Pena Hitam

Pena Hitam
75


__ADS_3

Hari sudah mulai sore. Rasa lelah, kantuk dan lapar sudah ku rasakan sejak tadi. Aku duduk di kursi yang terbuat dari Besi di bawah sebuah pohon yang rindang. Ku pandangi Matahari terbenam hingga


hilang dari Cakrawala.


Seseorang menghampiriku dengan senyuman tipis di wajahnya "Boleh Saya duduk di sini?" Wanita separuh baya dengan usia kira-kira 45 tahun , ia menggunakan baju senam berwarna merah dengan corak putih, kepalanya di lilit kerudung yang sedikit berantakan. Ia berdiri tepat di sampingku.


"Silahkan Bu" Aku membalas senyumannya, ku geser tubuhku ke samping kanan, lalu membiarkannya duduk di sampingku.


"Melihat Matahari terbenam di sebuah taman seorang diri? kau pasti sedang dalam masalah" Wanita separuh baya itu sepertinya sedang menebak-nebak apa yang sedang ku alami saat ini.


"Apa Anda sering kemari juga?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan yang tak ingin ku bicarakan.

__ADS_1


"Ya, sesekali. Ketika pikiranku penat dan di penuhi dengan beban, sepertinya baru pertama kali Saya melihat kamu duduk di sini" Ia hanya tersenyum lalu menyenderkan tubuhnya pada kursi Besi yang terlihat cukup tua itu.


"Saya baru datang dari Bandung beberapa bulan yang lalu, Saya sedang mencari pekerjaan. Namun, ternyata tak semudah yang Saya bayangkan" Aku menghela nafas lalu membuangnya dengan kasar.


"Kebetulan sekali, Saya sedang butuh tenaga Pengajar. Barangkali kamu minat, kamu bisa hubungi Saya secepatnya" Ia menyodorkan sebuah kartu nama berisi Alamat lengkap dengan nomor Handphone , tak banyak basa basi ia berdiri dan pamit untuk pulang.


Suara Adzan Magrib berkumandang saling bersahutan, aku kembali berjalan untuk segera pulang, mungkin di rumah Paman sedang mengkhawatirkanku.


Aku segera menghubungi kedua orang tuaku untuk memberikan kabar gembira ini, terutama Mama yang sejak sebulan lalu menyuruhku kembali ke kampung halaman.


"Mbuu" Ku dengar suara Bintang dari kejauhan sana memanggil-manggil namaku , usianya sudah 18 Bulan, begitu cepat waktu berlalu bahkan bayi mungil yang slalu ku gendong kemana-mana kini ia dapat memanggilku dengan jelas.

__ADS_1


Tak sanggup batinku mendengarnya, suara tangis ku pecahkan. Ada kerinduan yang sangat besar yang ku rasakan, di usianya yang masih 18 bulan ia ku tinggalkan dengan Mama, perempuan hebat yang telah membesarkanku dengan susah payah.


Seharusnya ia merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah di masanya saat ini. Namun, ia bayiku yang sangat hebat, sama hebatnya dengan Mama. Ia mampu bermain sendiri tanpa seorang Ibu yang telah melahirkannya.


"Sayang, nanti Ibu pulang yaa" Ku tahan dada yang terasa sesak, aku harus terlihat tegar di mata bayi mungilku, ia tidak boleh melihatku lemah seperti ini.


Namun hubungan batin seorang Ibu dan anak sangatlah kuat, ia menangis dengan sangat keras. Mama segera mematikan telponnya, sedangkan aku menangis tersedu-sedu di pojok kamar.


Keesokan harinya..


Aku mendatangi sebuah Alamat yang kemarin ku terima dari seorang wanita separuh baya itu dengan menggunakan sepeda goes milik Paman.

__ADS_1


Tepat di hadapanku berdiri sebuah bangunan kokoh , bangunan sekolah mini dengan beberapa kelas di dalamnya. Di depan halaman terdapat beberapa ayunan dan mainan lainya , catnya berwarna warni dengan gambar bunga dan beberapa hewan yang menggambarkan keceriaan.


__ADS_2