Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 10


__ADS_3

Hari ini, Rain kedatangan teman sekolahnya, Ryuji Winata. Ana benar-benar kehilangan akalnya saat dia melihat anak sahabatnya, Naomi Winata sedang berdiri di depannya.


"Mommy pasti tidak akan percaya apa yang aku temukan hari ini," kata Ryu dengan senyum sinisnya.


Ana tidak bisa berkata apapun apalagi membela dirinya saat Ryu mengatakan itu. Memang benar adanya, jika Naomi mengetahui hal ini, dia pasti akan memarahinya habis-habisan.


Naomi Winata dan Ana bersahabat sejak mereka masih berusia 5 tahun. Pertemuan pertama Naomi saat dia datang ke sebuah pemakaman istri teman papanya. Naomi yang saat itu sedang bosan menemukan Ana sedang menangis di belakang rumah persemayaman.


Naomi yang tidak tahu Ana adalah anak teman papanya itu, terus duduk bersama Ana sampai dia selesai menangis. Naomi baru mengetahui siapa Ana, saat dia kembali ke dalam rumah persemayaman dan menemukan Ana sedang berdiri di samping peti mati mamanya.


Naomi dan Ana seperti dipertemukan oleh takdir mereka, karena mereka kembali bertemu saat mereka mendaftar di sekolah yang sama. Sejak itu, mereka selalu bersama hingga mereka lulus kuliah.


Naomi sudah seperti saudara perempuan sekaligus ibu bagi Ana. Naomi yang mengajarkan Ana cara menggunakan pembalut saat haid pertamanya. Dia juga yang terus mengingatkan Ana agar jangan pernah mengenakan pakaian berwarna ungu, karena katanya itu hanya akan membuat Ana terlihat seperti nenek tua.


Naomi adalah orang pertama yang akan mencari tahu latar belakang pria yang Ana baru kenal sebelum pria itu mulai mendekatinya. Dia bahkan menghajar pria yang putus dengan Ana karena dianggap mempermainkan Ana. Naomi adalah orang yang selalu memarahi Ana saat dia terus menerus menganggap laki-laki brengsek sebagai orang baik.


Dan tentu saja, kali ini Naomi akan memarahinya habis-habisan jika dia mengetahui dimana Ana berada saat ini, karena Ana tidak memberitahunya permasalahan yang sedang dihadapinya.


"Jangan katakan pada mommy, ya. Please, Ryu ...," pinta Ana pada Ryu. Sedangkan Ryu hanya tersenyum jahat mendengar permintaan Ana.


Ana tahu Ryu tidak akan pernah mendengarkannya, karena Ryu adalah anak yang keras kepala, seperti Naomi.


Tapi, pilihan apa yang dia punya saat ini? Ana tidak mau Naomi menerobos masuk ke rumah Marius dan membuat keributan. Ya, Naomi akan benar-benar melakukannya.


"Ryu ..."


Pembicaraan mereka terputus saat Rain keluar dari kamarnya dan menemui Ryu yang sedang menunggunya di ruang duduk. Ana terkejut melihat perubahan sikap Ryu. Dari kucing galak yang baru disentuh saja sudah menggigit, tiba-tiba berubah menjadi kucing yang baru saja disiram air.


"Apa ini? Apa yang sedang terjadi?," pikir Ana heran melihat perubahan Ryu.


"H-hai ... ini ...," kata Ryu tergagap seraya memberikan sebuah paper bag yang Ana tidak tahu apa isinya.

__ADS_1


Saat Rain mengeluarkan isinya, ternyata itu adalah sebuah buku.


"K-kamu terlalu lama tidak sekolah. M-mereka merindukanmu, lalu menulis sesuatu untuk m-mu disitu," lanjut Ryu.


"Terima kasih ...," kata Rain yang terlihat bahagia memeluk buku itu.


"Aku rasa dia juga merindukan teman-temannya," pikir Ana ketika melihat bagaimana Rain memeluk buku itu seakan sebagai sesuatu yang sangat berharga.


"Kembalilah ke sekolah, aku akan melindungimu," kata Ryu lembut.


Ana tidak memahami maksud kata "melindungi" yang Ryu katakan. Apa terjadi sesuatu?, pikirnya.


Ana ingin menanyakan langsung kepada Ryu, tapi Rain menarik tangan Ryu dan mengajaknya ke playroom. Anehnya, Ryu terlihat tidak keberatan dengan itu.


"Dia bahkan selalu menolak tawaran Naomi bermain di playground," kata Ana yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


......................


Perlahan Ana mendekati Rain untuk ikut membaca isi buku itu. Ternyata memang selucu itu.


Beberapa menuliskan betapa mereka sangat merindukan Rain. Beberapa lagi hanya menggambar. Meskipun cuma gambar, mereka membuatnya benar-benar terlihat lucu dan menyenangkan. Pantas saja Rain terlihat senang sekali.


"They miss you, Rain," kata Ana sembari membelai lembut rambut gadis kecil itu.


Rain menganggukkan kepalanya dan memberi senyum manisnya pada Ana.


"Apa Rain kangen mereka?," tanya Ana yang dijawab Rain dengan anggukan kepalanya yang bersemangat.


"Apa Rain kangen sekolah?"


Rain masih semangat menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana jika Rain kembali ke sekolah?"


Kali ini Rain menundukkan kepalanya. Dia memeluk buku yang diberikan Ryu erat-erat.


"Mengapa Rain tidak mau ke sekolah?"


Ana sengaja memberikan pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang dari Rain. Dia berharap Rain mau menjelaskannya untuk Ana. Tapi, Rain tetap memeluk buku itu. Ana memutuskan untuk tidak memaksanya.


"Apakah Rain takut sesuatu yang ada di sekolah?"


Rain menganggukkan kepalanya meski dengan gerakan lamban.


"Bagaimana jika Kak Ana pergi ke sekolah bersama Rain?"


Perlahan, Rain menengadahkan kepalanya dan menatap Ana dalam-dalam.


"Kak Ana akan melindungi Rain dari apapun yang Rain takuti."


Rain mengangguk bahagia.


Ana tidak tahu apa yang ditakuti gadis kecil ini hingga dia tidak mau bersekolah. Dia curiga ada sebagian kecil temannya yang tidak menyukainya, dan Rain dirundung oleh mereka.


"Awas aja kalau aku menemukan mereka, kupukul mereka," pikir Ana geram.


"Besok kita akan bicara dengan daddy, ya," kata Ana pada Rain.


Sekali lagi, Rain menganggukkan kepalanya, lalu memeluk Ana erat-erat.


Terakhir, Rain mencium Ana yang sontak membuat Ana terkejut.


Ana tidak dapat menolak bentuk kasih sayang itu dari Rain. Dirinya juga terlalu bahagia dengan itu. Ana membalas pelukan dan juga ciuman Rain dengan penuh kasih sayangnya. Hatinya kini benar-benar tidak bisa dipisahkan Rain.

__ADS_1


__ADS_2