Pena Hitam

Pena Hitam
6


__ADS_3

Seperti kata Ariel Peterpan "Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi" sepulang sekolah acara rutin aku dan Annisa adalah nongkrong di Warung Abah dan sudah pasti bawa pasangan masing-masing , tapi hari ini Cepi sibuk mengurus apa-apa saja yang di perlukan untuk PKL, usia Cepi lebih tua dua tahun di atasku, jadi saat ini dia duduk di bangku SMK kelas 3.


" Ra'' Pria berkulit sawo matang dengan mengenakan seragam putih abu bernama lengkap Aldiansyah Irwan memanggilku, pria yang biasa di sapa Iwan itu adalah pacar Annisa. Mereka sudah berpacaran kurang lebih satu tahun. Ya, satu tahun sejak Annisa duduk di bangku SMP atau MTs kelas 3.


" Euy, naon Wan? (Eh, kamu Wan?).. Baru dateng?" Ku tatap Iwan yang berdiri tepat di depanku dengan wajah datar, sambil sesekali ku mainkan ponsel milikku. Aku cukup dekat dengan Iwan, Annisa lah yang mengenalkannya padaku satu tahun lalu.


'' Iya nih, Si Berbi kesayangan Iwan mana ? ko kamu sendirian aja, pacar kamu mana?'' Ia duduk di sampingku, tangannya meraba saku celana abu miliknya mencari sebungkus rokok dan korek yang selalu ia bawa.


''Ada tuh di dalam, lagi pesan mie. Pacar aku ngga ada lagi persiapan PKL jadi dia ngga ke sini deh''. Aku menundukan kepala untuk memutar beranda Facebook memberi like pada status mereka yang lewat di berandaku.


" Eh Ra , kamu tau ngga temen aku yang pernah ku bawa ke sini waktu itu?" Iwan memandangku yang sedang asik memainkan ponsel mi*o kesayanganku.


"Nu mana? (yang mana?) temen kamu kan banyak ! " Aku kembali mengangkat kepalaku, merasa penasaran dengan apa yang sedang Iwan tuturkan.


" Yang waktu itu nganterin kamu pulang, tah ieu ( nah ini) ". Ia memperlihatkan satu gambar , pria yang sangat dekat dengannya. Mereka berteman cukup lama sejak pertama masuk SMA hingga sekarang.

__ADS_1


" Oh itu, iya aku inget ! kunaon kitu? ( kenapa gitu?) jangan bilang kamu mau jodohin aku sama dia?" Aku menjawab Iwan dengan ketus, aku memang cuek jika membicarakan pria, bahkan jika orang lain berkata pria itu sangat tampan, bagiku itu hal yang biasa saja.


Sifat dingin dan cuek inilah yang membuat para pria memiliki pandangan berbeda terhadapku, mereka berfikir aku sombong dan Arogan. Namun, kenyataannya aku tak pandai bergaul bahkan sangat sulit untukku berinteraksi dengan orang baru.


" Haha, ko kamu pinter sih?" Iwan tertawa geli melihat tingkahku yang terlihat badmood.


" Lah iyey kan udah biasa jodoh-jodohin ekeu sama temen-temen iyey" Aku menatapnya sinis, sebenarnya aku tidak peduli terhadap apa yang Iwan coba katakan padaku.


" Ieu mah hiji beda Ra (Yang ini beda Ra) , aku sih yakin kamu bakal nyaman sama dia. Percaya ka Iwan, Iwan ngga pernah jerumusin kamu ko, kita juga dah kenal lama" Ia menyalakan bensin membakar ujung rokok yang ia simpan di mulutnya lalu perlahan menyedot rokok tersebut.


Seperti hari itu, ia mengenalkanku pada si Joni, pria yang luar biasa Lebaynya, terlalu lama dekat dengannya membuatku risih walaupun aku sempat memacarinya. Lebih tepatnya terpaksa memacarinya. Sayangnya, ia tak mudah menyerah bahkan hingga saat ini ia masih sering menghubungiku.


''Awas aja kalo kelakuannya Lebay macam si Joni itu''. Tatapanku kembali mengarah ke layar Hanphone.


"Hahaha si Joni, kamu masih komunikasi sama dia? eh tapi dia belum punya pacar loh sampe sekarang, katanya dia masih ngarepin kamu" Iwan tertawa keras.

__ADS_1


"Bodo amat, dasar Pak Comblang"


"Haha mak comblang kali" Iwan tak mau kalah.


"Ra, Ra.. Mau sampe kapan nungguin si Rudi yang ga jelas itu" Si Iwan mulai menampakan wajahnya yang serius.


Rudi sosok pria yang pernah ku pacari ketika duduk di bangku MTS kelas 2, cinta pertamaku sekaligus satu-satunya pria yang masih menjadi pemilik hatiku, ia juga alasan kenapa aku menjadi Naura yang bebas.


"Terus si Cepi yang super baik itu gimana? kalo ga suka kenapa di pacarin? kalo masih ngarepin si Rudi mending lepasin aja tuh si Cepi, biar dia cari cewek yang lebih baik" Annisa datang membawa dua mangkuk mie.


"Teuing ah teu nyaho (Entahlah, aku juga gatau).." Jawabku, sambil mengambil semangkuk mie yang Annisa sodorkan.


Memang sejak putus sama si Rudi seakan semua laki-laki brengsek, padahal kenyataannya aku yang mulai duluan dengan berselingkuh di belakangnya.


Mungkin bukti dari sebuah penyesalan lah yang membuatku telah banyak berubah, sayangnya bukan menjadi lebih baik malah semakin buruk.

__ADS_1


Bahkan ketika aku menerima si Joni sebagai pacarku, itu tak lebih hanya untuk memanas-manasi si Rudi, tapi ia telah berubah sudah banyak wanita di sampingnya, membuatku kesal hingga akhirnya aku memutuskan hubunganku dengan si Joni yang lebay itu , lalu setelah itu Joni memusuhi si Rudi, menganggap Rudi penghancur hubungan ku dengannya.


__ADS_2