Pena Hitam

Pena Hitam
48


__ADS_3

Jalanan cukup macet di malam minggu, beruntung sekali Doni dapat melewati kemacetan ini dengan begitu mudah, dengan tapisnya ia membawa sepeda motornya menerobos celah di antara kendaraan satu dan lainnya yang saling berdempetan.


Sesekali ia menatap kaca spion yang memperlihatkan raut wajah tegangku sambil tersenyum simpul. Tak ada yang berani berbicara, hanya suara deru motor dan bunyi klakson yang saling bersahutan yang mampu memecah keheningan.


"Nah ayo turun sudah sampai" Motor Doni berhenti tepat di halaman sebuah rumah yang sederhana namun cukup luas, mataku tak henti-hentinya menilik sekeliling, memperhatikan keadaan.


Rumah ini terlihat sepi dan sangat gelap, seperti rumah kosong yang sudah lama tidak di tinggali, walaupun rapih dan bersih tapi aku tak melihat adanya kehidupan di dalam rumah. Aneh sekali, padahal rumah ini berada di tengah-tengah pusat kota, dimana keadaan yang seharusnya ramai dan berisik malah sebaliknya.


"Ayo masuk" Doni menarik tangan kananku dengan terburu-buru.


Aku yang masih berdiri mematung memperhatikan keadaan menjadi tersentak di buatnya, aku berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti Doni yang berjalan lebih dulu di hadapanku.

__ADS_1


Krieet


Doni membuka pintu perlahan, pemilik rumah tidak mengunci pintunya, mungkin ia sudah tau akan kedatanganku dan Doni.


Beberapa langkah masuk ke dalam rumah, ku lihat keadaan begitu gelap, mataku terbatas tak dapat melihat apapun di ruangan yang cukup besar ini .


"Loh, dimana keluarga kamu?" Aku bertanya pada Doni, namun ia enggan menjawab pertanyaanku.


Dengan terburu-buru Doni menutup pintu, tanpa memperdulikan pertanyaanku, ia tersenyum menyeringai ke arahku, matanya menatapku dengan tajam, membuat tubuhku bergidik ngeri.


"Ka kamu ke kenapa?" Tanyaku dengan terbata-bata, ternyata rumah ini kosong, Doni membawaku ke rumah kosong? tapi untuk apa? membunuhku kah? Ya Tuhan aku benar-benar ketakutan malam ini.

__ADS_1


"Hanya sedikit bersenang-senang" Jawab Doni santai, membuatku semakin melebarkan langkahku ke belakang.


Namun, langkahku terhenti tepat ketika tubuhku menempel pada sebuah dinding yang kokoh, dengan cepat Doni mengangkat tubuhku yang kaku dan membawanya ke dalam sebuah kamar.


"Doni lepasin aku mau pulang" Tubuhku berontak, melakukan penolakan terhadap apa yang tengan Doni lakukan.


Aku menarik nafas panjang mengambil aba-aba untuk berteriak, Doni menyadari apa yang akan aku lakukan, dengan sigap ia menutup mulutku dengan tangan kanannya, membuatku kesulitan untuk bernafas dengan normal.


"Jangan berisik, aku janji gakan pernah ninggalin kamu"


Tanpa menunggu jawabanku, Doni menc*um bi*irku dengan ganas, tangan kanannya meraba da*a ku dengan kasar, sesekali memainkannya membuat tubuhku lemas, ku rasakan sensasi yang berbeda, perasaan aneh yang menggelayut di pikiranku, rasanya seperti terbang di antara langit-langit malam.

__ADS_1


Aku tak berdaya, Doni memaksaku melakukan sesuatu yang tak semestinya ku lakukan, aku terbuai akan rayuannya, ku nikmati setiap sentuhannya walau sesekali ku seka air mataku menggunakan punggung tangan ku, aku telah kembali membuat kesalahan besar, aku takut kesalahan yang telah berlalu akan terulang kembali.


Ia memelukku seolah meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak denganku, firasatku mengatakan sesuatu yang buruk telah di mulai.


__ADS_2