
Entah sudah bulan keberapa hidupku berjalan tanpa sosok Akbar, ia menghilang bak di telan bumi. Tak pernah sekalipun ku dengar kabar tentang nya, bahkan anggota keluarganya seakan tak peduli. Mungkin ini adalah sebuah perpisahan yang sesungguhnya, jalan takdir yang telah Tuhan tetapkan untuk aku dan juga Akbar.
Rasa sepi dan kosong telah tergantikan dengan keramaian yang di ciptakan oleh teman-temanku, mereka begitu menghibur bahkan perlahan rasaku terhadap Akbar mulai memudar, meski otakku tak pernah berhenti untuk slalu memikirkannya.
Aku ingat dalam kesakitanku, ku sebut namanya dalam doa, aku meminta kekuatan agar secepatnya dapat melupakannya, lalu setelah ia harus datang kembali dalam keadaan dan suasana yang berbeda, suasana dimana tak ada lagi luka dan air mata dan hidup hanyalah tentang kebahagiaan, bahagia yang nyata, berdampingan dengan ia yang tulus mencintaku tanpa melepas sedikitpun tanggung jawab nya terhadapku nantinya.
Dalam ruangan sepi dan gelap aku termenung beberapa saat, ku edarkan pandanganku pada langit-langit kamar, ku lihat Riani sedang terlelap, sedangkan teman-teman ku yang lainnya bekerja sift malam.
Ku mainkan game online favorit ku dengan cover Cony dan Brown, yakni Line Getrich yang ternyata cukup hits di kalangan para remaja, game yang menurutku seru untuk mengusir perasaan jenuh dan sepi yang terkadang hinggap di dadaku dengan tiba-tiba.
KRING KRING
__ADS_1
Suara ponsel berbunyi memecah keheningan, ku cari sumber suara , ku raba sekitar kepalaku.
Ku temukan ponsel hitam dengan wallpaper Zombie yang tertera pada layarnya.
Rupanya itu adalah ponsel Putri, memangnya siapa lagi di antara teman-teman ku yang menyukai Zombie selain Putri, ponselnya tertinggal, mungkin karena tadi ia terburu-buru.
Ku tatap layar ponsel yang mulai terlihat gelap, karena telpon yang tadi sempat berdering tiba-tiba saja terputus. Ia tak mengunci ponsel seperti biasanya, aneh sekali. Tapi aku jadi kasian pasti sekarang ia sedang panik mencari-cari dimana ponselnya berada.
KRING KRING
" Ya hallo.." Ku angkat ponsel lalu ku letakan di telinga kiriku. Setelah sebelumnya ku tekan tombol bergambar gagang telpon dengan warna hijau menyala di layar ponsel itu.
__ADS_1
"Hi, Put. Kok BBM gak di balas?" Tanya nya singkat, dan benar saja ia adalah seorang pria, mungkin teman atau pacar Putri aku juga tidak tidak terlalu memperdulikannya.
"Oh maaf, ponselnya tertinggal di kosan, saya temannya Putri" Jawabku dengan berhati-hati, aku takut di kira tidak sopan karena telah mengangkat telpon milik orang lain tanpa sepengetahuan si empunya.
"Oh begitu rupanya, baik. Maaf saya sudah mengganggu kamu malam-malam"Jawabnya lembut. Ia dengan segera mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban dariku.
"Dasar cowok gila.."Umpatku yang mulai kesal karena ia mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban dariku dulu, padahalkan biasanya aku yang seperti itu.
"Siapa sih? kok dia ga pernah cerita, pacar barunya apa yaa?" Aku mulai menerka-nerka, rasa penasaran menyeruak di dalam pikiranku.
Biasanya ia slalu menceritakan siapapun yang dekat dengannya, mau itu pacar, teman atau siapapun . Tapi kali ini ia tidak menceritakan orang itu padaku? dia siapa?
__ADS_1