
Perjalanan hidup yang ku alami membuatku tumbuh menjadi remaja yang matang sebelum waktunya, berkali-kali ku lihat cermin ku pandangi wajah yang dulu begitu lugu, kini berubah menjadi sosok yang sembrawut. Baju daster berwarna biru cerah dengan motif bunga, rambut panjang tak beraturan ku ikat membentuk sebuah sanggul, tubuhku telah rusak di makan usia. Aku yang dulu selalu tampil modis kini berubah drastis menjadi Ibu-Ibu rumahan yang cuek akan penampilan, tubuh kurus krempeng dengan tulang belulang yang menonjol hampir di sekujur tubuh menggambarkan beban yang cukup berat bertubi-tubu ku rasakan.
Pernikahan Akbar sudah selesai di laksanakan, ia sudah menjadi suami sah dari istrinya yang sama sekali tak ku ketahui seperti apa perempuan itu, yang mampu membuat Akbar menikahinya dalam waktu yang sangat dekat.
Satu minggu setelah pernikahan Akbar di gelar, Mama Doni menelpon kami untuk segera pulang, ada hal yang harus di selesaikan mengenai utang piutang yang menjerat Doni dengan mengatas namakan diriku.
Aku dan Doni terpaksa mengikuti kemauan Mamanya untuk segera pulang menemuinya, kakiku terasa berat untuk melangkah, memang sejak ku tau Akbar akan menikah, aku sangat enggan untuk pulang ke rumah . Terlebih ke rumah Doni, bukan hanya karena aku malas berurusan dengan keluarga Doni, tapi juga karena Akbar, Iwan bilang Akbar menikah dengan perempuan yang tinggal di kota tempat Doni tinggal juga, walaupun aku tidak tau apa itu benar atau hanya isu, dan kalopun iya wilayah itu cukup luas , aku tak yakin jika sewaktu-waktu akan bertemu dengannya. Karena aku masih ingat dulu ia pernah bilang padaku jika seandainya kita berjodoh , ia akan memboyongku ke rumahnya. Tentu saja, aku punya keyakinan bahwa sekarangpun istrinya ia boyong juga ke rumahnya. Karena aku tau pasti bagaimana sifat Akbar, ia sangat tegas dan tak suka perintahnya di tolak.
__ADS_1
Dengan keadaan bayiku yang masih berusia tiga bulan, aku nekad pulang menggunakan sepeda motor. Padahal Mamaku sudah mewanti-wanti agar jangan terlalu sering pulang apalagi menggunakan sepeda motor.
Dengan persiapan yang lumayan merepotkan, ketika memiliki bayi, ada banyak hal yang tidak terlalu penting namun memang wajib untuk di bawa. Alhasil sepeda motor yang akan kita kendarai sudah seperti rumah kedua bagi kami.
***
"Gimana? betah di sana?" Tanya Mama Doni kepadaku , seraya menyodorkan satu gelas air putih di hadapanku.
__ADS_1
"Betah banget Ma, tetangganya juga pada baik" Jawabku sambil mengambil air putih yang ia sodorkan.
"Ya jelaslah aku betah, orang rumah tanggaku juga gada yang ngusik" Pikirku dalam hati.
"Kring" Satu pesan masuk melalui aplikasi Watsapp.
"Teh, si Ade mau nikah besok ! Teteh dimana? besok harus ke sini ya, Ateu gada yang bantuin" . Tanteu ku tiba-tiba mengirim pesan yang membuatku kaget setengah mati. Pantas saja aku malas sekali pulang ternyata ada kabar yang kurang mengenakan yang harus ku terima.
__ADS_1
"Yah.. Ayah" Aku memanggil Doni suamiku yang sedang menggendong Bayi Bintang.