Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 18


__ADS_3

Ana sedang duduk di sebuah bangku yang ada di dekat makam. Dia melihat Rain sedang berlarian kesana kemari tanpa lelah. Lucas ada di dekatnya menemaninya bermain. Ana tersenyum melihat tingkah Rain yang seperti tanpa beban itu.


Marius masih berada di depan makam. Dia terduduk di depan makam, terlihat seperti sedang berbicara. Entah apa yang dibicarakannya. Mungkin juga dia bercerita tentang Rain. Karena pandangannya selalu mengikuti kemana pun Rain bergerak.


Ana sendiri sudah melakukan penghormatannya kepada Adam, saat Marius sedang membersihkan makamnya dari dedaunan. Baru setelah itu, Ana memilih untuk menjauh dari Marius dan duduk di ayunan, agar bisa memberikan Marius ruang untuk bisa melepaskan rindunya.


"Dia pasti sangat merindukannya," ucap Ana lirih saat memandangi Marius.


Rain sedang duduk bersama Lucas melepaskan lelah mereka di sebuah gazebo, saat Marius datang menghampiri Ana untuk memberikannya sebotol air. Setelah Ana menerimanya dan mengucapkan terima kasih, Marius duduk di ayunan lain yang ada di sebelah Ana.


"Ehm ... Boleh aku bertanya sesuatu?," tanya Ana tiba-tiba saat mereka sempat saling diam tanpa ada yang mulai bicara duluan.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Apakah ... Rain tahu ...soal ini?"


Marius menggelengkan kepalanya perlahan.


"Adam meninggal tiga tahun lalu saat Rain masih berusia 15 bulan. Sejak dia mulai belajar bicara, dia sudah memanggilku daddy. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya padanya. Kupikir aku akan menunggu hingga beberapa tahun lagi, saat dia sudah mulai bisa memahaminya"


Ana bisa memahami maksud Marius. Sulit memang untuk membicarakan hal seperti ini pada anak yang umurnya masih 4 tahun. Marius mungkin ingin Rain mengenang Adam sebagai ayahnya dengan cara yang benar, meski Rain tidak punya kenangan akan Adam.


"Ehm ... bagaimana dengan ... ibunya ... apakah ..." Ana merasa ragu untuk bertanya, tapi rasa ingin tahunya juga besar. Dia tidak melihat adanya makam lain selain milik Adam. Jika ibu Rain tidak meninggal, lalu dimana dia?

__ADS_1


"Begitu dia lahir ... ibunya menyerahkan Rain pada Adam. Dia ... tidak ingin melihatnya ... ataupun menggendongnya. Adam yang merawatnya dan membesarkannya sendiri selama setahun itu, sebelum akhirnya ... dia meninggal."


"Ternyata ... ada yang seperti itu ...," ucap Ana lirih.


"Sebelum meninggal, Adam memintaku untuk menggantikannya menjadi ayah bagi Rain. Sama sepertimu, waktu pertama kalinya kamu menerima pekerjaan sebagai pengasuh, aku juga belajar untuk bisa memahami caranya."


Ana tersenyum mengingat hal itu. Awalnya memang terasa sulit baginya, tapi ternyata dia bisa mengatasinya.


"Tapi, kamu jauh lebih baik daripada aku. Rain seperti sedang bersenang-senang saat bersamamu. Kurasa kamu banyak membantunya menemukan hal-hal yang tidak dia ketahui saat dia bersamaku," kata Marius.


"Hhmm ... aku rasa tidak seperti itu. Saat pertama kali aku melihat Rain, aku menganggap Rain adalah anak yang pemalu dan juga pendiam. Tapi, saat dia bersamamu, dia jauh lebih ceria. Aku tidak tahu apa yang membuat perbedaan itu. Tapi dengan melihatnya, aku jadi tahu, Rain punya sisi lain yang tidak ditunjukkannya. Mungkin karena itu juga, aku terus mencari ide untuk membuatnya bersemangat akan sesuatu. Dan ternyata, berhasil."


"Apakah Adam yang memberi nama Rain?," tanya Ana lagi yang sedang memandangi Rain sedang bermain di kolam dekat gazebo itu.


"Iya," jawab Marius.


"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"


"Tidak banyak yang memiliki nama Rain. Pasti ada sesuatu yang spesial saat dia memikirkan nama itu. Mungkin dia merasakan hal yang sama saat melihat Rain pertama kalinya, sama seperti saat dia melihat hujan."


Marius tersenyum mendengar hal itu. Sedangkan Ana menjadi merasa bersalah saat Marius melakukan itu. Apakah aku melakukan kesalahan?, pikirnya.


"Kamu benar. Adam memang sangat menyukai hujan. Dia pernah bilang, saat pertama kali melihat Rain baru lahir, hal pertama yang dia ingat adalah hujan. Semua yang dia rasakan ketika melihat hujan tiba-tiba muncul saat itu. Karena itu, dia memberinya nama Rain."

__ADS_1


Ana menatap Marius yang saat ini sedang tersenyum padanya. Dia merasakan sesuatu yang berbeda dari senyum Marius hari ini. Terasa hangat meski hanya dengan melihatnya.


"Kamu pasti sangat menyayanginya."


"Adam ... bagiku dia adalah kakak yang sempurna. Dia tidak hanya kakak bagiku, dia juga pahlawanku, dia segalanya bagiku. Aku banyak belajar darinya. Jika dia masih hidup, dia yang seharusnya menduduki posisi ini. Dia yang ... lebih hebat daripada aku."


"Kamu juga hebat, kok. Naomi bilang, DYNE bisa menjadi seperti sekarang ini semua berkat kerja kerasmu. Jadi, kamu sama hebatnya. Tidak mudah melakukan semua itu sendirian."


"Menurutmu begitu?"


"Tentu saja! Aku bahkan nggak bisa bayangin kamu bisa melakukan semua itu."


Ana menatap Marius yang sedang tertawa dengan lepasnya. Terlihat jelas di matanya, Marius seperti sedang melepaskan beban yang ada di hatinya.


"Sebanyak apa beban yang kamu bawa di dalam sana," pikir Ana.


"Kak Ana ... lihat, lihat, lihat ... ada kupu-kupu ..."


Ana terkejut mendengar Rain memanggil namanya. "Kau dengar itu?," tanya Ana pada Marius dengan semangatnya.


Ada yang istimewa dari yang diucapkan Rain hari ini. Untuk pertama kalinya, Ana mendengar Rain berteriak mengatakan sesuatu yang lebih dari sekedar panggilan.


Ana berlari mengejar Rain yang sibuk berlarian mengejar kupu-kupu. Dipeluknya anak itu dengan erat dengan perasaan penuh bahagia. Mereka saling menggoda, tertawa bersama, hingga berbaring di atas rumput hanya untuk memandangi langit bersama-sama.

__ADS_1


Ana tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Masih banyak pertanyaan di dalam hatinya yang masih belum terjawab hingga hari ini. Tapi dia tahu akan satu hal saat dia melihat senyum Rain, ...


"Kurasa semuanya pasti akan baik-baik saja," kata Ana dalam hatinya.


__ADS_2