
Ana belum bergerak dari tempatnya berdiri. Dia masih menatap lurus ke arah Marius dengan banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Sedangkan pria itu, dia hanya melihat Nora tanpa mempedulikan Ana sama sekali.
"Seharusnya dia bisa menjelaskan sesuatu padaku. Setidaknya dia beri tahu aku kalau dia sudah kembali. Apa susahnya itu?," kata Ana dalam hatinya.
"Kamu tidak ingin menyapanya, sayang? Kukira kalian saling kenal?," tanya Nora pada Marius, meski kedua matanya terus menatap Ana.
"Bukankah sudah kukatakan dia hanyalah pengasuh?," jawab Marius tanpa beban sama sekali.
Ana ingin tidak mempercayai telinganya, tapi suara Marius terlalu jelas untuk Ana mencari alasan agar bisa menyangkalnya. Marius benar-benar mengatakan dirinya pengasuh.
"Jadi sekarang aku seorang pengasuh?," tanyanya dalam hati. Dia masih kuat menahan air matanya, meski rasanya terdengar sangat sakit.
"Ah, iya. Maaf sayang, aku lupa," kata Nora seraya mencium Marius kembali.
"Bagaimana jika nanti aku carikan pengasuh terbaik untuk Rain? Kamu tidak keberatan, kan?"
"Tidak. Lakukan saja yang menurutmu baik. Kamu bebas melakukannya," jawab Marius tanpa ragu sedikitpun.
Ana tidak menunjukkan reaksi apapun melihat pemandangan itu. Dia sudah tidak menampakkan raut wajah terkejutnya. Dia juga berusaha agar tidak memikirkan apapun lagi. Karena dia tahu, sekali dia berpikir, dia akan marah lalu menangis, dan akhirnya kalah, karena Nora sedang menunggunya untuk itu.
Ana merasa jawaban yang dicarinya sudah cukup. Dia sudah tidak mau tahu lagi sisanya. Dia tahu terlalu lama berada di sana hanya akan menambah kesenangan Nora.
"Saya meninggalkan Rain sendirian. Karena saya masih adalah pengasuhnya Rain, jadi saya minta maaf saya tidak ikut makan siang bersama kalian. Terima kasih sudah mengundang saya," kata Ana. Dia langsung berbalik begitu saja tanpa menunggu Nora atau siapapun menjawabnya.
"Ana?"
Ana terkejut melihat Noel sedang berdiri di hadapannya. Dia langsung memanfaatkan kesempatan itu.
"Ah, dokter Noel. Hari ini dokter ada jadwal memeriksa Rain, kan? Kita sekalian kesana, ya?"
Ana tidak menunggu Noel untuk menjawabnya. Dia langsung mengalungkan lengan Noel, lalu menariknya keluar dari sana.
"Tolong, keluarkan aku dari sini," katanya berbisik hingga hanya Noel yang bisa mendengarnya.
Noel langsung memahami maksud Ana. Tanpa basa-basi lagi, dia mengikuti langkah cepat Ana untuk segera menghilang dari sana.
"Tunggu ... tunggu sebentar ...," kata Ana menghentikan Noel untuk berjalan lagi setelah mereka sudah berada di tempat parkir, jauh dari pandangan orang-orang suruhan Tuan Barnett.
Ana mengatur napas pelan-pelan, mengipasi wajahnya untuk menghalangi air matanya jatuh. Setidaknya jangan di depan Noel juga, begitu pikirnya.
"Kamu tidak apa-apa?," tanya Noel khawatir. Dia terlihat cukup khawatir saat sedang memeriksa wajah Ana.
Ana segera mengelak. "A-aku tidak apa-apa. Sebentar ..."
Ana kemudian mengalihkan wajahnya dari pandangan Noel. Dia tidak ingin Noel melihat wajahnya yang saat ini.
"Aku antar kamu pulang gimana?," tanya Noel tiba-tiba. "Atau kamu mau ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran?"
Tawaran dari Noel terdengar menyenangkan di telinga Ana. Lebih menyenangkan dari yang dia dengar tadi di dalam restoran.
"Kemana pun yang kamu inginkan, katakan saja. Aku akan mengantarkanmu. Setidaknya kita pergi dulu dari sini, ya," ajaknya lagi.
__ADS_1
Noel benar. Setidaknya keluar dulu dari sini. Sebelum ada yang melihatnya marah-marah disini, lalu melaporkannya kepada Nora. Dan wanita itu tertawa bangga, begitu pikir Ana.
"Hmm ... aku rasa aku pulang saja. Rain mungkin sekarang sedang mencariku," kata Ana.
"Siap laksanakan."
......................
Dua hari berlalu setelah kejadian itu, dan Marius masih tetap tidak menghubunginya. Dia juga tidak pulang. Entah di mana dia tidur selama ini.
Tapi, Ana sudah tidak mau mengejar jawaban untuk semua pertanyaannya. Dia sudah mulai yakin bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu, termasuk Naomi dan Lucas.
Naomi, sahabatnya adalah yang paling mencurigakan. Dia bilang dia tidak tahu apapun. Tapi, Ana yakin Naomi berbohong. Karena Naomi tidak pernah menemuinya semenjak Ana bertanya padanya tentang pernikahan Marius waktu itu. Ini sama sekali bukan Naomi yang Ana kenal.
Yang membuat Ana kesal adalah tidak ada satupun dari mereka yang mau menjelaskan sesuatu padanya. Dan mereka jelas sekali terlihat sengaja melakukannya. Mereka seperti sedang merahasiakan sesuatu darinya, tapi di saat yang bersamaan mereka ingin Ana tahu bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
Seperti yang dilakukan Marius saat ini. Dia mengirimkan seorang manajer toko bersama asisten-asistennya untuk membantunya memperlihatkan koleksi gaun dari tokonya kepada Ana.
"Tuan Marius meminta Nona Ana memilih gaun untuk Nona dan juga untuk Nona Rain," kata manajer itu.
"Aku tidak perlu gaun. Seperti yang Nora bilang, aku cuma pengasuh. Biar aku bantu pilihkan untuk Rain," kata Ana seraya meminta katalog dari manajer itu.
Tapi, manajer itu malah berkata, "Tuan Marius berkata, jika Nona Ana tidak memilih satu pun dari koleksi kami, Tuan Marius juga tidak akan membeli apa pun dari toko kami." Manajer itu memamerkan wajah memelasnya di hadapan Ana, diikuti para asistennya.
"Tuan Marius juga berkata, Nona Ana harus memilih masing-masing paling sedikit sepuluh gaun untuk Nona Ana sendiri dan juga Nona Rain," kata manajer itu lagi menambahkan.
"Apa?! Sepuluh? Itu terlalu banyak!," kata Ana hampir berteriak.
"Mana ada majikan yang menyuruh pengasuhnya memilih sepuluh gaun? Dia sengaja melakukan ini," pikirnya kesal. "Kenapa tidak jelaskan saja semuanya secara terbuka daripada begini?"
................
Hari H.
Ana berdiri di depan cermin yang menampilkan dirinya dengan gaun yang dia pilih kemarin. Gaun itu terlihat sangat cantik. Simple tapi cantik. Dia sangat menyukainya. Karena itu dia memilihnya kemarin.
"Meskipun harimu buruk, setidaknya jika penampilanmu bagus, suasana hatimu juga ikut bagus," kata Ana. Dia bergaya di depan cermin seakan sedang memamerkan dirinya.
Tak lama kemudian, Rain datang dengan gaun yang sama dengannya. Yang berbeda hanyalah ukurannya. Ana sengaja memilih gaun mereka agar bisa sama. Dia juga sengaja agar bisa dikenakan hari itu.
"Nora palingan juga ngamuk-ngamuk," kata Ana seraya menahan cekikiknya. "Tapi dia tidak akan menggila, karena hari ini hari pernikahannya. Dia tidak akan tega menghancurkan dandanannya."
"Mommy ... are you okay?," tanya Rain yang khawatir melihat Ana ketawa sendirian.
"Oh maaf, Rain. Mommy baik-baik saja," jawab Ana. "Kita berangkat?"
"Yaayy ..."
Rain belum tahu kemana tujuan kita. Dia hanya tahu mereka akan pergi ke sebuah pesta.
"Entah apakah menunjukkan dirinya menikah pada Rain juga termasuk dalam rencananya atau tidak?," pikir Ana. Tapi Ana berharap Marius tidak melakukannya.
__ADS_1
................
Mobil yang Ana dan Rain tumpangi berhenti di sebuah villa yang berada di atas sebuah bukit dengan pemandangan laut di belakangnya. Ketika Ana tiba di sana, tempat itu sangatlah sepi. Ada banyak hiasan pernikahan di sana, tapi Ana tidak melihat satupun tamu ataupun pengantinnya itu sendiri.
Ana turun dari dalam mobil dengan raut wajah yang penuh keheranan. Dia tidak pernah melihat pesta pernikahan sesepi ini.
"Apakah pestanya sudah selesai?," pikir Ana.
Dari depan pintu villa, Ana melihat David sedang berlari ke arahnya.
"Nona Ana, tolong biarkan Nona Muda Rain ikut dengannya," kata David seraya menunjuk salah satu pengawal yang Ana duga adalah anak buah David.
"Jangan khawatir, Nona Ana. Tuan Muda Ryu sudah menunggu di ruangan lain."
"Naomi sudah datang? Aku akan ikut dengan Rain kalau begitu." Ana yang sudah menggandeng Rain sudah akan membawa Rain melangkah, tapi kemudian David mencegahnya.
"Tidak. Nona Ana akan ikut dengan saya."
"Ke mana?"
"Ke ruangan lain, Nona Ana. Semua orang sedang menunggu Nona, termasuk Tuan Marius."
Ana terkejut mendengar David mengatakan itu. "Mengapa mereka menungguku?", pikir Ana.
Tidak ada pilihan lain yang bisa dipilihnya selain mengikuti perintah David. Ana akhirnya mengikuti David yang membawanya ke dalam villa menuju ruangan lain, setelah dia menyerahkan Rain pada pengawal yang telah ditunjuk oleh David.
Ana merasa sangat gugup saat dirinya berdiri di sebuah pintu besar sebuah ruangan. Dua orang pengawal yang Ana kenali sebagai anak buah David lainnya, sedang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu itu.
David berdiri di depannya menghalanginya masuk terlebih dahulu. Tapi kemudian, dia berbicara dengan alat komunikasi yang ada di telinganya.
"Jasmine sudah tiba," kata David.
Meski Ana tidak memahami apa maksud dari semua ini, dia tetap berdiri menunggu David menyuruhnya untuk masuk. Degup jantungnya sedari tadi dapat didengarnya menambah rasa gugupnya.
"Nona Ana, bersiaplah." Secara otomatis, Ana langsung menarik napasnya, lalu membuangnya perlahan. Dia sedang berusaha mengeluarkan rasa gugupnya.
Aba-aba selanjutnya yang disampaikan oleh David adalah aba-aba yang ditujukan untuk kedua pengawal yang ada di depan pintu.
"Buka pintunya."
Saat pintu itu dibuka, Ana melihat kamera blitz yang menyilaukan matanya bersahutan menyala. Berulang kali, kedua matanya bereaksi untuk menghindari kilatannya. Saat Ana sudah terbiasa, dia dapat melihat dengan jelas orang-orang yang ada di dalam sana sedang memandangi dirinya.
"Nona Ana ...," bisik David memanggilnya. Ana pun langsung menoleh padanya.
"Ini saatnya Nona Ana masuk ke dalam."
Ana kembali memandangi ruangan yang pintunya kini sudah terbuka dengan lebar. Di ujung sana, dia melihat sepasang manusia sedang berdiri saling berhadapan dan juga memandangi dirinya dengan tatapan yang berbeda.
Ana mengenali pria itu dengan tuxedo mahalnya, berdiri dengan gagahnya dan tersenyum padanya. "Marius ...," panggilnya lirih.
Ana memandangi wanita yang ada di depan Marius. Dengan gaun pengantin yang pernah ditunjukkan padanya. Itu adalah ... "Valerie ..."
__ADS_1
Tapi, mengapa semua orang melihat ke arahnya? Bukankah pengantinnya ada di ujung sana? Ada apa dengan semua orang?