
Sudah satu bulan lamanya aku bekerja di kantor salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di daerah Subang .
Seleri pertamapun ku terima, awalnya aku merasa senang , tapi akhirnya aku merasa kecewa . Karena upah yang ku dapat tidak sesuai dengan yang mereka janjikan di awal pertemuan.
" Ini upah pertamamu, silahkan di hitung.." Ujar seorang pria paruh baya yang duduk berhadapan denganku ia tak lain adalah SVP ku.
Aku membuka amplop yang di sodorkan, rasanya dulu begitu jauh dari rasa nyukur, padahal Tuhan sudah memberikan apa yang ku butuhkan.
" Apa tidak salah pak? " Tanyaku, sedikit geram.
"Tidak, karena ini upah pertama, dan pekerjaan kamu pun cukup ringan.."
Tanpa pikir panjang , aku mengajukan resign hari itu juga. Dengan pikiran dan perasaan yang berkecambuk, manusia memang serakah, harusnya dulu ku pertahankan saja, rezeki kan sudah Tuhan atur. Kalo mengingat hari kemarin rasanya banyak sekali hal yang terlewatkan yang membuatku menyesal di masa yang mulai memasuki kepala tiga ini.
"Apa apaan ini?". Pikirku sambil berlalu pulang.
Dengan perasaan kesal aku mencoba menghubungi Akbar beberapa kali, hingga suara merdunya terdengar dari kejauhan sana, aku memintanya untuk menjemput dan mengantarkanku pulang ke rumah Mama.
Ia menyanggupi permintaanku, dengan jarak yang begitu jauh ia tetap memenuhi keinginanku , dari sejak dulu Akbar memang begitu slalu mengerti aku, itulah alasan kenapa aku bisa bertahan hingga 4 tahun lamanya, padahal nyatanya aku bukanlah tipe perempuan yang nyaman berlama-lama menjalin hubungan dengan pria.
Sementara aku menunggu Akbar sambil mengepak seluruh barang-barangku. Ku perhatikan Farin yang akhir-akhir ini terlihat sedikit berubah, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya selalu lemas dan muntah-muntah. Tak seperti biasanya, beberapa makanan yang ku makan pun dia begitu membencinya, padahal sebelumnya dia tidak seperti itu.
Ia juga terlihat lebih sensitif dalam banyak hal, sosok yang biasanya periang beberapa hari ini terlihat murung dan tertutup.
__ADS_1
Berkali-kali aku bertanya apa yang terjadi padanya, tapi dia slalu mengalihkan pembicaraan dan tidak mau membahasnya. Padahal kita berteman sejak lama, lagipula apa gunanya teman kalo saja memiliki masalah tapi segan untuk bercerita? bukankah seorang teman itu seharusnya menjadi pendengar yang baik? ah sudahlah, mungkin saja ia tidak mempercayaiku, padahal aku berharap kita dapat saling membantu satu sama lain, ya walaupun hanya sekedar motivasi atau saran.
Perlu ku katakan, mengambil keputusan untuk resign bukan hal yang mudah, mengingat di masa itu mencari sebuah pekerjaan tidaklah mudah, bahkan kau harus mengeluarkan uang terlebih dahulu sebelum kau bekerja, selain itu, aku memutuskan untuk resign bukan hanya karena seleri saja, tapi ada hal lain yang memang mendorongku untuk pulang.
Berlama-lama tinggal dengan Farin tidak lantas membuatku nyaman, terlebih Reno slalu berada di kosanku, siang dan malam. Bahkan aku sudah terbiasa dengan keadaan mereka yang seperti itu.
Risih? tentu, awalnya itu lah yang ku rasakan, tapi setelah sekian lama prasaan risih itu memudar seiring berjalannya waktu. Hanya saja, aku tetap butuh privasi, dan tinggal di kosan sendiri akan memudahkanku dalam banyak hal.
Aku masih ingat ketika begitu lulus MA, lalu tinggal bersama Fitri. Mama bilang "Sifat manusia itu bakal ketahuan aslinya ketika kita tinggal bersama". Dan benar saja, tinggal bersama Farin tak lantas membuatku tidak cekcok, kami sering berantem, tapi bukan seperti anak remaja jaman sekarang yang berakhir dengan adu jotos. Dulu ketika berantem kami hanya saling diam, dia tidak mau berbicara denganku, akupun tidak memaksanya dan membiarkannya seperti itu, lalu sebaliknya. Ya begitulah seorang teman, separah apapun kamu berantem, mereka akan tetap menjadi temanmu.
Lama menunggu kedatangan Akbar, hampir memakan waktu empat jam lamanya. Haripun sudah sangat siang, aku mulai khawatir sekaligus kesal karena menunggunya terlalu lama, walaupun memang jaraklah yang membuanya datang terlambat.
"Ini untukmu" Ia menyodorkan sesuatu yang di bungkus rapi dengan pelastik hitam. Saking kesalnya, bahkan aku tidak menyadari kedatangannya. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan pintu dengan kantong pelastik hitam yang ia pegang.
"Buka aja" , Akbar masuk ke dalam kosan tanpa ku suruh lagi. Ia duduk rapih tepat di sampingku.
Dengan segera aku membuka bungkusan hitam yang Akbar berikan, isinya sebuah boneka beruang berwarna merah muda, uniknya boneka itu memiliki kaki yang panjang, pita yang mengikat leher dengan warna yang seirama dengan tubuhnya, juga memiliki tangan yang pendek, walau begitu boneka itu tetap terlihat sangat lucu. Bahkan aku memberinya nama Diksi bear, haha entah kenapa, tiba-tiba saja nama itu muncul di kepalaku. Yaa, Dia hampir tau semua kesukaanku, dia sangat memahamiku, mengerti semua tentangku dan aku sangat mencintainya.
"Haaah, boneka beruang" Aku mengeluarkan boneka tersebut dari dalam pelastik dan memeluknya erat, sesederhana itu, hanya karena sebuah perhatian kecil ia mampu membuatku merasa berharga di matanya .
" Makasi ya " Ku peluk boneka teddy bear baruku sembari menggandeng tangannya, rasanya tak ingin ku lepaskan lagi.
" Kamu suka ?" Tanya Akbar.
__ADS_1
"Aku suka, tapi bukannya kamu tau kalo aku tidak suka warna merah muda." Aku sedikit merajuk.
"Iya aku tau, tapi boneka ini sangat unik , lihat saja kakinya panjang, haha". Akbar tertawa sangat keras seakan tak ada beban di pundaknya.
" Kamu engga sibuk kan hari ini? " Merasa tak enak karena ia sudah menjemputku, akhirnya ku sempatkan untuk bertanya. Sekedar berbasa-basi, tapi memang aku tipekal orang yang tidak enakan, rasanya akan sangat bersalah jika aku mengganggu waktu ia bekerja.
"Buat kamu, aku bakalan ngelakuin apapun meski dalam keadaan sibuk sekalipun". Akbar merayuku, Pipiku memerah menahan malu.
"Kamu sudah bersiap-siap kan? Kita ga bisa berlama-lama loh di sini, karena sekarang musim ujan"
"Udah ko tinggal pulang aja" . Seruku
Aku memindahkan barang barangku , mengemasnya dengan rapi, dan bersiap untuk pulang.
Farin sudah berdiri di depan pintu membantuku mengemas barang.
"Sering sering main ke sini ya ? " Kata Farin menunjukan raut muka sedih.
"Tentu saja aku akan sering berkunjung. Tapi, apa kamu yakin bakalan tetep kos di sini?" Melihat tubuhnya yang agak kurus dengan wajah yang pucat aku merasa khawatir padanya, takut bila saja terjadi sesuatu padanya.
"Reno bakalan nemenin aku tiap hari ko, lagian aku juga harus ngurusin kuliah ku kan? kamu ngga perlu khawatir"
"Syukurlah" Dengan perasaan lega, aku segera naik ke atas jok motor, Akbar sudah menungguku bersiap untuk jalan.
__ADS_1
Aku menatap Farin sesaat sebelum pergi, ia melambaikan tangan dengan ekpresi sedihnya. Aku membalas lambaiannya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkannya .