Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 66


__ADS_3

"Selamat siang, Tuan Marius."


Marius menatap Noel yang sedang berdiri di dekat pintu ruangan VIP dari sebuah restoran mewah. Kedua matanya menatap Noel dengan pandangan keheranan. Dia hanya tahu hari ini adalah jadwal pertemuannya dengan Tuan Fernando, kakek dari Noel, tapi dia tidak menyangka bahwa Noel akan melakukan pertemuan itu dengannya.


"Maaf, ya. Aku terlambat keluar dari rumah sakit karena ada banyak kunjungan pasien hari ini. Belum lagi kemacetan jam segini. Semoga aku tidak membuatmu menunggu terlalu lama," jelas Noel dengan santainya di tengah pandangan Marius yang tidak bisa dikatakan santai.


Marius memberikan tanda pada waiter yang sudah menunggu di ruangan itu untuk memberikan buku menu pada Noel. "Cappucino saja," katanya sambil menyerahkan kembali buku menu itu.


"Hmm ... Bagaimana menjelaskannya, ya? Aku tahu kamu pasti kaget karena aku yang datang dan bukan kakekku. Tapi, dia memintaku untuk datang karena untuk ke depannya dia ingin aku tetap melakukan itu," jelas Noel.


"Kakekku seperti yang kamu tahu, dia sudah tua. Dia ingin menikmati masa tuanya di luar negeri. Karena itu, dia menyerahkan saham DYNE yang dia miliki padaku. Dia bilang itu warisan darinya sebelum dia meninggal."


Noel menghela napasnya perlahan. "Padahal sudah kubilang berkali-kali jangan berkata seperti itu."


"Jadi, kamu yang akan menggantikan Tuan Fernando ke depannya?," tanya Marius.


"Begitulah ... Masalah legalitas masih diurus oleh pengacara," jawab Noel.


"Jadi ... apa yang membuat Tuan Marius ingin bertemu dengan ... kakekku?," tanya Noel setelah waiter yang mengantarkan pesanannya keluar dari ruangan itu.


"Aku akan langsung saja. Mengenai rapat dewan komisaris yang akan datang. Aku meminta bantuanmu untuk berada di pihakku selama proses voting. Sebagai gantinya, aku akan memberikan keuntungan yang sepadan sesuai dengan kerjasama ini," jelas Marius. Sikapnya yang tegas saat mengatakan itu membuat orang akan sulit meragukan semua yang dikatakan Marius.


"Apakah ini tentang pertunanganmu? Karena Tuan Barnett baru-baru ini menemuiku dan mengatakan hal yang sama sepertimu," kata Noel setelah dia menyeruput kopi yang ada di depannya.


"Kamu akan mempertimbangkan tawarannya?," tanya Marius setelah untuk beberapa saat mereka terdiam.


"Entahlah ... aku hanyalah seorang dokter. Aku tidak terlalu paham tentang bisnis seperti ini. Aku lebih suka menikmati hasilnya. Jika bicara tentang bisnis, aku tidak bisa mengatakan tawaran Tuan Barnett mengecewakan." jelas Noel yang masih dengan sikapnya yang santai.


"Kakekku juga selalu mengatakan dia sangat menyukaimu. Karena itu pada setiap rapat dewan komisaris dia selalu mendukungmu. Tapi sayangnya ... aku bukan kakekku."


"Aku belum mendengar tawaran darimu. Tapi aku yakin tawaran dari Tuan Barnett memberikanku lebih banyak keuntungan. Meski dia tidak menyebutkannya, tapi aku yakin kalau aku mendukungmu, kamu tidak akan bisa memberikan aku keuntungan ini."


Marius mulai merasakan ketegangan di sekujur tubuhnya. Tatapan matanya mulai menunjukkan bahwa dia tidak menyukai apa yang sedang dia dengar.


"Kamu sedang membicarakan Ana?," tanya Marius.


Noel kembali menyeruput kopinya. Dia tidak mengatakan apapun setelah itu. Hanya menatap lurus ke arah Marius dari balik kacamatanya. Tidak ada kebencian atau kemarahan di sana. Hanya memandangi saja.


"Aku akan mendukungmu dalam rapat dewan komisaris, asalkan ... kamu memberikan Ana untukku," kata Noel.


Tidak seperti Marius yang terus memperlihatkan kemarahannya, Noel masih mempertahankan sikap tenang dan santainya.


"Sepertinya pembicaraan ini tidak perlu saya lanjutkan lagi. Silahkan lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak akan menyepakati apapun."

__ADS_1


Marius baru akan beranjak dari tempat duduknya, ketika dia mendengar Noel tertawa dan membuatnya kebingungan.


"Haha ... aku bercanda, aku bercanda. Duduklah," kata Noel.


Marius yang baru saja mengangkat tubuhnya, kini duduk kembali di atas tempat duduknya. Dia melipat kedua tangannya seakan sedang menunggu Noel memberikan penjelasannya.


"Haha ... Maaf, maaf. Aku memang menyukai Ana. Tapi aku tahu siapa yang sebenarnya dia sukai. Kalau aku melakukan itu, aku yakin dia akan menjauhiku." Tawa Noel masih mendominasi ruangan tempat mereka berada.


"Tentu aku akan mendukungmu. Kakekku juga berpesan begitu," lanjut Noel. "Tapi, aku tetap mengajukan persyaratan."


"Jika tentang Ana ..." Sebelum Marius menyelesaikannya, Noel memotong kalimat itu.


"Izinkan aku untuk makan malam dengannya."


Marius menatap tajam ke arah Noel. Dia terdiam sejenak memikirkan tawaran lain yang bisa dia ajukan.


"Aku tahu kamu menolongnya dari para fans, dan juga selalu menemaninya. Aku akan memberikan kompensasi untuk itu sebagai rasa terima kasihku," kata Marius.


"Ayolah ... hanya untuk tiga jam saja. Hanya makan malam," rengek Noel.


"Atau kamu ingin aku menyumbang untuk salah satu rumah sakitmu?," kata Marius yang masih bersikeras dengan keputusannya.


"Oke, oke ... dua jam." Noel juga tidak kalah dengan tawarannya.


"Oke! Sepakat!," seru Noel sembari mengulurkan tangannya.


"Hanya jika Ana menyetujuinya. Jika tidak, kamu tidak boleh memaksanya, dan itu adalah kerugianmu sendiri," tegas Marius.


Noel menyetujuinya, dan Marius menerima jabatan tangan Noel yang terlihat puas dengan kesepakatan ini. Tapi Marius, dia cukup menyesalinya.


Tak lama setelah itu, ponsel Marius berbunyi. Dia terlihat terkejut saat melihat nama yang terlihat dalam ponselnya adalah Ana.


"Halo ... ada apa? ... Rain? ... Oke, tenanglah. Aku akan menghubungi dokter," kata Marius.


"Ada apa? Rain sakit?," tanya Noel setelah Marius memutuskan panggilan itu. Dari apa yang didengarnya, hanya itu yang bisa dia simpulkan.


"Ehm ... dia demam," jawab Marius.


"Ayo, kalau gitu. Kita ke rumahmu sekarang."


Marius lupa kalau Noel juga adalah dokter. Dia terlihat terkejut sesaat ketika Noel berinisiatif mengajaknya ke rumah.


Pada akhirnya, dengan mobil masing-masing, Marius dan Noel berangkat meninggalkan restoran itu.

__ADS_1


......................


Ana memandangi Noel yang saat ini sedang memeriksa Rain dengan tatapan penuh kekhawatiran. Wajah Rain terlihat pucat karena demamnya yang tinggi. Ana masih sempat mengukurnya tadi, 39 derajat. Cukup tinggi untuk anak seusia Rain. Karena itu, dia panik lalu menghubungi Marius.


Dia cukup terkejut ketika dia melihat Marius pulang bersama Noel. Tapi dia tidak mau ingin tahu lebih dalam lagi. Baginya, Noel juga dokter, selama itu bisa membantu Rain, maka siapa saja tidak masalah.


"Tidak apa-apa. Hanya flu biasa. Cuacanya memang sangat buruk akhir-akhir ini," jelas Noel sembari membereskan peralatannya ke dalam tas miliknya.


"Aku akan meresepkan obat untuk demam dan pileknya," lanjut Noel lagi.


Ana masih duduk di bibir tempat tidur Rain sambil terus memegangi tangan mungilnya. Marius yang berdiri di belakangnya terus membelai lembut rambut Ana untuk menenangkannya.


"Rain harus banyak makan, ya. Meskipun tidak enak rasanya, tetap dipaksa makan, agar cepat sembuh, ya," pesan Noel pada Rain. Gadis kecil itu hanya mengangguk lemah untuk menjawabnya.


Setelah semuanya selesai, Noel akhirnya pamit pulang dan Marius ikut mengantarkannya keluar. Ana masih tetap bersama Rain.


"Rain mau makan sesuatu?," tanya Ana. Tapi Rain menggelengkan kepalanya.


"Rain mau apa? Bilang sama Kak Ana ya," kata Ana yang masih menatapnya khawatir.


Rain hanya menatap Ana dengan tatapannya yang layu. Dia terlihat lemas. Tapi Rain berusaha bangun dan berdiri memeluk Ana.


"Mommy ... Can I call you mommy?," tanya Rain lemah. Kepalanya tersandar di bahu Ana.


Tepat di saat Rain menanyakan itu, tepat itu juga Marius baru kembali dari mengantarkan Noel. Dia yang mendengar Rain mengatakan itu, hanya mengeluarkan senyum tipisnya.


"Tentu, tentu saja, sayang ...," jawab Ana antusias, tapi dengan air mata yang jatuh dari keduanya.


Ana memeluk Rain dengan lembut. Dia masih ingat Rain saat ini sedang sakit, dan tidak berani memeluknya erat.


Tak lama kemudian, Rain tertidur dengan sendirinya. Mungkin kelelahan karena energinya yang tidak banyak saat sakit, Rain jadi cepat tidur di pelukan Ana. Dengan perlahan, Ana menidurkannya di atas tempat tidurnya. Marius membantu membuka selimut Rain agar bisa dipakai menyelimuti Rain di atasnya.


Perlahan-lahan, pintu kamar Rain terbuka, dan terlihat Lucas masuk ke dalamnya.


"Marius ... Val ... memaksa ingin bertemu," bisik Lucas.


"Mau apa dia?," tanya Marius yang juga ikut berbisik.


"Dia ..." Lucas terlihat ragu saat dia melirik ke arah Ana.


"Katakan," tegas Marius seakan tidak masalah baginya jika Ana mendengarnya.


"Dia ingin bicara tentang hak asuh."

__ADS_1


Ana langsung menatap Marius yang terlihat menahan amarahnya. "Apa yang diinginkan Valerie?," tanya Ana dalam hatinya.


__ADS_2