Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 20


__ADS_3

Setelah Ana menemukan Rain dalam keadaan yang seperti itu, Rain seperti kembali ke titik nol. Dia kembali lagi tidak banyak bicara seperti saat pertama kali Ana bertemu dengannya.


Rain kembali menjawab pertanyaan-pertanyaan Ana dengan anggukkan dan juga gelengan kepalanya. Dia tidak lagi menjawab dengan jawaban-jawaban panjang. Senyum Rain juga semakin jarang terlihat.


Ana semakin cemas melihat Rain menjadi seperti itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Rain saat itu. Tapi, Ana yakin kejadian waktu itu adalah penyebabnya.


Rain juga tidak membantu sama sekali. Ana terus bertanya padanya, tapi tidak ada satupun pertanyaannya dijawab oleh Rain. Dia memilih diam dan menundukkan kepalanya. Ana semakin cemas dibuatnya.


Marius yang mengetahui masalah ini dari Ana juga ikut memikirkan masalah ini. Dia berusaha mengajak Rain mengobrol, tapi hasilnya sama saja. Rain tetap tidak mau bicara.


Marius bahkan memanggil psikiater yang biasanya menangani Rain untuk mencari tahu. Tapi, bahkan psikiater juga tidak menemukan jawabannya. Rain tidak banyak bicara saat psikiater itu menanyakannya.


Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?


"Jika itu mimpi buruk, apakah bisa sampai mempengaruhi Rain sebegitu besarnya? Dia bahkan kembali tidak banyak bicara seperti dulu," kata Ana yang terlihat sangat cemas.


"Dokter tidak mengatakan itu mimpi buruk. Dia memperkirakan sesuatu mungkin telah terjadi. Tapi, saat itu Rain sedang tidur, kejadian apa yang membuatnya seperti itu?," tanya Lucas yang juga ikut memikirkan masalah ini.


"Apakah ada sesuatu yang mencurigakan sebelum Rain ditemukan?," tanya Marius tiba-tiba. "Sesuatu yang mungkin terasa aneh, tidak biasanya, atau sesuatu yang tidak pada tempatnya."


Ana mengingat kembali saat sebelum Ana menemukan Rain. Semua masih terlihat sama. Ana hanya mengantarkan camilan sore harinya. Tapi ...


"Nora ...," ucap Ana lirih.


"Nora?"


"Sebelum aku masuk ke kamar Rain, aku bertemu pelayan baru. Namanya Nora. Tidak tahu mengapa, tapi aku merasa ada yang aneh darinya saat aku melihatnya. Apakah ini ada hubungannya?," tanya Ana yang ragu jika hal itu berhubungan dengan masalah Rain. Tapi, bagaimanapun juga, hal ini terjadi sesaat sebelum masalah Rain muncul.


"Aku tidak pernah ingat Eli mengajukan permintaan pelayan baru akhir-akhir ini," kata Marius.


"Ah, maksudku dia bilang dia baru-baru saja ditugaskan bekerja untuk melayani Rain," jelas Rain.


"Aku akan menyuruh David memeriksa rekaman CCTV untuk mencari tahu," kata Lucas seraya berdiri meninggalkan Ana dan Marius untuk menghubungi David.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu merasa aneh pada Nora?," tanya Marius.


"Dia tidak terlihat seperti pelayan yang biasanya aku lihat. Caranya berjalan, caranya berdandan, caranya berbicara, aku belum pernah melihat pelayan di rumah ini yang berprilaku seperti dia," jelas Ana.


"Apakah aku terlalu berpikiran negatif?"


Marius berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Ana. "Kita butuh semua petunjuk yang ada meski itu terlihat tidak mungkin. Kerja bagus, Ana."


Ana merasakan sentuhan Marius di atas kepalanya. Mungkin karena rasa cemasnya yang terlalu besar, dia tidak terlalu memikirkan suara jantungnya saat Marius melakukan itu. Dia malah merasakan rasa cemasnya berangsur-angsur menurun. Rasanya menenangkan saat Marius melakukannya.


......................


"Iya itu dia ...," kata Ana pada rekaman CCTV yang dia tonton bersama Marius, Lucas, dan juga David dari layar laptop yang ada di depannya.


"Saya sudah memeriksa rekaman ini sebelum saya bawa kemari. Tapi, tidak ada yang aneh dari pelayan ini. Dia hanya naik ke lantai atas lalu langsung menuju playroom untuk bersih-bersih. Setelah itu, dia keluar untuk turun dan bertemu dengan Nona Ana."


Ana terdiam mendengarkan penjelasan David. "Mungkin memang hanya perasaanku saja," kata Ana dalam hatinya.


David kembali mengkonfirmasi pertanyaan Lucas bahwa memang tidak terlihat ada hal yang mencurigakan sebelum Ana kembali ke kamar Rain.


Dengan demikian, penyelidikan mereka kembali ke pertanyaan awal, apa yang terjadi pada Rain?


"Saya akan memeriksa lagi rekaman CCTV ini dan yang ada di sekitarnya. Mungkin bisa ditemukan petunjuk baru," kata David lagi sebelum dia meninggalkan ruang kerja Marius.


Melihat penyelidikan yang tidak mengalami kemajuan apapun, Ana memutuskan untuk kembali ke kamar Rain saja. Dia merasa sudah meninggalkan Rain terlalu lama sendirian.


"Apa kamu akan tidur di kamar Rain lagi malam ini?," tanya Marius.


Ana menganggukkan kepalanya. Dia tidak bisa meninggalkan Rain sendirian setelah kejadian itu. Di saat dia masih belum menemukan penyebab Rain menjadi seperti itu.


"Aku akan meminta Eli untuk menyiapkan alas tidur sementara untukmu. Besok aku akan menyuruh orang untuk mengatur kembali kamar Rain, agar kamu bisa tidur di sana selama yang kamu mau," kata Marius.


"Tidak, tidak. Tidak perlu seperti itu. Aku hanya khawatir meninggalkannya. Rain mungkin juga tidak akan menyukainya jika kamu mengubah kamarnya tanpa seijinnya. Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Marius, Ana keluar dari ruang kerja Marius. Sementara Marius hanya terdiam memandangi Ana yang keluar dari ruangannya. Dia bisa memahami bagaimana perasaan Ana saat ini. Tapi dia sendiri juga masih mencari jawaban itu.


"Apakah menurutmu, ada hubungannya dengan orang yang meneror Ana waktu itu?," tanya Lucas setelah dia memastikan Ana sudah benar-benar keluar dari ruangan itu.


"Belum ada bukti yang mengarah kesana. Tapi entah mengapa aku begitu yakin jika itu benar."


Marius terdiam sejenak memainkan jemari tangannya. Pandangan matanya memperlihatkan seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Jika memang itu benar, maka orang ini sudah berada di rumah ini sejak lama sekali. Dia juga mengganggu Rain selama ini."


Marius mendekatkan dirinya pada foto pelayan yang sedang berdiri di bawah kamera CCTV. Kepala pelayan itu menunduk seakan sedang menghindari kamera menyorot wajahnya.


"Cari tahu tentang pelayan yang bernama Nora," perintah Marius. "Jangan sampai Eli tahu," lanjutnya.


......................


Ana terbangun karena mendengar sesuatu di dalam kamar. Dia memaksa untuk membuka matanya untuk mencari tahu asal suara itu.


"Rain?"


Ana segera membangunkan dirinya dan memeluk Rain yang sedang menangis di atas tempat tidurnya. Lagi-lagi, Ana menemukannya sedang menangis dan memeluk erat kedua kakinya. Dipeluknya erat gadis kecil itu.


"Sshh ... itu hanya mimpi buruk, sayang. Ada Kak Ana disini, Rain jangan takut, ya ...," kata Ana menenangkan Rain yang masih terus menangis.


Hati Ana terasa sangat sakit melihat Rain yang seperti itu. Terutama saat dia tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa membuatnya merasa tenang.


"Bagaimana bisa membuatnya tenang, aku bahkan tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini," pikir Ana.


Ana ingin dia tetap kuat demi Rain, tapi air matanya menolak untuk tetap diam. Ana ikut menangis mendengar tangisan Rain. Hatinya terlalu sakit.


Sepanjang malam itu, Ana membiarkan Rain tetap dalam pelukannya hingga gadis kecil itu tertidur. Ana membelai lembut rambutnya yang basah meski AC di kamar itu terus menyala.


"Tidurlah ... tidurlah, sayang. Kak Ana akan tetap disini. Besok pagi saat kamu bangun, mimpi buruknya sudah pergi ...," ucap Ana lirih sambil mencium kening Rain yang sudah tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2