Pena Hitam

Pena Hitam
62


__ADS_3

Senyum tulus yang merekah dari mulut mungilnya, membuatku lupa akan banyak hal, malaikat kecilku yang paling cantik, ia mahkluk tercantik di bumi setelah Mama, yang slalu membuatku kuat dalam menjalani kehidupan yang fana ini.


"Aaaaa aaaaaaaaa wawawawa" Suara merdu nan indah ciptaan-NYa mewarnai pagi yang terasa sangat dingin ini.


Kedua tangan mungilnya memegang selimbut mini bergambar Teddy Bear berwarna merah maroon miliknya, ia naikkan selimbut itu hingga menutupi seluruh wajah dan tubuhnya, lalu membuka selimbut itu dan menurunkannya mengajakku bermain ciluk baa.


"Ciluuuk baaaaaaaaa. Sayang ibu sudah bangun, uluhh. Mau ke tempat Ayah iyaaa". Aku menggendongnya, senyum itu kini semakin merekah, ia seakan memahami apa yang baru saja di katakan Ibunya.


Ya Tuhan, seperti inikah kebahagiaan menjadi seorang ibu, merugilah bagi mereka yang membuang bayi-bayi mereka, mereka yang membunuh malaikat kecil tak berdosa, mereka tidak tau betapa bahagianya memiliki seorang bayi. Untuk sesaat bebanku menghilang, senyumannya yang tulus itu seakan membuatku lupa akan kesedihan, luka dan air mata.

__ADS_1


Mama sibuk mempersiapkan diri untuk keberangkatan kita pagi ini, Babe mengurus burung-burung Merpati kesayangannya, sedangkan aku sibuk mengurus bayi Bintang, ia harus segera ku mandikan. Sedangkan Doni, ia tidak bisa menjemputku karena harus bekerja pagi ini.


Jadwal keberangkatan Kereta Api tepat pukul 09.00 WIB. Setelah semua siap, Babe mengantarkan kita semua ke station kereta Api. Waktu sudah menunjukan pukul 08.30 WIB. Station cukup ramai, banyak orang berlalu lalang melakukan aktifitasnya pagi ini.


Keretaku segera tiba, aku dan Mama berdiri dengan kedua tas besar di tangan Mama, sedang aku menggendong bayiku dengan satu jinjingan besar di tangan kananku. Aku mencium punggung tangan Bab e, lambaian tangan yang mulai berkeriput itu seolah mengatakan selamat jalan.


Ia melempar senyuman kesedihan, aku tau ia merasa kehilangan, karakter Babe memang keras dan tegas tapi aku tau pasti jauh di lubuk hatinya ia sangat mencintaiku melebihi dirinya sendiri. Sejak kejadian itu, hubunganku dan Babe memang sedikit renggang, kita jarang berbicara satu sama lain. Tidak seperti dulu begitu dekat dan hangat. Aku merasa sangat bersalah padanya, melukainya dengan sangat dalam. Padahal ia tidak pernah meminta apapun dariku selain harapan yang slalu ia gantungkan, ia slalu berdoa agar anak-anaknya hidup dengan keberhasilan.


"Dimana rumahnya? pundakku rasanya hampir patah, menggendongnya berjam-jam membuat tubuhku lemas"

__ADS_1


"Itu dia rumahnya, bersabarlah sedikit lagi sampai"


"Oh ya, aku belum memberitahu Mamamu kita pindahan. Aku tak yakin untuk memberitahunya, apapun yang ku lakukan ia tidak akan menyukainya".


"Kamu itu kenapa, selalu berfikir buruk akan keluargaku?" Doni tersinggung, ia sedikit meninggikan suaranya.


"Kenyataannya seperti itu, ah sial sekali bahkan kita slalu memperdebatkan mereka. Dan pelankan suaramu, nanti Mama dengar". Balasku yang mulai agak kesal.


"Ini rumahnya, kecil dan sempit sih. Mudah-mudahan kamu betah tinggal di sini. Doain aku biar secepatnya kita beli rumah" Doni membuka pintu rumah yang terkunci.

__ADS_1


Rumah yang berukuran mini, terdiri dari satu kamar, ruang tengah dapur dan kamar mandi. Lebih tepatnya seperti koskosan, sedikit kumuh ,berdebu dan agak gelap. Mungkin rumah ini sudah lama tak di tinggali oleh pemilik nya.


__ADS_2