Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 56


__ADS_3

"Aku yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini. Semua ... salahku ..."


Ana mengangkat kedua tangannya dan memegangi tangan Marius yang saat ini sedang menutupi matanya. Dia genggam erat tangan Marius yang kokoh itu.


"Aku tidak pernah menyalahkanmu, Marius. Sama sekali tidak pernah. Memikirkannya pun tidak. Mengapa kamu merasa bersalah?"


"Semua yang terjadi juga bukan karena kamu menginginkannya. Tapi kamu mengatakan itu seakan-akan kamu yang menyebabkannya terjadi, padahal tidak demikian."


"Kamu terlalu mengkhawatirkan orang-orang yang ada di sekitarmu, Marius. Aku pernah mengatakannya padamu, jangan bawa beban itu sendirian. Aku juga bisa melindungimu."


Ana menunggu Marius mengatakan sesuatu. Tapi detik serasa menit, cukup lama Ana menunggu dan pria itu tidak mengatakan apapun.


"Marius ... kamu tertidur, ya?," tanya Ana.


Tidak beberapa lama kemudian, Ana merasakan tubuh Marius mendekati dirinya. Lalu, sesuatu menyentuh tangannya yang sedang memegangi tangan Marius.


Ana dapat merasakan jantungnya memberikannya sebuah dentuman yang cukup keras. Tangannya yang baru saja disentuh serasa meninggalkan rasa yang aneh ketika Marius mengangkat tubuhnya. Ana merasa seperti ada banyak kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya.


"Apakah dia baru saja mencium tanganku?," tanya Ana dalam hatinya.


Untung saja, tangan Marius sedang menutupi separuh wajahnya. Karena jika tidak, Marius akan bisa melihat wajah Ana yang saat ini sedang kemerahan.


"Besok aku akan mengirimkan David dan beberapa pengawal untuk berjaga di depan rumah. Mereka juga akan mengikutimu kemanapun kamu pergi," kata Marius tiba-tiba setelah cukup lama Ana tidak mendengar suaranya.


"Jangan! Nanti kalau mereka lihat pengawalmu disini malah membenarkan berita tentang hubunganmu dan aku," tolak Ana.


"Atau sebaiknya aku katakan saja pada mereka kalau kita sudah menikah, dan Rain adalah anak kita," kata Marius.


Tangan Ana tiba-tiba memukul lengan Marius yang sedang menutupi kedua matanya itu. "Itu sama saja!," seru Ana kesal. Meski demikian, Ana merasa sepertinya Marius sedang menggodanya.


"Ya sudah, biar wakilnya David yang akan berjaga. Dia tidak pernah terlihat bersamaku. Tugasnya hanya di area rumah, tapi dia sama hebatnya dengan David. Jadi, jangan khawatir."


"Aku tidak pernah khawatir soal itu," omel Ana lirih.


Malam itu, Marius cukup lama berada di samping Ana. Mereka membicarakan banyak hal sepanjang malam itu. Hanya beberapa jam saja, Ana menghabiskan waktunya bersama Marius malam itu, tapi hatinya sudah merasa tenang. Meski sebenarnya, di bagian lain dari hatinya mengatakan Marius masih menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, Ana tidak berani untuk menanyakannya.

__ADS_1


Entah jam berapa Ana mulai tertidur. Yang jelas ketika matahari mulai menyentuh wajahnya, tubuhnya sudah tertutupi oleh selimut. Tapi, Marius sudah tidak ada lagi di kamarnya.


"Jam berapa dia pulang semalam?," pikir Ana khawatir.


Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk untuk dirinya. Ana melihat sebuah video dikirimkan oleh Naomi.


"Mereka memang punya hubungan. Saya pernah dengar Pak Marius memanggil nanny nya itu dengan panggilan sayang. Bahkan anaknya juga memanggilnya mommy. Saya yakin mereka pasti sudah lama punya hubungan spesial."


Ana menghentikan video itu. Dia tidak mengenali siapa yang mengatakannya karena video itu diblur. Tapi, sudah cukup jelas, dia adalah salah satu dari orangtua murid dari sekolah Rain.


Ana tertawa kesal memikirkan hal itu. Semua itu gara-gara Marius. Dia tidak menyangka candaan Marius akan berbalik menyerang dirinya sendiri saat ini.


Tiba-tiba ponsel Ana berbunyi karena panggilan dari Naomi. Ana sudah bersiap jika Naomi akan memarahinya kali ini.


"Ana! Apakah yang dikatakan dalam video itu benar?," tanya Naomi yang setengah berteriak.


"Ahaha ... itu sudah lama. Marius waktu itu sedang bercanda," kata Ana dengan gugupnya.


"Bocah tua sialan. Dia memberiku pekerjaan, lalu dia sendiri yang merusaknya. Ini sama saja dia sedang melempariku dengan batu!," kata Naomi yang terdengar cukup marah.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Apakah separah itu efeknya?"


Naomi tidak langsung menjawab pertanyaan Ana. Dia terdiam sejenak. Ana mengira Naomi sedang memikirkan sesuatu. "Tidak, tidak. Jangan khawatirkan apapun. Kamu tetap di rumah saja, ya. Jangan kemana-mana. Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku. Sekarang, aku mau memarahi si bocah tua itu. Bye."


Tanpa menunggu jawaban dari Ana, Naomi memutuskan panggilannya begitu saja. Meski Naomi terdengar sangat marah, tapi Ana tertawa memikirkan Naomi yang akan memarahi Marius. "Aku jadi ingin tahu bagaimana kamu akan memarahinya, Nao."


Sudah jam 8 pagi, tapi kerumunan orang-orang sudah mulai berkumpul di depan rumahnya. Sama seperti kemarin, mereka membawa spanduk, lalu berteriak di jalan. Sepertinya saat ini Ana sudah dinobatkan sebagai ratu pelakor nasional.


Marius benar-benar mengirimkan para pengawalnya untuk berjaga di depan rumah. Ana bisa melihat dari jendela ruang tamu, para pengawal berjas hitam itu sudah berdiri di depan teras rumahnya hingga depan pagar rumahnya, menghalangi fans Valerie mendekati rumahnya. Entah ada berapa banyak pengawal di luar sana. Tapi, terlihat lebih banyak dari yang biasanya Ana lihat di rumah Marius.


Tepat di saat Ana sedang mengamati bagian depan rumahnya, dia melihat seorang pengawal yang ada di pagar depan sedang menghalangi seseorang untuk masuk. "Noel?," ucap Ana lirih.


Ana segera berlari menuju pagar rumahnya, tapi seorang pengawal yang berjaga di teras menghalangi Ana untuk mendekati pagar rumah.

__ADS_1


"Sebaiknya hanya sampai disini saja, Nona Ana," kata pengawal itu.


"Tolong ijinkan dia untuk masuk. Dia temanku," kata Ana. Pengawal itu langsung memberi tanda pada temannya yang lain untuk melakukan perintah Ana.


"Maaf jadi membuat kalian tidak nyaman." Entah sudah berapa kali Ana meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Aku yang salah karena tidak memberitahumu akan datang. Aku kemari membawakanmu sarapan dan juga dia ...," kata Noel sambil menunjuk seseorang yang ada di sampingnya.


"Dia ..."


"Sudah dua kali aku lihat kamu selalu gagal menemuinya. Jadi, daripada gagal lagi, aku bawa saja dia kemari."


"D-dia dokter A-aris?"


Noel terlihat sangat bangga melakukannya.


"S-seharusnya tidak perlu begini. Maaf, merepotkan ..." Lagi-lagi Ana harus meminta maaf karena apa yang dilakukan Noel. Dia merasa tidak enak.


"Ah tidak, tidak apa-apa. Aku diculik untuk menemui wanita cantik. Tentu aku tidak ... aaw ..."


Noel baru saja mendaratkan sikunya di perut Aris, yang tentu saja membuat Aris meringis kesakitan. "Obati saja pasienmu, jangan menggodanya!," kata Noel memarahi Aris.


Hampir satu jam Ana melakukan konsultasi dengan dokter Aris di ruang tamu. Sedangkan Noel menunggu mereka di teras depan. Ana sudah memaksa Noel untuk menunggu di dalam. Tapi, dia sendiri memilih untuk menunggu di luar.


"Biar bagaimanapun, itu rahasia antara kamu dan psikiatermu. Biar aku menunggu di luar saja. Jangan khawatir," begitu katanya.


Selama satu jam itu, Ana terus bercerita mengenai keadaan dirinya yang sedang dia hadapi saat ini. Dia bercerita apa yang dia hadapi 20 tahun yang lalu, hingga kejadian terakhir saat di gudang itu. Dia juga menceritakan akibat yang terjadi setelah itu.


"Hmm ... hal seperti ini biasa terjadi pada beberapa orang. Tapi, sepertinya yang kamu alami cukup unik."


"Unik?"


"Yang mengaktifkan ingatan 20 tahunmu itu sebenarnya adalah kejadian waktu di gudang. Saat itu kamu sudah mulai mendapatkan potongan kecil ingatan masa lalu. Dan ketika kepalamu mengalami benturan, semuanya seperti terbuka begitu saja."


"Lebih mudahnya kita bayangkan seperti sebuah gelas yang sudah retak. Saat kamu berada di gudang itu, kejadiannya meretakkan gelas memorimu. Isi di dalam gelas sedikit demi sedikit keluar. Lalu saat kepalamu terbentur, gelas itu pecah, dan semua isinya menjadi tumpah ruah."

__ADS_1


"Lalu ... mengapa aku ..."


"Mengapa kamu tidak bisa menatap teman masa kecilmu? Aku rasa ini ada kaitannya dengan perasaanmu sendiri saat kejadian itu. Apakah kamu pernah memiliki rasa benci padanya?"


__ADS_2