Pena Hitam

Pena Hitam
20


__ADS_3

Sudah satu minggu lamanya aku bekerja, atas rekomendasi dari Reno, dengan mudah aku dapat bekerja di tempat ini , pekerjaanku cukup ringan hanya menjaga tiket masuk dan barang titipan Customer saja. Lalu sisanya membuat laporan pemasukan dan pengeluaran, terkadang turun di lapangan untuk membantu rekan-rekan ku menjual peluru pistol untuk bermain paintball.


Sedang Farin, dia tidak bekerja kehidupannya di tanggung oleh Reno, meskipun Reno seorang Mahasiswa tingkat akhir tapi ia memiliki orang tua yang kaya , sehingga ia tidak kesulitan dalam mengelola keuangan.


Setiap hari Reno mengunjungi Farin, ia akan datang ketika aku sedang bekerja, lalu pulang ketika larut malam.


Sama sekali tidak membuatku terganggu, karena Reno juga cukup menyenangkan, ia juga sangat dewasa, baik dan pengertian. Melihatnya mengingatkan ku pada Alfa kakak ketigaku, mungkin usia mereka juga tak begitu jauh.


Suara alarm telah berbunyi, ku lihat jarum jam sudah mengarah ke angka 5 lewat 3 menit, sudah masuk waktu sholat subuh, aku segera bangun dan bergegas ke kamar mandi lalu secepatnya menunaikan ibadah sholat subuh.


Selesai sholat ku buka ponsel, deretan pesan telah masuk ke aplikasi Twitter milikku, di masa itu Twitter adalah aplikasi yang sangat populer , yakni tempat nongkrong online paling ngehits kedua setelah BlackBerry Messenger atau BBM.


" Apa kabar ?" Satu pesan masuk mucul di feeds yang di kirim oleh pemilik akun "@Akbar_95" beberapa detik yang lalu.

__ADS_1


" Baik" Jawabku singkat.


Aku tidak mengenal siapa pemilik akun tersebut, tapi karena merasa penasaran sekaligus ingin memastikan jika ia bukan pria yang pernah ku pacari ketika duduk di bangku MA dulu.


"Long time no see , i miss you" Ia kembali membalas pesan yang ku jawab singkat itu, dengan emot menangis di akhir kalimat.


Ternyata pria itu, ia benar-benar kembali. Bahagia benar-benar ku rasakan, jika kau melihatku pagi itu mungkin kau akan merasa risih, bagaimana tidak aku berjingkrak sambil sesekali berteriak lalu tertawa, ku acak-acak semua yang ada di atas kasurku, ku lempar semua boneka ke sembarang arah. Bukan marah, kecewa atau sedih, aku hanya merasa sangat bahagia, ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padanya. Akhirnya kami saling bertukar nomor hanphone dan juga pin BBM.


PING


Satu pesan telah masuk.


" Kemana saja kamu selama ini ?"

__ADS_1


" Ada, maaf untuk yang kemarin, aku tau aku salah".


" Tidak apa-apa, sudah ku maafkan, lagi pula aku sudah melupakannya, bagaimana hubunganmu dengan Annisa?" Pertanyaan yang hanya sebuah basa-basi belaka, jujur aku tak berminat untuk mengetahuinya. Terlalu menyakitkan untuk di ingat kembali, apalagi jika ku tau kebenarannya, jantungku serasa berhenti seketika.


" Aku sudah tidak bersamanya" Mendengar jawabannya yang seperti itu, membuatku cukup lega.


" Kenapa?"


" Entahlah, mungkin kita sudah sama-sama tidak cocok, lagi pula kau tidak pernah berubah slalu menjadi yang terindah dalam hidupku"


"Kau tau? selama ini aku sendirian , pernah beberapa kali dekat dengan laki-laki lain, tapi semuanya gagal, aku tidak bisa mencintai siapapun selain kamu"


Memang benar, ia slalu menjadi yang terindah dalam hidupku, harapanku berlabuh padanya, terlalu banyak kenangan yang kita buat dulu. Entah sebuah kebodohan atau ketulusan yang jelas aku mencintainya, selalu mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2