Pena Hitam

Pena Hitam
32


__ADS_3

Setelah kabar terakhir di hari itu, ia tak kunjung datang atau sekedar menghubungiku lagi, ia menghilang bagai di telan bumi.


Hati kecilku mengatakan bahwa kita harus mengakhiri hubungan ini, seperti halnya dia yang pergi begitu saja, tak lagi ku harapkan kesungguhan atau sekedar menunggu kepastian darinya.


Ku tata hidupku yang baru, biarlah hari kemarin menjadi sejarah kelam dalam hidupku,aku mengganti nomor ponselku dan menutup semua sosial mediaku, bahkan juga hatiku. Babak baru dalam hidupku telah di mulai. Ku pikir dengan memulai hidup baru tanpa dia dan belajar melupakan masa kelamku bersamanya akan jauh lebih baik untuk masa depan kita berdua.


Menghapus semua ingatan tentangnya, tentu saja bukan hal yang mudah, aku merasakan jatuh bangun ketika berusaha keras untuk melupakannya. Bagaimana tidak 4 tahun lamanya kami bersama, merajut kasih dengan berbagai macam konflik yang kami hadapi bersama, kini harus berakhir begitu saja .


Tidak, bukan dia yang slalu ku rindukan, hanya saja begitu banyak kenangan yang ia berikan padaku, yang membuatku sulit membuka hati untuk orang lain.


Seperti hari itu, hari dimana kami masih mengenakan seragam putih abu. Kami bolos sekolah bersama alasannya hanya karena jadwal guru killer yang mengisi kelas. Kami duduk bersama di sebuah kursi panjang yang cukup teduh bersama barisan pohon dengan daun yang lebat tepat di atas kepala kami menghalangi panasnya sinar matahari .


"Jika aku menikah nanti, aku mau mengenakan gaun berwarna ungu tua dengan beberapa hiasan di kepala lalu high heels yang senada dengan gaun" Ku sandarkan kepalaku di bahu sebelah kanannya.


"Siapa pengantin prianya?" Pertanyaannya sontak membuat ku sedikit kesal , ku angkat kepalaku dan mulai menatap wajahnya dengan cemberut.

__ADS_1


"Menurutmu siapa? Ya kamu lah ! Aku tidak mau menikah dengan pria manapun selain kamu, kecuali pria itu mirip kamu" Aku memalingkan muka dan kembali menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Hahaha, lalu?" Ia tertawa melihat ekpresi ku yang terlanjur memasang wajah kesal.


"Terus, aku mau anak kita kembar. Laki-laki dan perempuan ! Kalo perempuan aku akan memberinya nama Bintang, ya Bintang ! Nama yang cantik sama sepertiku"


"Kalo laki-laki? Jojon? Hahaha" Ia kembali tertawa, entah apa yang ia pikirkan saat itu. Aku hanya melotot ke arahnya, lalu ku cubit perutnya.


"Aw.  Sakit tau ! Oke kalo laki-laki biar ku tebak ?! Cahaya !" Ia meringis kesakitan, tapi kemudian wajahnya terlihat mulai serius.


"Sama seperti Bintang, jika Bintang bercahaya di malam hari. Maka Cahaya adalah salah satu sumber kebutuhan manusia, aku hanya ingin anakku kelak seperti lilin yang memberikan cahaya kepada siapa saja yang berada di sekelilingnya" Jawab Akbar mantap.


"Tapikan lilin bisa mati?" Jawabku tak mau kalah.


"Kalo harus mati untuk menerangi orang lain, kenapa tidak?"

__ADS_1


Kali ini aku membisu tak dapat mendebatnya lagi rupanya. Ia terlihat acuh dan tak peduli, tapi di balik sifatnya yang cuek ia memiliki satu sisi dimana terkadang setiap kalimat yang ia ucapkan di luar dari dugaan.


"Baiklah, Cahaya dan Bintang satu lagi Jojon hahaha" Kami tertawa bersamaan.


Huft


Ku hela nafas panjang dengan kasar, aku merindukannya, sangat merindukannya. Tapi, waktu terus berjalan dan kami sudah memiliki jalan hidup masing-masing.


Hari hariku terasa hancur, hati dan pikiranku slalu tertuju padanya.


Aku tau ini salah ketika tiba-tiba memutuskan untuk pergi darinya, bukan. Maksudku ia yang meninggalkanku atau mungkin lebih tepatnya kami yang sama-sama saling menghindar.


Aku yang begitu bodoh atau ia yang sama bodohnya denganku, membiarkanku pergi dengan rasa bersalah, tidak berusaha mengejar atau mempertahankan hubungan yang sudah kita jalani lebih dari tiga tahun ini.


Apa arti hubungan kita sejauh ini? Kenapa begitu mudah untuknya melupakan smua yang sudah terjadi sejauh ini? .

__ADS_1


__ADS_2