Pena Hitam

Pena Hitam
13


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu,hari-hari ku lalui dengan begitu indah. Sejauh ini tidak ada yang berubah dari Akbar . Setiap hari kami slalu menyempatkan waktu untuk bertemu, entah hanya sekedar mengantar jemputku ke sekolah atau bermain bersama menikmati senja dengan hanya berjalan-jalan di dekat Danau yang biasa aku dan Akbar kunjungi.


Hingga tiba saatnya kenaikan kelas, semua siswa begitu berantusias untuk belajar, tidak terkecuali aku. Terlebih setelah wali kelasku Bu Tuti mengundang orang tuaku untuk hadir ke sekolah, tidak hanya aku tapi juga murid lainnya yang bermasalah dengan nilai dan kehadiran.


Mama menatapku dengan tajam sebelum ia masuk ke ruang yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah. Sedangkan aku, hanya menunggunya di depan ruangan itu, duduk manis berharap mendapat kabar baik. Butuh waktu lebih dari satu jam lamanya mama di ruang rapat, bersama dengan wali kelas, kesiswaan dan juga kepala sekolah. Entah apa saja yang mereka bahas, yang jelas aku tidak dapat mendengarnya sama sekali.


Setelah selesai, mama keluar dari ruangan itu, langkahnya sedikit gontai. Dari raut wajahnya kulihat ada banyak kekecewaan juga amarah yang berusaha ia pendam.


"Apa yang terjadi ma?'' Tanyaku yang mulai penasaran sekaligus takut,di lihat dari ekspresinya sudah pasti di rumah ia akan mengomel tanpa henti .

__ADS_1


"Kamu naik kelas percobaan" Mama berlalu meninggalkanku seorang diri.


Untuk yang pertama kalinya, rasanya aku ingin menangis. Terbayang jika aku harus tinggal kelas, pastinya aku harus mengulang satu tahun belajar dengan adik kelasku kelak. Tentu itu bukan hal yang bagus, sejenak aku tersadar, ketika penyesalan nampak di hatiku, jika saja aku bersungguh-sungguh untuk belajar, mungkin tidak akan terjadi hal-hal mengejutkan seperti ini.


Sepulang sekolah aku berjalan seorang diri, Annisa tidak masuk hari ini karena sakit, lalu Akbar? dimana dia? bahkan aku tidak tau dimana dia sekarang, ponselnya tidak aktif, akun social medianya pun menghilang entah kemana. Bahkan di saat aku merasakan kesedihan dia tak ada di sampingku, untuk sekedar menghibur atau menemani kegundahanku.


Rasanya aku tak berani menunjukan wajahku di hadapan Mama, aku duduk termenung memikirkan keadaanku saat ini, benar-benar terasa menyedihkan.


CKIIIITTT DUARR

__ADS_1


Suara yang sangat keras itu timbul dari decitan ban yang bergesekan langsung dengan aspal, lalu di susul dengan  benda keras yang bertabrakan, suara bising itu repleks membuatku menoleh ke arah sumber suara.


"Astaga Akbar, Itu Akbar.. Ya Tuhan, itu darah.."


Seketika semua orang mengerumuninya, remaja laki-laki mengenakan seragam putih abu tergeletak di tengah jalan. Aku hendak berlari ke tengah jalan, tapi kakiku terasa sangat berat, jantungku memompa aliran darah dengan tak beraturan, kepalaku terasa pusing dan perutku sangat mual. Syukurlah, ia telah di bopong oleh orang-orang yang membantunya di sekitar tempat kejadian.


Mereka membawa Akbar masuk ke dalam angkot yang ia tabrak, lalu segera di bawa pergi ke rumah sakit terdekat. Rupanya, ia menenggak alcohol terlalu banyak, membuatnya kehilangan keseimbangan hingga akhirnya menabrak angkot yang sedang menurunkan penumpang. Beruntung ia tidak terluka parah, hanya lecet di beberapa tempat dan sobekan di kaki kirinya yang mengharuskannya melakukan operasi kecil.


Aku masih berdiri di tempatku termenung, menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang membantunya, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ku lihat, keringat dingin membasahi tubuhku, ingin sekali aku menemuinya, membantunya berdiri dan merawatnya. Tapi, ketakutanku terhadap darah membuatku tak berdaya aku hanya dapat menyaksikannya dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2