_1
"Apa masih sakit?". Aku tersenyum sinis membaca pesan yang ia kirimkan padaku. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu dengan mudah?
"Tentu saja, ini sangat sakit bahkan setelah dua hari lamanya. Aku merasa sangat lemah."
Balasku, entah apa yang ia pikirkan selama ini? apakah baginya hidup ini hanya sebatas main-main? jika saja ia berfikir lebih dewasa, bertanggung jawab atas segala sesuatu yang sudah ia lakukan, mungkin aku akan slalu mempertahankannya, bahkan jika ujian berat harus kami lewati sekalipun.
Dan lagi, selain pekerjaan bukankah harga diri seorang laki-laki itu di lihat dari tanggungjawabnya?
.
.
.
'Aku dimana?'
Aku mencoba berjalan menyusuri ruangan tersebut, kini ruangan itu tampak seperti lorong bawah tanah, ku lihat dari kejauhan setitik cahaya masuk, cahaya yang entah datang dari mana yang jelas cahaya itu begitu silau membuatku terpaksa menutup kedua mataku dengan punggung tangan kananku.
__ADS_1
Oek oek
Suara tangisan bayi, suara yang ku dengar dengan samar, suara itu berasal dari cahaya yang memantul ke arah wajahku, ku coba membuka mata, ku ikuti sumber suara tersebut.
Hingga Ku lihat wajah mungil nan lucu seorang bayi, aku berjalan ke arahnya hendak melihat apa yang sedang terjadi, bayi itu menatapku, lalu tersenyum sebelum akhirnya kembali menangis, sesuatu yang membuatku syok air mata yang tadinya bening kini berubah menjadi merah darah, hingga tak lama wajah dan seluruh tubuhnya di penuhi dengan darah, anggota tubuh yang tadinya terlihat utuh kini terlihat hancur, membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri.
"Astaghfirullah, mimpi buruk lagi" Aku tersentak, keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, ku lihat jam menunjukan pukul 00:00 , rupanya aku tadi ketiduran. Jantungku berdegup kencang mengingat mimpi buruk itu.
Memang sejak kejadian itu aku seakan di hantui oleh penyesalan, aku slalu terbangun di jam yang sama yakni 00:00.
Selama satu bulan lamanya aku juga memimpikan hal yang sama, hingga akhirnya membuatku jatuh sakit, kehilangan nafsu makan, dan pikiranku tidak karuan.
Aku menceritakan hal ini pada Putri teman satu kelas ku dulu, dia menyarankan ku untuk berdoa memohon ampun padaNYA , dan mengirim doa pada janin yang aku buang satu bulan lalu.
Aku menuruti saran Putri, aku bersujud di atas sejadah, berdoa dan memohon ampun padaNYA, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku juga membeli beberapa baju bayi, mendoakannya, dan memberikannya pada org yang membutuhkan.
Setelah hari itu aku tidak pernah memimpikan anak itu lagi, hidupku mulai normal seperti biasanya. Aku mulai beraktifitas dan kembali bersosialisasi.
__ADS_1