Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 25


__ADS_3

Marius memasukkan flashdisk yang diberikan Ana ke dalam port pada laptop miliknya. Lalu dengan earbud di telinganya, dia memutar video rekaman yang tersimpan di dalam flashdisk itu.


#


(video played at 00.37.20)


"Mengapa kita harus membersihkan ruangan anak haram ini?"


"Menurutmu kenapa? Ya karena Tuhan itu tidak adil."


"Kamu benar. Bagaimana bisa anak yang tidak jelas ayah ibunya, lalu dibawa masuk ke keluarga kaya, dan bisa hidup enak. Sedangkan kita hanya jadi pelayannya."


#


(video played at 03.23.12)


[Rain sedang menonton TV dan menari. Ana tidak bersamanya]


"Apakah benar dia bukan anak Tuan Adam?"


"Mereka bilang sih begitu. Tuan Adam membawanya karena kasihan dengan ibunya."


"Beruntung sekali dia."


"Beruntung apanya? Dia cuma anak sial. Tak lama setelah itu Tuan Adam meninggal."


"Mengerikan ..."


"Dia cuma anak tidak tahu diri. Seharusnya dia sadar diri kalau dia bukan bagian dari keluarga Hadinata."


"Apakah menurutmu dia mendengarkan kita?"


"Kamu tidak lihat? Dia terus menari seperti orang tolol. Aku ragu dia tahu kita disini. "


#


(video played at 05.50.33)


"Heh! Kamu kira mereka memanjakanmu? Mereka sedang menunggumu lengah, lalu membuangmu ke jalanan," kata seorang pelayan yang mendorong kepala Rain dengan jari telunjuknya.


Rain hanya diam menunduk saat pelayan itu melakukannya.


"Hei, jangan begitu. Nanti dia akan melaporkan kita," kata pelayan lainnya.


"Halah, jangan takut. Dia tidak akan berani. Selama ini dia selalu diam. Dia itu gagu. Lagipula, kalau dilaporkan, Miss Eli akan melindungi kita."


#


Marius menghentikan video itu. Dia sudah tidak sanggup lagi menonton sisanya. Tangannya terkepal sangat keras, sekeras dirinya menahan semua kemarahannya.


Dia mengambil gelas yang berisi air yang ada di depannya, lalu meminumnya. Mengatur napasnya untuk menenangkannya. Lalu kemudian melanjutkan kembali menonton video itu.


Beberapa kali Marius terpaksa menghentikan video, karena video itu terus menunjukkan gambar orang-orang yang membuatnya marah. Mereka terus-menerus membicarakan hal yang sama ketika melihat Rain. Mereka semua membenci Rain.


Tapi, beberapa saat kemudian, video itu menampilkan gambar yang berbeda.


#

__ADS_1


(video played at 13.01.58)


[Rain sedang berada di atas tempat tidurnya. Dia memeluk kedua kakinya. Wajahnya dia sembunyikan di antara kedua kakinya itu. Suara isak tangis dan juga gerakan naik turun pada punggungnya menunjukkan bahwa anak itu sedang menangis.]


#


Marius kembali menghentikan video itu. Matanya terus menatap layar laptopnya yang sedang menampilkan Rain yang sedang menangis. Hatinya terasa sangat sakit. Terutama saat dia memikirkan anak itu pasti sering menangis sendiri tanpa sepengetahuan orang lain.


Beberapa saat kemudian, Marius meneruskan video itu.


#


[Rain mengangkat wajahnya, lalu menyandarkan kepalanya di atas kedua lututnya.]


"Benarkah Rain anak haram?," tanya Rain lirih.


#


Dengan keras Marius menekan tombol stop. Dia sudah tidak tahan lagi. Napasnya mulai berat, dan dengan tersedu-sedu, Marius mulai menangis. Dia merasa dirinya sudah gagal menjaga janjinya pada kakaknya untuk selalu melindungi Rain.


......................


(flashback on)


"Anak siapa itu, Kak?," tanya Marius.


"Kenalkan, namanya Rain. Dia anakku, Marius," jawab Adam sembari menggendong bayi kecil mungil yang terlihat seperti baru lahir itu.


"Siapa ibunya? Wanita gila itu?"


"Jangan begitu, Marius. Dia akan segera menjadi kakak iparmu."


"Dia memintaku untuk pulang lebih dulu. Dia akan menyusul sebentar lagi. Aku memintanya untuk tinggal disini."


"Kak Adam masih saja percaya sama dia? Dia hanya tidak ingin Kak Adam terus menunggunya."


Adam hanya diam membisu.


#


"Dia tidak pernah mencintaimu, Kak. Dan sekarang dia memberimu anak ini. Dia bahkan tidak mau menggendongnya. Dia membuang anak ini, Kak," ucap Marius marah.


"Sudah, tidak apa-apa. Aku akan merawatnya sendiri. Dia pasti akan kembali ke sisiku saat dia kangen sama Rain," kata Adam sembari menggendong bayi Rain.


"Kak, kamu yakin dia anakmu? Kamu tahu kan rumor yang beredar sekarang? Dia punya skandal, Kak!"


"Marius! Kamu boleh meragukan dia. Tapi jangan pernah meragukan Rain. Aku yakin, Rain adalah anakku, darah dagingku."


"Kak! Kak!," teriak Marius yang tidak dihiraukan Adam, karena Adam sudah pergi meninggalkannya.


#


"Dengar, Marius," ucap Adam lemah dengan ventilator yang membungkus separuh wajahnya.


"Berjanjilah padaku ... kamu akan menjaga Rain ... jangan biarkan ... siapapun melukainya atau ... merebutnya ... darimu ..."


"Apa yang kamu katakan, Kak?," isak Marius menjawab permintaan kakaknya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. "Kamu akan sembuh ... kita akan bawa Rain ke Disneyland seperti yang kamu janjikan padanya."

__ADS_1


"Jangan ... pernah ragu ... Marius ... Rain adalah ... anakku ... kumohon ... jaga dia ... untukku ..."


"Kak? Kak!," teriak Marius saat mengetahui Adam, kakaknya sudah tidak lagi bernapas.


(flashback off)


......................


Marius tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Napasnya masih memburu. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.


Marius mengangkat tubuhnya dan mendapati laptop berada di depannya. Rupanya dia tertidur di ruang kerjanya semalam.


Dilihatnya jam yang ada di atas mejanya. Masih jam 4 pagi. Masih banyak waktu tersisa sebelum Lucas datang. Marius kembali melanjutkan memutar video yang belum selesai dia tonton semalam.


#


(video played at 30.12.48)


"Dimana kamu meletakkan ular mainan itu?"


"Selalu kubawa bersamaku."


"Jangan lupa letakkan di ...."


#


Marius segera berlari meninggalkan ruang kerjanya. Kepalanya terus berteriak memanggil nama Ana. "Semoga dia belum melihatnya," harapnya.


Dilihatnya David dan dua orang pengawal lainnya sedang melakukan patroli terakhirnya sebelum jam tugas mereka berakhir.


"David! Ikut denganku!," teriak Marius.


Segera Marius berlari ke kamar Ana di lantai atas. David dan seorang pengawal lainnya menyusul Marius dari belakang.


Marius menggedor pintu kamar Ana berkali-kali. Tak lama kemudian, Ana keluar dengan raut wajah keheranan melihat Marius dan juga David beserta anak buahnya.


Marius segera menarik Ana dan memeluknya. Dia menahan kepala Ana agar tidak dapat melihat ke arah lain.


"Segera cari!," perintah Marius.


David dan anak buahnya langsung bekerja melaksanakan perintah Marius. Ana yang masih dalam pelukan Marius terlihat kebingungan dengan semua ini.


"Ada apa?," bisik Ana yang melirik ke atas untuk melihat Marius.


"Ketemu!," teriak David sambil mengangkat ular mainan yang dikatakan Marius sebelum mereka naik ke lantai atas.


"Tutup saja matamu," perintah Marius lembut. Dan Ana menurutinya.


Marius memberi perintah pada David untuk membawa mainan itu keluar. Saat David melewatinya, Marius menutup mata Ana dengan tangan kirinya, meski Ana sendiri masih menutup kedua matanya.


Setelah David benar-benar pergi dari tempat itu, Marius melepaskan pelukannya. Ana yang sudah terbebas, segera menanyai Marius.


"Ada apa pagi-pagi begini?," tanyanya.


"Seseorang meletakkan ular di ..."


"Ular?!?"

__ADS_1


Tiba-tiba, Ana terjatuh. Dia pingsan di depan Marius.


"Ana!," Marius berteriak memanggil nama Ana berkali-kali. Tapi Ana tetap tak sadarkan diri.


__ADS_2