Pena Hitam

Pena Hitam
17


__ADS_3

Aku tak begitu ingat, aktifitas apa saja yang pernah ku lakukan sejauh ini, hanya saja ingatanku masih menyimpan beberapa moment yang cukup jelas untuk ku ceritakan. Ada banyak tempat yang ku kunjungi ketika hubungan ku dan Akbar telah berakhir.


Cukup lama ku jalani hidupku tanpa Akbar maupun Annisa, kini telah banyak ku temui orang-orang baru dengan karakter yang baru yang datang dan pergi di dalam hidupku. Namun, ku akui mereka terlalu istimewa untuk dapat  ku gantikan dengan orang-orang baru itu, tak satupun ku temui sosok Akbar maupun Annisa dalam diri mereka, Annisa tak tergantikan dan Akbar terlalu sempurna untuk di sandingkan dengan mereka.


Seperti terlahir kembali dengan kekosongan, sunyi juga sepi ku rasakan tanpa adanya Annisa. Satu-satunya sahabat terbaik yang slalu membuatku tertawa terbahak-bahak, bercerita banyak hal tentang hidup, berbagi kebahagiaan dan kesedihan seperti saat itu, saat dimana kami slalu bersama dengan persahabatan yang tulus dan apa adanya.


Aku juga merindukan sosok Akbar, sosok yang slalu memelukku erat, mendengarkan setiap keluhanku, bahkan ia slalu menghiburku di kala gundah. Ya, mereka orang yang paling berharga dalam hidupku, manusia yang ku cintai sekaligus ku benci.

__ADS_1


Beberapa bulan telah berlalu, tak ada yang berubah dari pikiran dan perasaanku, hanya waktu yang terus berputar membawa kehidupan menjadi lebih serius, kini bukan hanya pasangan hidup dan juga teman yang menjadi problema dalam hidupku, tapi juga pekerjaan, tuntutan keluarga, dan rekan kerja.


Terbesit keinginan untuk kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi untuk saat ini rasanya tidak mungkin. Tabunganku tidak cukup banyak untuk biaya kuliah di kota Bandung dengan biaya hidup yang lumayan mahal.


Belum lagi, Fitri yang ku anggap sebagai penolong, nyatanya tak sebaik yang ku bayangkan. Diam-diam ia slalu mengadukanku pada pemilik butik, entah apa tujuannya yang pasti pemilik butik slalu memanggilku ke kantor dan memarahiku karena masalah sepele. Membuatku tak nyaman jika harus terus ku pertahankan, belum lagi ia juga sering menjelek-jelekanku pada ibunya, yang kemudian ibunya akan menceritakan kembali pada mama.


Dengan terpaksa aku keluar dari tempat itu, meski ku tau mencari pekerjaan tidaklah semudah yang ku bayangkan. Cukup lama aku berdiam diri di rumah, tanpa melakukan aktifitas apapun hanya tidur dan bermain ponsel, membuat mama jengah. Berkali-kali mama memarahiku membuatku tidak betah berlama-lama di rumah.

__ADS_1


"Aduh" Suara itu terdengar serak, suara yang tak begitu asing di telingaku. Karena melamun, aku tak sengaja menabraknya beberapa detik yang lalu, sehingga membuatnya terjatuh.


"Maaf, saya tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?" Aku mengulurkan tangan kananku, hendak membantunya berdiri. Ia menerima uluran tanganku, dengan cepat ia berdiri lalu wajahnya yang sedari tadi menunduk ia angkat dan menatap tajam ke arahku.


"Kalo jalan pakek ma..." Kalimatnya terputus ketika mata kami saling bertemu.


"Loh, Farin.."

__ADS_1


"Naura.." Bersamaan.


Gadis cantik berkulit putih dengan tubuh tinggi bak model, hidung yang mancung dengan bulu halus menutupi kulit putihnya dan rambut hitam tebal juga panjang yang menjuntai sepunggung. Ia mengenakan rok mini berwarna hitam dengan kemeja berwarna abu juga high heels yang senada dengan roknya. Ia begitu pangling, aku hampir tak mengenalnya.


__ADS_2