
"Iih, Nao ... itu kegedean. Gimana makannya?," teriak Ana yang tiba-tiba disodorkan potongan daging yang cukup besar oleh Naomi.
Tapi, Naomi tidak mempedulikan teriakan Ana. Dia terus mendorong food tongs yang menjepit potongan daging yang cukup besar ke mulut Ana. "Gigit aja udah ... Kamu tuh terlalu kurus. Makan daging yang banyak biar gemukan. Atau jangan-jangan Marius nggak kasih kamu makan ya?"
Ana tidak bisa mengatakan apapun karena Naomi memenuhi mulutnya dengan daging. Sedangkan Naomi hanya tertawa melihat pipi Ana yang membesar karena mulutnya yang sudah mulai penuh.
Dari kejauhan, Marius dan Doni sedang tertawa memandangi tingkah Naomi dan Ana, sebelum akhirnya kembali menikmati pemandangan pantai di malam hari. Sudah sedari tadi mereka berdiri di sana membicarakan banyak hal.
"Ana benar-benar tidak mengingat saat kamu mengantarkan dia pulang waktu dia dibikin setengah mabuk sama bosnya itu. Bener-bener anak itu," kata Doni kesal.
Marius hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Kemampuan minumnya sangat rendah. Belum lagi dia selalu lupa dengan kejadian waktu dia mabuk. Andre benar-benar memanfaatkan kelemahan anak kesayanganku," lanjut Doni lagi.
"Kalau bukan kamu yang selalu menjaganya setiap kali Andre mengajaknya, Ana mungkin ... ah, om nggak berani membayangkannya."
"Om tadi hampir mengatakannya pada Ana. Mengapa kamu tidak ingin Ana tahu?"
Marius tertawa lagi. "Biarkan dia mengingatnya sendiri, Om," katanya.
"Yang om sesali adalah mengapa dia melupakan semua ingatannya di umur 4 tahun, tapi justru menyisakan traumanya terhadap ular? Dia bahkan lupa siapa kamu. Padahal, om masih ingat betul, begitu Agnes menjodohkanmu dengannya, Ana selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi."
Mata Marius berubah menjadi penuh penyesalan mengingat kembali masa-masa itu.
"Semua salah saya, Om. Jika seandainya waktu itu saya tahu Ana mengikuti saya ... saya akan membuat Ana tetap di rumah. Dan orang-orang itu tidak akan membawa Ana juga. Tante Alya tidak akan sakit karena memikirkan Ana. Dan Ana ... dia tidak perlu mengalami trauma itu."
Doni memegangi pundak Marius dengan lembut. Selama bertahun-tahun, dia tahu Marius selalu dihantui dengan rasa bersalahnya. Bahkan ketika dia akan diberangkatkan ke Perancis, Marius terus berteriak memohon agar bisa bertemu dengan Ana. Tapi, saat itu bahkan Ana terus ketakutan setiap melihat Marius. Setiap kali dia melihat Marius mengingatkan dirinya pada kejadian saat dia dibawa oleh orang-orang asing dan disekap di hutan terpencil bersama Marius.
Ketakutan Ana yang saat itu masih berumur 4 tahun baru bisa reda ketika dokter memberinya obat dan beberapa terapi. Tapi, sejak saat itu, Ana seperti sedang mengunci ingatan buruk itu di kepalanya. Dia melupakan semuanya yang terjadi pada saat itu dan juga semua ingatannya di umur 4 tahun itu, termasuk Marius di dalamnya. Tapi menyisakan rasa traumanya pada ular setiap kali melihatnya.
Meski saat itu mereka masih kecil, baik Ana maupun Marius, mereka sama-sama membawa luka dari masa kecil mereka.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Marius. Alya meninggal karena kehendak Tuhan. Penyakit yang dideritanya memang sudah lama menggerogotinya. Itu bukan salahmu, Nak," kata Doni mencoba menenangkan Marius.
"Saat kalian diculik itu juga bukan salahmu. Mereka sudah lama memperhatikan kalian. Bahkan jika tidak hari itu, mereka akan kembali keesokan harinya. Mereka adalah orang yang seharusnya disalahkan. Karena melibatkan anak kecil seperti kalian saat itu dalam pertarungan bisnis Ernest ... itu adalah permainan kotor."
__ADS_1
"Om yang salah karena sudah mengungkit ini. Seharusnya om tahu, kamu masih belum bisa melupakannya. Tapi, om minta, berhentilah merasa bersalah. Baik itu Om Doni maupun Tante Alya, tidak ada dari kami yang menyalahkanmu ataupun Ernest dan Agnes. Alya justru mencemaskan dirimu bahkan di saat-saat terakhirnya."
Marius memandangi bulan purnama yang menggantung di atas langit. "Bagaimana aku bisa melupakannya jika Ana sendiri masih mengingatnya, meski itu hanya sekedar rasa takutnya pada ular? Trauma itu juga hadiah yang harus diterima Ana dari penculik-penculik itu," kata Marius dalam hatinya dengan perasaan perih di hatinya.
"Marius, Ana tertidur," panggil Naomi di kejauhan.
Marius dan Doni memandangi Ana yang tertidur di atas meja. Sementara Naomi terus memainkan pipinya.
"Biar saya yang bawa ke atas," kata Marius seraya berdiri dan menghampiri Ana.
Diambilnya perlahan lengan Ana dan diletakkannya di atas pundaknya. Lalu, dengan mudahnya dia menggendong Ana dengan kedua tangannya.
Setibanya di kamar, Marius meletakkan Ana perlahan. Dirapikannya selimut untuk Ana. Lalu, dia duduk di samping Ana, memandangi wajah cantik Ana dalam tidurnya.
Jari tangannya menyentuh dan membelai lembut pipinya. Ana bereaksi terhadap sentuhan Marius itu. Dia menggeliat kecil. Marius tidak berani lagi mengganggunya.
Sebelum akan pergi, Marius menciumi kening Ana perlahan. Cukup lama hingga Marius enggan rasanya untuk melepaskannya. Tapi, dia harus melepasnya, dan membiarkan gadis itu tidur nyenyak malam ini. "Bonne nuit et doux rêve, mon amour," bisik Marius pelan.
Saat Marius ke bawah Naomi sudah bersiap akan menyusul Ana ke kamarnya. Dilihatnya Doni sedang berdiri di depan nisan Alya. Doni terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu.
Marius berjalan meninggalkan Doni seperti yang disarankan Naomi. Dia juga tidak ingin mengganggu Doni dengan rasa rindunya. Begitu juga dengan Alya yang mungkin saja sedang hadir saat ini. Mungkin saat ini mereka sedang saling melepas rasa rindu mereka.
......................
"Kamu tidak kedinginan?," tanya Marius pada Ana yang sedang berdiri memandangi pantai dengan keindahan matahari terbitnya.
Ana sedikit terkejut mendengar suara Marius yang tiba-tiba. Karena sebelumnya dia sedang sendirian.
"Aku nggak apa-apa," kata Ana dengan memamerkan senyum di pagi harinya.
Marius mengambil blazer hitam miliknya yang sedari malam tergeletak di atas kursi. Dia membukanya agar blazer itu dapat menyelimuti Ana.
"Eh, tapi ... kamu ... "
"Pakai saja ... nanti kamu masuk angin. Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Oh ... makasih ..."
Setelah itu, keduanya menikmati pemandangan yang ada di hadapan mereka dalam keheningan.
"Marius ...,"panggil Ana dengan lembutnya.
"Hmm ..."
"Terima kasih ..."
"Untuk apa?"
"Karena ... sudah menjaga papa selama aku tidak bersamanya."
"Om Doni juga keluargaku. Aku punya kewajiban untuk menjaganya. Jangan terlalu dipikirkan," kata Marius sembari mengacak lembut rambut Ana.
"Aku yang seharusnya mengucapkan maaf padamu ... Karena aku ... ikut membohongimu."
Ana terdiam menatap Marius sebelumnya akhirnya memberikan jawabannya. "Awalnya aku memang marah ... tapi kini tidak lagi."
Marius menatapnya heran.
"Aku tetap ingin berterima kasih padamu ... Karena sudah mengijinkanku bertemu dengan Rain," kata Ana dengan senyumnya yang lembut. Dia memandangi Marius dengan tatapannya yang juga selembut senyumnya itu.
Marius dibuat tidak dapat berkata-kata ketika melihatnya. Dia seperti tenggelam dalam kelembutan yang diberikan Ana melalui ekspresi wajahnya. Angin pagi itu terasa tidak dingin lagi bagi Marius.
"Good morning ....," teriak Naomi seakan sengaja membuyarkan adegan pandang-pandangan yang sedang dilakukan oleh sahabatnya itu. Karena memang bukan Naomi jika tidak demikian.
"Kau mengagetkanku, Nao ...," teriak Ana kesal.
"Hahaha ... memang sengaja."
"Naomi!"
Marius terus memperhatikan Ana yang saat ini sedang mengobrol dengan Naomi. Dia tidak bisa berhenti menatap Ana. Yang diingatnya saat ini adalah senyuman Ana yang baru saja dilihatnya. Dan sekarang dia begitu serakah ingin melihatnya kembali.
__ADS_1