
Setelah berada di rumah sakit selama beberapa hari, Ana akhirnya diperbolehkan pulang. Doni memutuskan untuk membawa Ana pulang ke rumah. Meski sebenarnya, Marius yang memintanya.
"Biarkan Ana pulang ke rumah setelah dia keluar dari rumah sakit, Om. Mungkin dia merindukan rumahnya," kata Marius yang sedang berbicara di depan kamar Ana, meninggalkan Ana dengan Naomi di dalam.
"Apakah terjadi sesuatu di antara kalian?," tanya Doni yang juga heran dengan perubahan sikap Ana.
"Tidak ada. Mungkin karena dia masih memikirkan kejadian itu. Dan om adalah orang terdekatnya. Dia pasti merindukan Om," jawab Marius.
Doni tidak dapat menemukan alasan lain untuk menjawab pertanyaan yang juga mengganjal di hatinya itu. Mengapa Ana tiba-tiba jadi begitu jauh dengan Marius? Mengapa Ana tiba-tiba ingin minta pulang? Padahal mereka baik-baik saja sebelumnya.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan penjahat-penjahat itu?," tanya Doni tiba-tiba.
"Mereka akan kuserahkan ke polisi, setelah semuanya sudah selesai. Tapi untuk saat ini, mereka harus menyelesaikan banyak hal denganku," jawab Marius. Meski dia sedang berbicara dengan Doni, tetap saja dia tidak dapat menyembunyikan amarahnya.
......................
Marius kembali ke tempat dimana dia pernah menyekap orang-orang yang pernah mencoba menculik Rain dan juga melukai Ana. Suara teriakan kesakitan orang-orang memenuhi seluruh sudut gudang tua itu.
Setelah Ana terluka, Marius segera membawa Ana ke rumah sakit. Lucas dan pengawal lainnya tetap berada di sana melakukan tugas mereka untuk menangkap semua orang yang terlibat, termasuk Ted.
Tidak semua orang bisa ditangkap. Sebagian besar berhasil melarikan diri. Sedangkan, sebagian sisanya, termasuk juga Ted berhasil ditangkap dan disekap di gudang tua.
Selama Marius sibuk dengan Ana di rumah sakit, Lucas lah yang bertugas menginterogasi Ted dan anak buahnya. Dia berusaha mendapatkan informasi dari Ted siapa yang menyuruhnya.
Beberapa orang sudah dilepaskan setelah dihajar habis-habisan oleh pengawal Marius. Beberapa lainnya, masih menunggu saat untuk mereka dibebaskan.
Setelah berkali-kali dihajar hingga babak belur, Ted akhirnya mau mengatakan siapa orang yang menyuruhnya. Dan saat ini, Marius sedang menanti kedatangan orang itu. Beberapa pengawal yang dia tugaskan untuk membawanya sedang dalam perjalanan menemuinya.
Setelah sekian lama menunggu, pintu gudang itu terbuka, dan para pengawalnya sedang membawa seorang pria yang sedang ditutup wajahnya. Mereka menyeretnya kasar, lalu mendudukkannya di sebuah kursi yang ada di depan Marius.
__ADS_1
Ketika penutup wajah pria itu dilepas, orang itu langsung mengamati sekelilingnya, dan berakhir dengan menatap Marius yang ada di hadapannya. Lalu, dia memberikan senyumnya yang sinis.
"Suatu kehormatan bagiku, Tuan Marius Edmond Hadinata ingin bertemu denganku."
"Tidak perlu berbasa-basi lagi. Katakan padaku, apa yang diinginkan seorang Dylan Miller Anderson dariku? Aku rasa DYNE tidak pernah mengganggu ANDERS Entertainment," tanya Marius dengan tatapannya yang tajam.
Dylan, pria itu, hanya tertawa sinis menanggapinya. "Kamu mungkin salah orang. Aku tidak memahami maksudmu."
"Benarkah? Tapi aku rasa orangmu tidak akan salah mengenalimu," kata Marius sambil memberi tanda pada pengawalnya untuk membawa Ted ke hadapan mereka.
Ted yang wajahnya sudah penuh luka lebam bersujud di hadapan Marius dan juga Dylan yang sama sekali tidak mau menatapnya.
"Aku tidak mengenalnya. Untuk apa aku mengenalnya?"
Tak lama kemudian, sebuah laptop dihadapkan pada Dylan dengan foto-foto dirinya bersama dengan Ted sedang melakukan pembicaraan serius di sebuah tempat. Lalu, sebuah rekaman video CCTV, yang memperlihatkan dirinya sedang berbicara dengan Ted.
"Beberapa waktu lalu, saat para preman suruhanmu mencoba lagi untuk menculik putriku, kalian sedang bersama di sebuah coffee shop, dan menyaksikan pertunjukkan dari atas. Aku rasa kamu cukup mengenali siapa yang ada di dalam gambar ini," kata Marius.
"Haha ... Sepertinya aku tidak bisa mengelak lagi," kata Dylan yang masih saja terdengar sinis.
Marius tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Dylan tajam, menunggu pria itu mengatakan apa yang sudah dia tanyakan sebelumnya. Apa yang Dylan inginkan dari Marius?
"Mengapa kamu tidak tanyakan langsung pada Valerie? Semua ini gara-gara dia," jawab Dylan dengan kasar.
Marius terkejut karena sekarang masalah ini membawa nama Valerie di dalamnya.
"Apa hubungannya masalah ini dengan Valerie?," tanya Marius.
Dylan hanya mendengus kasar. "Dia hanya teman tidurku. Tapi, dia menganggap aku kekasihnya. Hah! Manusia macam dia mau jadi kekasihku. Dia pikir aku tidak tahu, dia hanya ingin aku menjadikannya artis besar di bawah ANDERS."
__ADS_1
"Itu hubunganmu dengan Valerie. Bukan urusanku. Tapi mengapa kamu melibatkan putri dan kekasihku?"
"Kamu pikir aku tidak tahu? Anak itu adalah anak Adam, kan? Kamu hanya membantu kakakmu mengasuh anak itu. "
"Kalau kamu tahu, itu berarti kaitan antara Valerie dan anakku semakin menjauh dari permasalahan ini. Jangan berputar-putar! Langsung saja katakan apa yang kamu inginkan dari putriku?," bentak Marius.
"Karena dia bilang anak itu adalah anakku!," bentak Dylan.
Marius terkejut mendengar perkataan Dylan. Tangannya terkepal sangat keras. Dia siap memukul wajah Dylan saat itu juga. Tapi dia sedang menahannya dengan sangat kuat. Masih banyak hal yang harus dia ketahui.
"Valerie itu benar-benar gila! Dia ingin katakan pada semua orang kalau anak itu adalah anakku. Aku harus membuktikan kalau anak itu bukan anakku! Atau dia akan menghancurkanku, menghancurkan ANDERS yang sudah kubangun bertahun-tahun!"
"Aku hanya butuh anak itu untuk melakukan tes DNA. Karena itu aku merencanakan penculikan itu. Karena hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa mendekati anak itu. Tapi kamu malah menangkap orang-orangku."
"Saat aku melihat gadis itu ketika pengawalmu menangkap orang-orangku, aku langsung tahu dia adalah orang yang penting bagimu. Aku mulai menyelidikinya. Aku berpikir dia pasti bisa menghubungkanku denganmu. Dan ternyata benar."
"Apa yang akan kamu lakukan dengan hasil tes DNA itu?," tanya Marius.
"Jika hasilnya negatif, aku berencana mengembalikannya padamu."
"Dan jika positif?," tanya Marius lagi.
"Dan jika positif ... aku, aku ..." Dylan terlihat ragu menjawab pertanyaan Marius. Dia sepertinya tidak tahu harus melakukan apa jika hal itu benar-benar terjadi.
"... aku akan mengurungnya selamanya. Tidak akan aku biarkan dia bebas berkeliaran kemanapun. Dia harus sembunyi agar tidak ada orang yang tahu kalau aku memiliki anak haram dengan Valerie. Hahaha ..."
Tanpa berpikir panjang lagi, Marius melayangkan pukulannya ke wajah Dylan berkali-kali. Amarahnya benar-benar sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Dia-adalah-anak-Adam-!!!"
__ADS_1
Marius terus menerus memukul Dylan tanpa henti. Dylan bahkan sudah hampir pingsan karenanya. Jika bukan karena Lucas yang menariknya, Marius masih akan terus memukulnya.