
Putri datang dengan tergesa-gesa di temani Ayu di sampingnya, aku merasa heran dengan kedatangan nya, apa ia kabur lagi dari tempat kerjanya? rasanya tak mungkin. Karena ia tidak membawa apapun termasuk tas yang tadi sore ia kenakan.
"Ra, ada hp aku ngga? ku cari-cari di tas gaada" Ucap Putri, sambil menunjukkan wajah paniknya di sertai deru nafas kasar yang ia lakukan dengan cepat.
"Oh ada, nih" Aku memberikan ponsel milik Putri, sebelum ia kembali melangkah untuk kembali ke tempat kerjanya.
"Oh ya Ra, tadi ada telpon ga?" Ia berbalik ke arahku dan menghentikan langkahnya yang tadi sempat terburu-buru.
__ADS_1
"Oh ada, nama kontaknya siapa yaa? Doni apa gitu.." Kataku datar.
"Oh itu si Doni, teman satu SMP ku dulu. Tadi sore juga ia nanyain kamu, katanya ia mau aku mengenalkannya padamu, nanti aku send pin nya yaa" Ia kembali berbalik dan berlari dengan cepat, bahkan tak mendengar lebih dulu jawaban yang akan ku berikan padanya.
"Emang dia tau aku dimana?" Batinku, masa bodoh juga sih, lagian cuman di kenalin doang, lumayan juga kan nambah kontak BBM.
PING !!!
__ADS_1
Satu pesan masuk dari Putri, sebenarnya saat kerja semua karyawan tidak boleh memegang hp, tapi karena teman-teman ku pembangkang semua dan mereka cukup pintar untuk memainkannya jadi tak heran kalo saat ini mereka dapat dengan leluasa mengirim pesan padaku, lagipula Mister Lee selaku pimpinan pabrik sepertinya sangat menyukai Ayu, aku sering melihatnya mendekati Ayu, bahkan Ayu pernah bilang kalo Mister Lee pernah memberinya hadiah, meski ia tak memberitahu kami apa isi hadiahnya. Tak heran, Ayu memang cantik, bahkan seperti nya paling cantik di antara kami, dengan tinggi badan kurang lebih 155cm , berkulit agak putih, dengan rambut yang hitam dan lurus. Jelas saja mister Lee menyukainya, ia juga modis. Berbeda dengan ku dan Putri yang tomboy, boro-boro berdandan modis mandi saja aku kadang dua hari sekali, bahkan untuk menyisir rambutpun rasanya begitu berat, kalo tidak ada Riani yang slalu sigap membantu ku menyisir rambutku, mungkin aku tidak akan menyisir rambutku sama sekali. Hehe
"Nih cowok nelponin terus minta pin kamu, boleh di kasiin ga?" Ternyata Putri yang mengirimku pesan, membuatku kaget saja.
"Boleh" Jawabku singkat, aku memang cuek terhadap laki-laki, bahkan selepas Akbar meninggalkanku aku membiarkan diriku kesepian, hingga aku mulai terbiasa dengan keadaanku seperti ini.
Aku hanya takut ketika aku kembali membuka hati, aku harus menelan kecewa lagi. Mengingat luka yang Akbar berikan cukup dalam, bahkan sangat dalam. Dan lagi, masa laluku dengannya pun masih slalu terbayang, tak lucu kan kalo aku dekat dengan laki-laki lain hanya sebagai pelampiasan saja, bisa-bisa mereka sakit hati atas apa yang telah ku lakukan.
__ADS_1
"Tapi bentar deh, darimana ia tau aku? aku aja ngga tau dia siapa?" Jawabku penasaran, aku memang tidak mengenalnya sama sekali, aku juga tidak terkenal. Jadi mustahil kan tiba-tiba ia mengenaliku tanpa ada orang yang dengan sengaja atau tidak mengenalkanku padanya.