
Marius sedang melakukan meeting dengan perwakilan sebuah perusahaan klien untuk sebuah project yang sedang dijalaninya, saat Lucas tiba-tiba meminta maaf karena harus memotong pembicaraan mereka.
Lucas segera membisikkan sesuatu di telinga Marius, dan dalam hitungan detik kedua mata Marius terbuka lebar. Dia melihat ke arah Lucas seakan mencari konfirmasi atas apa yang didengarnya barusan, dan Lucas membenarkannya.
"Saya minta maaf, saya harus membatalkan pertemuan hari ini. Kita akan bicarakan project ini pada pertemuan kita yang berikutnya," kata Marius pada tamu-tamunya.
Tanpa menunggu tamu-tamu itu keluar, Marius segera meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh Lucas.
"Apa yang terjadi?," tanya Marius pada Lucas saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Belum tahu. Mereka hanya bilang, Ana menyuruh mereka mengikutinya karena dia akan membawa Rain ke rumah sakit," jawab Lucas.
"Lalu, dimana posisi mereka sekarang?"
"Sebentar lagi mereka akan tiba di rumah sakit."
Saat Marius tiba di rumah sakit, dia segera turun dari mobilnya, dan bergegas mencari Ana. Seorang pengawal yang sudah tiba lebih dulu begitu melihat Marius langsung mengantarkan Marius ke tempat Ana dan Rain berada.
"Ana!," panggil Marius yang melihat gadis itu sedang duduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia sedang menangis.
Ana yang mendengar panggilan Marius segera berdiri dan menatap Marius.
"Aku mengingat semuanya ... kamu sudah memberitahuku ... tapi dokter bilang Rain ... alerginya ... aku ... aku sendiri yang menyiapkan bekalnya ..."
Ana berusaha mengatakan sesuatu di antara isakan tangisnya. Meski tidak sepenuhnya, akhirnya Marius memahami yang sedang terjadi saat ini.
Marius melihat Ana yang sudah sangat ketakutan, bahkan kedua tangannya gemetar. Dia menarik Ana ke dalam pelukannya untuk menenangkannya. Ana masih terus menangis dalam pelukannya.
Tidak lama kemudian, Marius melihat seorang pria keluar dari sebuah ruangan. Dia dapat melihat Rain sedang terbaring di dalam sana. Ana pun segera melepaskan dirinya dari pelukan Marius saat melihat pria ini.
"Bagaimana Rain? Dia nggak apa-apa, kan?," tanya Ana yang masih berusaha tegar saat kedua matanya sudah penuh dengan air mata.
"Dia sudah lebih baik. Tapi untuk sementara biarkan dia untuk tetap disini selama beberapa hari. Kita perlu melihat apakah ada komplikasi lain," jelas pria itu.
"Kamu bisa melihatnya kalau kamu mau," kata pria itu lagi yang langsung ditanggapi Ana dengan memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menolong Rain," kata Marius. Dia yakin pria ini adalah pemilik mobil yang diminta Ana untuk mengikutinya.
"Ah, pasti papanya Rain. Kenalkan, Noel, papanya Arsen. Anak kita ... sekelas," jelas Noel sambil menjulurkan tangannya untuk Marius yang segera membalas sapaan itu.
"Saya hanya kebetulan ada disana. Saat melihat Ana panik saya langsung menyusulnya. Ternyata, Rain sudah tidak sadarkan diri," jelas Noel.
"Seperti yang saya katakan tadi, Rain akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Saya akan selalu memantaunya," kata Noel lagi yang sekaligus memohon pamit untuk pergi.
Seperginya Noel, Marius menyusul Ana dan memasuki ruangan tempat Rain terbaring. Marius melihat Ana masih saja menangis di samping Rain.
"Maafkan Kak Ana, Rain. Maaf ... seharusnya Kak Ana ... lebih teliti lagi. Maaf, Rain, maaf ..."
Marius merasa tersiksa melihat Ana menangis menyalahkan dirinya sendiri. Sedangkan Rain terbaring lemah dengan sebotol infus yang disuntikkan di punggung tangannya yang mungil itu. Beberapa hari yang lalu, dia masih melihat dua orang yang sangat disayanginya itu tertawa bahagia, tapi kini, pemandangan apa ini?
Tidak lama kemudian, Lucas datang bersama dengan para pengawal di belakangnya. Melihat Lucas, Marius seperti mendapatkan sesuatu di kepalanya. Dia segera meraih tangan Ana dan menariknya keluar dari ruangan itu.
"Tolong jaga Rain sebentar. Panggil aku jika terjadi sesuatu," pinta Marius pada Lucas.
Lucas sepertinya memahami situasinya, karena dia langsung mengiyakan permintaan Marius. Sedangkan Marius, tanpa menunggu jawaban Lucas, sudah pergi membawa Ana bersamanya.
......................
"Menangislah sepuasmu disini," kata Marius dengan lembutnya.
Meski dengan mata sembabnya, Ana tetap terbengong mendengar ucapan Marius. Dia tidak memahami maksud Marius.
"Kamu hanya akan membuat Rain khawatir jika dia bangun dan melihatmu seperti itu. Jika mau menangis, lebih baik menangislah disini. Lucas akan mengabariku jika Rain sudah sadar," jelas Marius.
Mendapat kebebasan seperti itu, Ana tidak dapat menahan lagi untuk melanjutkan apa yang sedari tadi dia tunda. Marius menemani Ana dengan duduk di sampingnya, dan memberikan sapu tangan miliknya.
Marius hanya diam menunggu di samping Ana. Dia tahu Ana saat ini pasti merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Rain. Tapi Marius juga tahu kesalahan itu bukan milik Ana.
Marius tahu betul, Ana menghafalkan semua yang ditulisnya dalam file yang dia kirimkan untuk Ana saat pertama kalinya gadis itu datang ke rumahnya. Ana selalu mengingat apa yang disukai dan yang tidak disukai Rain. Jadi sangatlah tidak mungkin Ana bisa melupakan kalau Rain mempunyai alergi terhadap buah stroberi.
Marius juga tahu, Ana selalu mengecek dulu informasi pada kemasan setiap camilan yang akan dia berikan untuk Rain. Dia juga pernah melihat Ana menukar sebotol susu rasa stroberi yang diambil Rain saat mereka sedang berjalan-jalan di sebuah supermarket. Bagaimana mungkin, Ana bisa salah menambahkan bahan pada bekal yang dibuatnya untuk Rain?
__ADS_1
Tapi, siapa yang harus Marius salahkan, jika dia sendiri tidak tahu pelaku sebenarnya. Dan untuk kesekian kalinya, Marius merasa kalah karena sekali lagi orang yang dia sayangi lagi-lagi harus terluka karena dia salah memprediksikan langkah selanjutnya pelaku itu.
"Saat Rain berumur 1 tahun, Adam mencoba memberinya buah stroberi. Karena dia dengar buah itu bagus untuk anak-anak," kata Marius saat dia melihat tangis Ana sudah mulai mereda. Ana yang tiba-tiba mendengar Marius bercerita seperti itu, menengadahkan kepalanya dan mendengarkan Marius.
"Saat Rain baru makan beberapa gigitan, Rain sudah mulai sesak napas. Adam mulai panik. Dia menelponku dan juga Lucas yang waktu itu ada di kantor. Kejadiannya sama seperti hari ini. Adam buru-buru membawanya ke rumah sakit, dan aku menyusul bersama Lucas."
"Syukurlah reaksi alergi Rain tidak terlalu parah, karena Adam segera membawanya ke rumah sakit. Beberapa jam kemudian, Rain sudah sadar dan kembali tersenyum, seperti tidak terjadi apapun padanya."
Marius mendaratkan tangannya ke atas kepala Ana, lalu mendekatkan wajahnya dengan Ana.
"Dokter bilang Rain akan baik-baik saja, dan itu artinya Rain pasti akan baik-baik saja."
"Benarkah?," tanya Ana.
Marius menganggukkan kepalanya. "Hmm ... karena kamu sudah melakukan pekerjaan yang bagus hari ini, Ana. Sama seperti yang Adam lakukan waktu itu."
"Tapi ... mungkin aku yang ... melukai Rain," kata Ana yang kembali mulai menangis mengingat kejadian yang menimpa Rain.
Marius menahan kepala Ana dengan lembut agar tetap melihatnya, lalu berkata dengan nada lembutnya, "Dengar, Ana. Percaya dirilah pada dirimu sendiri. Selama ini kamu yang paling tahu bagaimana Rain. Kamu yang selalu mengecek makanan yang dimakan Rain, memeriksa setiap label makanannya, memastikan kembali setiap akan menggunakannya. Apakah mungkin kamu akan seceroboh itu melakukan kesalahan seperti yang kamu bayangkan?"
Ana menggelengkan kepalanya. "Tapi ... tapi ..."
"Tidak ada tapi, Ana," kata Marius lagi yang sekali lagi menahan kepala Ana. "Jika kamu merasa ragu pada dirimu sendiri, lalu bagaimana kamu bisa memastikan Rain akan tetap aman bersamamu?"
Marius melihat kedua mata Ana yang sedikit demi sedikit mulai kembali seperti semula. Sepasang mata indah yang Marius kenal selama ini, yang selalu Marius sukai.
Tiba-tiba ponsel Marius berbunyi. Segera Marius menjawabnya, "Hmm ... aku segera kesana."
Marius menutup panggilan itu, dan kembali pada Ana yang saat ini masih dia pegangi kepalanya.
"Rain sudah sadar. Dia mencarimu," kata Marius.
Marius dapat melihat wajah Ana menjadi penuh kebahagiaan saat dia mengabarinya. Dia melepaskan tangannya dari kepala Ana. Gadis itu segera berdiri dan mengajak Marius untuk segera menemui Rain.
"Cuci dulu mukamu. Kamu sudah terlihat seperti kucing gembul," goda Marius.
__ADS_1
Ana terlihat kesal dengan ucapan Marius, tapi Marius malah tertawa melihat Ana sekesal itu.
Melihat Ana seperti itu, setidaknya Marius bisa tenang, Ana sudah baik-baik saja sekarang, begitu juga dengan Rain.