
Aku mengangguk perlahan ku cerna setiap kalimat yang Putri ucapkan.
"Eh bentar deh.." Aku berhenti melangkah, Putri dan Riani ikut berhenti , mereka menatapku heran.
"Ada apa?" Tanya Riani, sedikit menaikan nada suaranya.
"Abah sama Engkong kan udah meninggal sejak aku MTS " Ku tatap wajah mereka satu persatu, sebelum akhirnya kami tertawa serentak.
HAHAHAHA
Setelah sekian menit aku baru faham kalo Putri sedang berakting di depan beberapa security, ia mengatakan kalo kakekku meninggal, karena dengan begitu pihak pabrik akan menyuruhku pulang dengan segera, lalu Putri meminta pihak pabrik agar kiranya Riani di pulangkan saja untuk mengantarkanku pulang, dengan alasan aku sedang sangat syok kalo di biarkan pulang sendiri akan sangat berbahaya untukku.
Dan lucunya pihak pabrik mempercayainya dengan mudah, bahkan beberapa security mengucapkan bela sungkawa nya padaku.
Aku cukup kagum dengan ide gila yang brilian itu, Putri memang temanku yang paling gila, padahal beberapa hari yang lalu aku sudah membolos kerja karena malas dan hari ini aku harus kembali membolos demi untuk menemaninya nongkrong dan juga hunting.
"Untung udah meninggal" Kata Riani polos.
__ADS_1
"Apa?" Tanyaku dengan nada yang tinggi.
Lagipula apa maksud nya coba mengatakan hal buruk seperti itu?
"Emm.. Maksudnya.. "
Ia menggantung kalimatnya, mencoba memilah kata yang cocok untuk di ungkapkan.
"Untung udah meninggal, kalo nggak jadi doa deh tuh.. haha" Sahutku sambil tertawa.
Sepertinya kalimat itu yang hendak Riani ucapkan pada kami.
"Mmm kemana yaa? gimana kalo kita ke alun-alun bandung aja? abis itu ke jalan asia afrika, terus lanjut ke taman Vanda, dan terakhir taman balai kota deh, gimana?" Sahut Putri.
Aku mengangguk tanda setuju, Riani pun melakukan hal yang sama denganku, kalo soal main aku mau-mau saja kemanapun tujuannya, bahkan kepala yang terasa pusing dan berkunang-kunang ku abaikan demi untuk ikut nongkrong bersama teman-temanku.
Dengan segera aku, Riani dan Putri berjalan cepat menuju kost, di sana Ayu, Aida, teh Gina, teh Fani dan Fira sedang menunggu kedatanganku, aku segera beranjak ke kamar mandi dan mengganti pakaianku, begitupun Putri dan Riani.
__ADS_1
"Sudah siap? ayok keburu siang?" Teh Fani mendatangi kamarku untuk mengajakku keluar menemui teman-teman ku yang lain.
Kamipun berangkat dengan menggunakan transportasi kereta api, jarak dari kost ke bandung kota lumayan jauh memerlukan waktu kurang lebih satu jam dengan kereta api.
"Nih tiketnya" Teh Gina menyodorkan beberapa tiket untuk kami masuk nanti.
Tak butuh waktu lama keretapun tiba, aku dan teman-temanku segera naik dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk kita duduki.
**
Setelah sampai di alun-alun bandung, kami mengambil beberapa poto untuk kenang-kenangan sekaligus di upload di Facebook pribadi kami. Sayang sekali aku dan teman-temanku tak dapat naik ke atas menara alun-alun bandung karena sangat ramai pengunjung padahal aku ingin sekali ke atas sana.
Setelah puas mengambil poto di taman alun-alun bandung, kami bergegas menuju salah satu tempat bersejarah yang ada di kota bandung, yakni gedung Merdeka tempat di adakannya konferensi Asia-Afrika pada masa kepemimpinan presiden pertama yakni presiden Soekarno beserta wakilnya Moch Hatta.
Dari luar ku lihat bangunan tua tersebut tampak bersih dan terawat dengan beberapa lampu yang menghiasi setiap jalanan menuju gedung membuatnya terlihat begitu indah, pantas saja salah satu budayawan asal Belanda mengatakan kalo Bandung adalah kota yang di ciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Ternyata memang benar, Bandung memanglah indah, bahkan lebih indah ketika malam hari.
Gedung Merdeka merupakan bangunan tua yang pernah menjadi tempat konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan negara tersebut baru saja memperoleh kemerdekaan.
__ADS_1
Aku pernah mendengar sejarah tersebut dari salah satu guru favorit ku ketika aku duduk di bangku MA. Kalo tidak salah, Konferensi tersebut telah diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, india dan pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario.
Pak Tibi selaku guru sejarah juga mengatakan jika pertemuan tersebut berlangsung antara 18 April-24 April 1955 di gedung yang kini terkenal dengan nama Gedung Merdeka yang terletak tak jauh dari alun-alun kota Bandung, dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia Afrika juga melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni soviet atau negara imperialis lainnya.