
Akan ada banyak hal terjadi di dalam sebuah pernikahan yang awalnya terasa sangat manis, namun menyatukan perbedaan dua individu yang baru tinggal bersama harus di barengi dengan komitmen yang tulus, bukan ego yang sama-sama berlomba ingin menjadi pemenang.
Ada banyak perbedaan yang harus di satukan di tahun pertama pernikahan yang mengundang banyaknya konflik antara aku dan Doni.
Lima bulan usia pernikahan rupanya cukup menguras air mata, belum lagi masa dimana aku sangat bersemangat mengakhiri hidup. Luka yang cukup dalam yang membuat hidupku menjadi lebih sensitif dalam berbagai hal.
Aku yang tak pernah siap untuk menikah, di usiaku yang masih cukup muda, dimana saat teman-temanku duduk di bangku kuliah, menikmati berbagai macam kegiatan kampus, nongkrong di cafe-cafe dan masih banyak lagi, sedang aku harus berhadapan dengan satu masalah yang cukup serius, tak hanya menyatukan dua karakter, dua keluarga juga mendidik anak. Anak yang harus di besarkan dengan sangat baik, bagaimana aku akan membesarkan anakku tanpa ilmu dan pengetahuan di dalamnya.
Takdir yang sudah Tuhan gariskan rupanya telah membuatku dilema, akan seperti apa masa depan anakku kelak di tangan ibu muda yang bahkan emosinya masih naik turun.
__ADS_1
Jangankan untuk mendidik anak, keluarga suamiku saja bahkan tidak menyukaiku, kegagalan yang bertubi-tubi membuat hidupku cukup berantakan.
Aku berjalan menyusuri jalan raya yang sepi, rumah Doni terletak tepat di pinggir jalan utama, tidak ada kendaraan umum masuk ke daerah sini selain tukang ojek yang berlalu lalang mencari penumpang.
Sedang usia bayi Bintang sudah memasuki tiga bulan, kini beratnya sudah mencapai 5kg, untuk ukuran badanku yang pendek dan kurus menggendongnya terlalu lama rasanya cukup berat dan pegal.
Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, seseorang menawarkan tumpangannya. Seorang pria mengenakan switer Hoody berwarna hitam dengan kupluk menutupi kepalanya.
"Hah Farid?" Aku menatapnya dengan tatapan yang cukup tajam, sosok Farid jelas mengingatkanku pada Akbar, mereka berdua adalah teman yang sangat dekat. Aku tau betul bagaimana Farid memperlakukan Akbar begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
Aku baru mengingat satu hal jika rumah Farid tak jauh dari rumah Doni, bahkan di awal pernikahan Mama Doni pernah bercerita jika ia dan keluarga besar Farid masih memiliki ikatan keluarga.
"Ra, kamu ngapain di sini? ayo naik aku akan mengantarmu". Farid memandangku dengan tatapan heran, memang pernikahan aku dan Doni di laksanakan secara sembunyi-sembunyi, maka tak heran jika semua orang yang mengenalku akan tampak kebingungan saat melihatku membawa seorang bayi.
Tak terasa aku berjalan cukup jauh hingga hampir setengahnya, karena kelelahan aku menerima tawaran Farid dengan tanpa pikir panjang aku menaiki motor miliknya, sepanjang jalan aku hanya diam tak sedikitpun aku berani bersuara.
"Itu anak siapa?" Farid membuka obrolan dengan mengajukan satu pertanyaan.
"Ini anakku ! nanti turunkan aku di perempatan saja" Jawabku agak sedikit ketus. Jauh di dalam hatiku, aku merasa bersalah karena sudah menunjukan sikap jutek pada Farid, tapi di sisi lain Aku tidak ingin Farid memberikan pertanyaan yang lebih jauh lagi.
__ADS_1
15 menit perjalanan yang cukup membuatku sedikit canggung dan tak enak. Entah kenapa aku merasa sangat malu berhadapan dengan Farid.