
"Aku slalu menemanimu, bahkan ketika aku ingin belajar aku tetap memilih untuk menemanimu ! untuk kali ini saja , temani aku" Satu pesan ku kirim pada nomor yang tertera di ponselku, pemilik nomor dengan nickname "YOU".
Rasanya dulu aku begitu lebay, mengagungkan namanya seolah ialah satu-satunya orang yang terpenting dalam hidupku. hehe
Tring
Sebuah laporan masuk tanda pesan telah di terima.
Tidak ada balasan pesan dari Akbar, tapi aku cukup yakin dia akan datang mengingat sudah beberapa malam ini kami bertengkar mempermasalahkan masalah yang sama yakni Risna Berlynda, seorang perempuan yang menjadi duri dalam hubunganku dan Akbar dengan mengaku-ngaku sebagai pacar Akbar, atau mereka memang ada hubungan yang spesial di belakangku, ah entahlah pikiranku merusak sistem kerja otak sarafku, memikirkan nya saja membuat kepalaku penat.
Meski sudah ia jelaskan dan berkali-kali meminta maaf , rasanya tetap menyakitkan. Dan memaafkannya sangat sulit sekali di lakukan. Meski begitu, rasa sayangku terhadap Akbar telah mengalahkan rasa kecewa ku terhadap nya.
Hanya butuh waktu 20 menit untuk kemudian Akbar sampai di tempatku menunggu. Yakni pertigaan yang tak begitu jauh dari rumahku.
Jaman dulu kami menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi, tidak seperti anak jaman sekarang yang terang-terangan membawa pacarnya ke rumah.
Dulu aku sangat takut jika kepergok punya pacar, Babe akan marah dan biasanya ia mengurungku di kamar, tidak di perbolehkan untuk bertemu teman-teman ku, bahkan untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
Menurut dia punya pacar di masa sekolah itu bukan hal yang bagus, bisa merusak konsentrasi, membuat nilai menurun, bahkan merusak masa depan.
Tanpa di suruh lagi aku langsung naik ke atas motornya, dan lagi kami berjalan tanpa tau kemana arah dan tujuan karena yang terpenting hari ini menghabiskan waktu bersama.
"Ada hubungan apa kamu sama dia?"
Dengan menahan perasaan jengkel dan cemburu yang hampir membuat otakku meledak aku memberanikan diri untuk bertanya, meski aku tau pasti jawaban yang akan ia berikan akan sangat menyakitkan perasaanku.
"Risna?" Jawabnya, balik bertanya membuatku semakin kesal, jika saja pria yang ada di hadapanku adalah ayam goreng, sudah habis ku makan dia.
"Memangnya siapa lagi?"
"Kamu cantik kalo lagi cemburu" Dengan mengendarai sepeda motor MX berwarna merah kesayangannya, ia terlihat sangat tenang bahkan mungkin sedang tersenyum meledekku.
"Hei, siapa yang cemburu? kamu pikir aku peduli?" Masih dengan nada tinggi dan sikap arogan juga berusaha menjaga image, sayangnya amarahku terdengar lucu di telinganya.
"Kalo tidak peduli kamu tidak akan memarahiku seperti ini, hehe . Aku tau kamu sangat menyayangiku, makasi loh udah cemburu" Ia tertawa geli melihat ekspresi wajahku di kaca spion motor miliknya.
__ADS_1
Aku terdiam beberapa saat, ku hela nafas panjang, mencoba mengatur amarah yang kian memuncak.
"Risna itu mantan..."
"Kok mantan ngakunya pacar" Aku memotong ucapannya, masih dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Dengerin dulu, baru komentar"
Aku terdiam dengan mulut yang seperti Bebek, manyun dan tanpa ekspresi.
"Gamau denger" Aku menutup kedua telingaku, entahlah mungkin terlihat kekanak-kanakan, tapi begitulah sikapku terhadap Akbar, manja dan menyebalkan.
"Ya udah" Akbar mulai kesal, ia tak melanjutkan ucapannya.
"Ya udah apa? lanjutin dong , kenapa diem? beneran pacar kamu ya" Ku lihat ekspresi wajahnya yang mulai serba salah, tapi ia tetap diam bersabar dengan sikapku yang mulai rese.
"Gini loh yang.. Dulu aku emang pacaran sama dia, tapi dianya selingkuh. Ya aku pikir hubungan kita udah selesai, toh buktinya ia tetap jalan sama cowok itu. Akhirnya aku minta tolong Iwan buat deketin aku sama kamu, ya aku emang udah suka sama kamu dari sejak Iwan minta tolong aku buat anterin kamu pulang" Ia menjelaskan inti permasalahannya dengan sabar, padahal ia mulai kesal karena sikapku.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu ngejadiin aku pelampiasan? jadi waktu itu kamu udah punya pacar? gitu ya ternyata? tega kamu bohongin aku ya?" Amarahku semakin menjadi membuat ia kikuk sekaligus bingung.
"Bukan gitu maksudnya, tau ah intinya aku minta maaf kalo udah bikin kamu kesel" Itulah yang aku suka darinya, ia sabar dan pengertian. Walaupun aku tak merasa yakin dengan apa yang baru saja ia jelaskan. Aku hanya berfikir, mungkin ini sebuah karma, dimana aku telah menduakan Cepi waktu itu.