
Meski Ana tidak menyukai caranya, tapi setidaknya cara yang dilakukan Marius bisa dikatakan berhasil. Setelah pengumuman itu, rumah Ana sudah bebas dari kerumunan orang-orang yang sekarang Ana tahu mereka tidak hanya fans Valerie, tapi juga orang suruhan Nora. Tapi, meskipun kerumunannya sudah berkurang, Marius tidak mengurangi pengawal yang berjaga di rumah Ana.
Tapi, yang mengejutkan bagi Ana adalah saat Naomi mengatakan bahwa Noel masih menunggunya di bawah. Ana tidak menyangka bahwa Noel masih di bawah begitu lama. Pembicaraan dirinya dengan Marius dan Naomi bisa dibilang cukup lama. Seketika itu juga, Ana menjadi merasa bersalah.
Ana segera turun ke bawah untuk menemui Noel. Berkali-kali Ana meminta maaf pada pria tinggi itu. Berkali-kali juga, Noel menghalanginya melakukan itu.
"Tidak perlu begitu, aku yang ingin menunggu di sini," begitu katanya.
Noel mengatakan bahwa dia mengkhawatirkan Ana yang tidak mengatakan apapun ketika mendengar berita itu. Karena itulah dia memutuskan menunggu hingga Ana baik-baik saja.
Tapi, Ana tidak bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Marius. Ana khawatir itu akan mempengaruhi rencana yang sudah dibuat Marius dan Naomi. Meski begitu, hanya dengan melihat situasi di luar rumah Ana yang sudah bisa dikendalikan, Ana yakin Noel memahami sesuatu. Hanya saja, dia tidak yakin di bagian mana.
"Jadi apakah kamu akan melanjutkan terapinya di dokter Aris? Karena sepertinya terapinya berhasil," tanya Noel tiba-tiba.
Ana sontak terkejut. "K-kamu tahu?"
"Hanya menebak. Tapi sepertinya benar." Tawa kecil Noel justru malah membuat Ana gugup.
"Terapinya berhasil. Meskipun masih ada sedikit gangguan, tapi masih bisa aku kendalikan," jawab Ana. "Tapi, aku ingin tetap menyelesaikan terapi itu sesuai rencana dokter Aris."
"Jadi, apa rencanamu?"
"Banyak yang harus aku kerjakan setelah ini. Aku akan mengatur waktuku agar bisa mengunjungi dokter Aris. Aku akan menghubungi dokter Aris jika semua sudah aku atur."
Noel hanya tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu, oke?"
Meski Ana tidak tahu apa yang akan Ana butuhkan dari Noel. Karena selama ini Noel yang selalu membantu Ana. Dia yang selalu tahu apa yang harus dilakukannya di saat Ana tidak tahu harus bagaimana.
......................
"Semua barang-barang Papa sudah Ana masukkan ke dalam koper yang itu. Obat-obatnya juga sudah Ana pisahkan ke dalam kotak. Jangan lupa minum obatnya, ya."
Ana tidak berhenti mengingatkan ini dan itu selama dia membereskan barang-barang papanya. Sudah hampir dua jam ini dia berada di kamar papanya untuk membantu membereskan barang-barang keperluan papanya. Meski sebenarnya, jadwal keberangkatannya masih dua hari lagi.
Ana baru mengetahuinya ketika papanya baru memberitahunya setelah semua orang sudah pulang. Saat itulah Ana menjadi panik. Dia tidak menyangka akan secepat itu.
Doni ternyata sudah mengetahui rencana Marius ini sejak minggu lalu. Seperti yang diinginkan Marius, dia tidak mengatakan apapun pada Ana.
__ADS_1
"Kamu masih marah pada Marius?" Doni meminta Ana untuk duduk di atas kursi yang ada di depannya. Dia hanya ingin berbicara dengan putri kesayangannya itu sebelum dia meninggalkannya lagi.
"Ana tidak marah, hanya kesal saja," jawab Ana. Meski Ana tidak menjelaskan mengapa, tapi Doni cukup memahami putrinya itu.
"Berhentilah marah. Sejak umurnya masih muda, Marius dibesarkan dengan membawa semua tanggung jawabnya untuk DYNE. Sejak dia belum memahami apa tanggung jawab seorang CEO, dia sudah dididik untuk menjadi itu."
"Meskipun Adam adalah anak pertama, tapi dia lahir dengan tubuh yang lemah. Dia sering sakit-sakitan, karena itu hanya Marius yang dikirim bersekolah di Perancis, sedangkan Adam tidak."
"Sejak kecil, dia tahu tanggung jawabnya sangatlah besar. Papa tahu sendiri bagaimana Marius yang saat itu berumur 5 tahun sudah memikirkan bagaimana menjaga kakaknya yang sakit. Dia tumbuh dengan rasa peduli itu."
"Kamu pasti sudah tahu tentang pertengkaran Marius dan Valerie waktu itu, kan?"
"Papa juga tahu itu?," tanya Ana yang terkejut.
"Papa tahu semuanya, Ana. Marius sering bercerita sama papa, termasuk soal Valerie ini. Dia juga dilema waktu itu. Di satu sisi dia ingin membantu Valerie mengingat dia adalah ibunya Rain. Tapi di sisi lain, ada nasib 500 karyawan FNZ yang dipertaruhkan."
"FNZ waktu itu sedang mengarah ke arah kebangkrutan karena pemberitaan Valerie. Mereka seharusnya melepasnya sejak lama, tapi tidak bisa karena Valerie dititipkan sejak Adam masih hidup. Mereka takut jika akan merusak hubungan kerjasama dengan DYNE. Karena itu, mereka terus mempertahankannya hingga akhir."
"Saat Marius tahu, keadaan sudah jauh di bawah nol. Sangat sulit untuk diselamatkan. Saat itulah, Marius datang ke papa, dia banyak bercerita. Papa hanya menyarankan padanya untuk menyelamatkan yang menurutnya terbaik, 1 orang atau 500 orang."
Ana terdiam mendengarkan semua yang diceritakan papanya itu. Di saat papanya menceritakan kehebatan Marius, Ana justru bertanya apakah ada yang berpikir bagaimana dia melepaskan semua penatnya itu.
Tapi, Ana juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Marius sendiri yang membuat dirinya terlihat seperti itu. Dia menyembunyikan sisi lainnya hanya untuk dirinya sendiri, dan membuat orang lain berharap terlalu banyak padanya. "Akhirnya malah dia sendiri yang kelelahan," pikir Ana.
"Apa kamu tahu, Marius sebenarnya sudah kembali dari Perancis sejak 10 tahun yang lalu?," tanya Doni.
Ana hanya menggelengkan kepalanya.
"Sejak Ernest meninggal, Marius kembali dari Perancis dan memutuskan untuk menetap disini membantu Adam yang sementara menduduki posisi CEO menunggu Marius benar-benar siap."
"Beberapa kali dia kembali, orang pertama yang dia cari adalah kamu."
"Aku? Dia tidak pernah menemuiku," kata Ana yang terkejut mendengar itu. Dia hanya ingat bertemu dengan Marius beberapa bulan lalu saat masalah hutang piutang itu muncul.
"Iya, memang tidak pernah. Dia takut kamu belum bisa melihatnya. Jadi, dia hanya melihatmu dari kejauhan. Beberapa kali dia melihatmu di Lorenzo sedang presentasi di sana. Sekali waktu kalian tidak sengaja bertabrakan. Tapi saat kamu melihatnya kamu tidak apa-apa, dia akhirnya berani bekerjasama dengan papa."
Ana memandangi papanya yang sedang tertawa mengenang kejadian itu. Dia memikirkan betapa dekatnya dirinya dengan Marius selama ini.
__ADS_1
"Dan, setiap kali mantan bos kamu mengajak kamu minum, siapa yang menurutmu membawa kamu pulang? Tentu saja, Marius. Belum lagi, kamu selalu lupa setiap kali bangun keesokan paginya."
Lagi-lagi, Ana hanya bisa terdiam mendengar cerita papanya itu. Bahkan ketika papanya mengacak-acak rambutnya, Ana tidak mengelaknya.
"Mengapa papa menceritakannya sekarang?," tanya Ana.
"Entahlah. Selama ini papa tidak pernah pergi jauh darimu begitu lama. Tapi kali ini, papa akan benar-benar jauh darimu, dan entah kapan papa akan melihatmu lagi. Papa takut tidak akan kembali. Dan anak itu akan diam selamanya. Haha ..."
Ana langsung memeluk Doni dengan erat. Air matanya turun begitu saja. "Papa akan sehat. Kita akan bertemu lagi. Tunggu Ana yang akan jemput papa."
Ana tidak melepaskan pelukannya itu meski Doni memintanya dengan lembut. Dia masih saja terus menangis setelah ucapan papanya itu. Dia ikut menjadi takut, tapi dia terus meyakinkan dirinya bahwa papanya akan baik-baik saja.
Ana tidak takut jika suatu saat nanti dia harus berhadapan dengan Nora. Yang dia takutkan adalah jika dia tidak dapat bertemu dengan papanya lagi. Jadi, Ana ingin tetap memeluknya seperti itu selama mungkin. Selama papanya itu masih ada bersamanya saat ini.
......................
"Kamu akan menemui Ana malam ini?," tanya Lucas di dalam mobil.
Marius menganggukkan kepalanya. "Ehm ... masih banyak yang harus kita bicarakan."
"Aku akan meminta pengawal menyisir lokasi dari wartawan. Kamu baru bertunangan. Jangan sampai ada berita lainnya."
"Tidak akan ada berita lain. Semua itu hanya rencana Nora. Selama perjanjian ini masih berlaku, dia tidak akan berani menaikkan berita apapun tentangku. Jangan khawatir," kata Marius.
"Tetap saja. Kita butuh berjaga-jaga."
"Apa ada kabar dari Mr. Wang? Apa dia mau menemuiku?," tanya Marius.
"Belum. Sekretarisnya belum memberikan kabar apapun. Mengapa kamu ingin menemuinya?," tanya Lucas heran.
"Aku mencurigai beberapa hal. Aku harus mengumpulkan dukungan untuk rapat dewan komisaris jika ingin rencanaku berhasil." Marius memandangi jalanan dari jendela mobilnya. Kepalanya mulai memikirkan banyak hal.
"Kamu curiga Tuan Barnett mendekati beberapa anggota komisaris?," tanya Lucas lagi.
"Jika dia ingin mempertahankanku dalam pernikahan, sudah jelas dia akan melakukan itu." Tatapan Marius menjadi sangat tajam saat mengatakan itu.
"Kalau begitu, aku akan mengumpulkan lebih banyak informasi untukmu."
__ADS_1