
Sebelum Rain dan teman-temannya keluar melalui pintu gerbang sekolah, semua penjahat itu sudah diringkus oleh David dan juga anak buahnya.
Sebuah mobil van putih datang dan orang-orang itu dimasukkan ke dalamnya. Ana tidak tahu kemana mereka akan membawanya. Ana hanya mendengar David berpesan pada sang supir, "Bawa mereka ke tempat biasa," sebelum akhirnya mobil itu melaju meninggalkan mereka.
Luka di tangan Ana masih terasa perihnya, meskipun sudah dia bersihkan dengan air tadi. Tapi, Ana terpaksa menahannya, karena dia harus menyembunyikannya dari pandangan Rain, atau anak itu akan takut melihatnya. Beruntung, luka itu ada di posisi yang bisa Ana tutupi dengan tubuhnya.
Sepulang sekolah, Rain yang keluar dengan wajah sumringahnya segera berlarian memeluk Ana yang sudah menunggunya di depan mobil. Dengan mobil yang sama, David meminta supir untuk membawa mereka, "Ke tempat Tuan Marius", begitu katanya.
Yang ternyata, tempat itu adalah Lorenzo Vins. Restoran mewah, tempat Ana bertemu dengan Marius untuk yang pertama kalinya. "Apakah tempat ini miliknya? Mengapa dia selalu membawaku kemari?," pikir Ana heran.
"Marius ingin kamu menemuinya, biar Rain ikut denganku," kata Lucas yang sudah menunggu mereka di depan pintu masuk.
"Marius?," tanya Ana.
"Dia terlihat sangat marah," bisik Lucas.
Sepertinya, Ana tahu ini tentang apa. Dia mulai merasakan hawa dingin yang menusuk di sekujur tubuhnya, meski matahari siang itu bersinar cukup terik.
Ana diantarkan oleh seorang pelayan restoran ke sebuah ruangan khusus VIP seperti yang diperintahkan Lucas. Saat pintu terbuka, Ana melihat punggung Marius yang berdiri membelakanginya.
Pelayan restoran itu meninggalkan Ana dan juga Marius di dalam ruangan itu. Ana hanya berdiri di belakang Marius, menundukkan kepalanya, menutup kedua matanya, dan mulai membayangkan apa yang akan dikatakan Marius padanya. Kepalanya sudah memberikannya gambaran betapa marahnya Marius saat memarahi dirinya nanti.
"APA KAMU SUDAH GILA, ANA? APA YANG KAMU LAKUKAN? BUKANKAH AKU SUDAH MENYURUHMU UNTUK JANGAN GEGABAH?"
Ana sudah menyiapkan mental dan hatinya agar bisa cukup kuat menghadapi omelan Marius. Dia berharap semoga amarah Marius tidak lebih buruk daripada Naomi.
"Kemarilah ..."
Video imajinasi yang ada di kepala Ana tiba-tiba berhenti berputar. Ana terkejut mendengar suara Marius yang lembut, tidak seperti yang dibayangkannya.
Dilihatnya Marius dengan lengan kemejanya yang sudah terlipat ke atas, hingga menonjolkan otot di kedua lengannya, semakin menunjukkan sisi maskulinitas dirinya. Beberapa peralatan untuk mengobati luka juga sudah tersedia di atas meja. Marius yang sudah duduk di salah satu kursi menunggu Ana untuk mendekat.
Ana ragu untuk maju, tapi Marius kembali memintanya untuk duduk di kursi yang ada di depannya. Perlahan, Ana mengikuti apa yang diminta Marius dengan wajah penuh tanya.
"Kemarikan tanganmu ..."
__ADS_1
Ana mengeluarkan tangannya yang terluka dengan ragu. Matanya tidak berhenti menatap heran Marius yang saat ini mengacuhkan tatapan penasaran Ana. Marius yang sudah tidak sabaran, menarik lembut tangan Ana yang terluka.
"Lucas bilang ... kamu sedang marah," selidik Ana.
"Aku memang marah ... pada orang yang melukaimu," kata Marius seraya menggulung ke atas lengan baju Ana.
Ana tidak tahu harus bilang apa. Dia sudah cukup terkejut mendengar jawaban Marius. Rasa terkejut Ana semakin bertambah saat Marius membersihkan lukanya dengan antiseptik. Rasa perihnya benar-benar tak tertahankan.
"Tapi, bukan berarti aku membenarkan apa yang kamu lakukan hari ini," kata Marius yang menatap tajam ke arah Ana, sementara tangannya masih terus bekerja pada luka Ana.
Ana tertawa dengan gugupnya melihat tatapan Marius yang seakan seperti sedang menusuknya.
"Hari ini, kamu hanya beruntung, Ana," kata Marius yang sekarang sedang mengoleskan luka Ana dengan krim yang dia tidak tahu apa itu. Tapi sensasi dinginnya memberikan sedikit lonjakan kejut bagi Ana. Marius mungkin mengira Ana kesakitan, karena sesekali dia meniup luka itu.
"Bagaimana jika yang dia bawa hari ini bukan pisau kecil? Bagaimana jika hari ini kamu terlambat menghindar? Apakah kamu akan baik-baik saja?"
Marius terdengar cukup marah, tapi tatapannya terlihat lebih lembut.
"Menurutmu, apakah Rain akan senang melihatmu terluka?"
"Aku tidak bilang, usahamu itu percuma. Tapi ..."
Dengan kuatnya, Marius menarik kursi Ana agar mendekat dengannya. Jarak di antara mereka kini menjadi sangat dekat. Ana yang terkejut hanya bisa melihat kedua mata Marius yang saat ini sedang mengunci dirinya dengan tatapannya itu.
"... Aku tidak ingin ada lain kali, Ana. Jangan buat dirimu terluka di kemudian hari. Karena ... bukan hanya Rain yang akan tidak senang."
Jantung Ana tidak berhenti berdegup kencang. Kedua mata Ana tidak dapat berhenti melihat Marius yang saat ini ada di depannya. Tidak ada jawaban lain yang diberikan Ana selain menganggukkan kepalanya. Yang ada di pikirannya saat ini, Marius benar-benar menyeramkan saat marah. Lebih seram dari Naomi, lebih seram dari yang dibayangkannya tadi.
Tiba-tiba Marius tersenyum, lalu Ana merasakan sebuah sentuhan lembut di atas kepalanya. Marius sedang membelai rambutnya.
Ana merasakan sesuatu yang menyenangkan dari sentuhan Marius, terutama ketika tatapan Marius menjadi lebih lembut daripada tadi. Tapi, mengapa jantungnya berdegup lebih kencang?
Ana mendorong Marius agar menjauh darinya. Napasnya terhenti sejak Marius menariknya untuk mendekat. Karena itu dia butuh udara, dan juga untuk melindungi jantungnya berdegup lebih kencang lagi.
"Pilihlah tempat dimana saja yang kamu sukai. Pelayan akan mengantarkan makanan untukmu dan juga Rain," kata Marius seraya membersihkan sampah bekas luka Ana.
__ADS_1
"Dan juga ... jangan lupa pesanku, Ana," kata Marius dengan senyum polosnya.
Ana hanya menganggukkan kepalanya, lalu membungkukkan badannya sebagai ucapan terima kasihnya karena sudah mengobatinya. Dengan cepatnya, Ana keluar dan menutup pintu ruangan itu.
Ana berlari dan berhenti di satu sudut hanya untuk kembali mengatur napasnya yang sedari tadi masih belum teratur. "Hentikan! Tidak boleh!," perintah Ana sambil memukuli dadanya.
Beda lagi dengan Marius yang senyumnya belum lepas dari wajahnya meskipun Ana sudah tidak ada di ruangan itu. Di kepalanya masih tergambar jelas wajah Ana yang baru saja dilihatnya dari jarak yang sangat dekat. Marius menunjukkan senyum kemenangan karena berhasil membuatnya berada sedekat itu dengan Ana.
......................
"Selamat malam, Tuan Marius," kata David setelah dia membukakan pintu mobil untuk Marius.
Marius turun dari mobilnya dan melihat sekitarnya. Seperti biasa, area gudang tua dan kumuh yang dikelilingi pohon-pohon besar itu selalu terlihat gelap dan sunyi. Karena tempat itu memang berada di tengah hutan yang jauh dari keramaian.
"Apa mereka sudah bicara?," tanya Marius sambil berjalan masuk ke dalam gudang tua itu.
"Belum, Tuan. Saat ini Tuan Lucas sedang bersama mereka."
Marius terus berjalan menyusuri gudang hingga ke ujungnya. Dari kejauhan suara teriakan kesakitan, suara pukulan, dan juga teriakan orang-orang yang mengancam bergema jadi satu dalam gedung kosong itu.
Marius memberikan jasnya pada salah satu pengawalnya. Dia lalu menggulung lengan kemejanya ke atas.
"Yang mana?," tanya Marius.
David menunjuk seorang pria yang duduk dengan wajah ketakutan dan dengan tangan terikat di belakang tubuhnya. Dia masih terlihat baik-baik saja jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain yang wajahnya sudah penuh dengan luka lebam.
Dengan langkah cepatnya, Marius menghampiri pria itu, dan langsung meluncurkan pukulan tepat di wajahnya, berulang-ulang hingga pria itu terus meminta ampun.
"Kamu tahu apa salahmu? Kamu melukai kekasihku," kata Marius yang sedang menarik kerah baju pria itu.
Marius memberikan tanda pada pengawalnya untuk melepaskan ikatan pria itu. Begitu dilepaskan, Marius mengambil tangan kanan pria itu dan meletakkannya di atas meja kayu yang ada di sampingnya. Dia memastikan telapak tangan pria itu tetap menghadap dan menempel ke bawah.
Dengan tangannya yang lain, Marius memilih salah satu jari dari kelima jari yang ada di depannya. Digenggamnya satu jari itu, lalu dia tarik ke belakang.
"Arrgghh ... ampun Tuan, ampun Tuan ...," tangis pria itu tidak dihiraukan oleh Marius. Tangannya terus melakukan hal yang sama pada jari lainnya.
__ADS_1
"Kamu telah melukai orang yang salah,"