Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 70


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu, Valerie datang lagi bersama pengacaranya. Kali ini, dia datang bersama banyak pengawal bersamanya. Pengawal Marius sudah bersiap di posisinya masing-masing jika seandainya terjadi sesuatu.


"Dimana Rain? Aku kesini karena permohonanku membawa Rain disetujui. Jadi, aku akan membawa Rain hari ini," teriak Valerie di depan pintu rumah Marius.


Ana, Marius, dan juga Lucas sudah berdiri di hadapannya menghalanginya untuk masuk.


"Dengar, Nona Valerie. Anda diijinkan membawa Rain hanya jika Rain menginginkannya. Anda tidak boleh memaksanya. Pengadilan menggarisbawahi soal ini," kata salah satu pengacara Marius.


Kedua tim pengacara saling beradu argumen tentang apa yang benar dan salah, di saat Ana memikirkan apa yang akan terjadi jika Rain benar-benar tidak mau pergi bersama Valerie. Apa yang akan dilakukan Valerie dan pengacaranya?


Semakin lama Ana di sana menyaksikan perdebatan kedua tim pengacara itu, semakin hati Ana tidak juga tenang. Dia merasa lebih baik dirinya bersama Rain, mengajaknya berbicara, atau paling tidak menyiapkan mentalnya untuk apapun yang akan terjadi hari ini.


Di saat Ana berbalik untuk masuk ke dalam rumah, di saat itu dia melihat Rain sudah berdiri di tengah ruangan yang ada di dekat pintu masuk. Ana langsung berlari menghampirinya.


"Rain ..."


Rain tidak bergeming saat Ana memanggilnya. Dia juga tidak berlari menghampiri Ana seperti biasanya dia lakukan. Dia tetap berdiri di sana dengan raut wajah yang tidak biasa, yang tidak pernah Ana lihat sebelumnya.


"Rain, kenapa kesini? Sejak kapan Rain ada di sini?," tanya Ana.


Rain terdiam. Dia tidak menjawab apapun. Pandangannya tetap tertuju pada orang-orang yang ada di luar ruangan tempat dia berdiri. Raut wajahnya masih tidak biasa. Entah itu rasa takut, sedih, atau apalah itu, Ana tidak bisa mendefinisikannya.


"Rain ..."


Rain menyebut namanya sendiri, tapi dia tidak melanjutkan kalimatnya. Kedua matanya terlihat seperti akan menangis kembali.


Ana langsung memeluknya. Dia mengira gadis kecilnya itu akan menangis karena rasa takut pada suasana gaduh yang saat ini terjadi di luar sana.


"Jangan dengarkan mereka, Rain. Jangan takut. Ada Mommy disini," kata Ana menenangkannya.


"Rain ... mau ikut Mama Valerie ..."


Ana tertegun sejenak mendengar ucapan Rain. Dia melepaskan pelukannya.


"Rain ... apa yang Rain katakan tadi? Kemarin Rain bilang ..."


"Minggir! Aku mau ketemu Rain."

__ADS_1


Perkataan Ana pada Rain terputus karena Valerie tiba-tiba menerjang masuk ke dalam rumah. Pikiran Ana terpecah, antara melindungi Rain dari Valerie atau memastikan kembali apa yang sebenarnya diinginkan Rain. Kecemasannya pada apa yang baru saja dikatakan Rain membuat perasaannya yang sedari tadi tidak nyaman, kini semakin memburuk.


"Rain, disini kamu rupanya," kata Valerie. "Katakan pada mereka, kamu mau ikut siapa? Mama atau mereka?"


Rain menatap Ana dan Marius yang baru saja masuk satu persatu dengan matanya yang kecil itu. Tatapannya sayup, seakan tidak rela untuk mengatakannya.


"Rain ... mau ikut Mama Valerie," teriak Rain sambil terisak nangis.


Ana masih terkejut dengan perkataan Rain. Dia masih ingat bagaimana Rain menangis semalaman karena tidak ingin Valerie membawanya, tapi kini dia bahkan bisa dengan lantang mengatakannya. Meski air mata tidak lagi bisa ditahannya.


"Rain ... ada apa, sayang? Kemarin Rain bilang ..."


"Minggir!," bentak Valerie seraya mendorong Ana dengan keras hingga terjatuh ke belakang. "Jangan coba-coba pengaruhi dia! Kamu sengaja mau membuatnya berubah pikiran, kan?"


"Val!," bentak Marius. Dia langsung berlari menghampiri Ana yang masih terkejut dengan semua yang sudah terjadi.


"Marius ...," panggil Ana lirih. "Rain ... dia ... dia ..."


Marius memeluknya. "Tenang, Ana. Tenangkan dirimu. Aku akan mencari tahu."


"Ayo, Rain. Kita keluar dari sini. Jangan pedulikan baju dan mainanmu. Mama akan belikan yang baru," kata Valerie seraya menggandeng tangan Rain yang masih sesenggukan.


"Rain ... rain ...," panggil Ana sambil berlari ke arah Rain.


"Berhenti! Kalian sudah dengar sendiri kan apa yang dia minta? Dia sudah bilang dia ingin ikut denganku. Seperti yang kalian minta, aku tidak memaksanya. Dia sendiri yang minta. Jadi, kalian jangan coba-coba untuk membujuknya," bentak Valerie membuat Ana berhenti melangkah.


"Tapi, dia sedang menangis, Valerie. Tenangkan dia dulu," isak Ana yang tidak tega dengan tangisan Rain.


"Tidak perlu! Dia anakku. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kamu orang asing baginya. Jangan ikut campur!"


Marius memeluk Ana dari belakang. Dia menghalangi Ana melangkah lagi. "Tenanglah, Ana. Tenanglah ...," bisik Marius.


"Rain ... dengarkan Mommy. Siapa yang memaksamu? Mommy tahu seseorang pasti sudah memaksamu kan? Siapa yang membuatmu seperti ini, sayang?," teriak Ana dalam dalam tangisannya.


Tapi Rain tidak menjawab. Dia masih terus menangis.


Valerie tidak mau berlama lagi berada di sana. Dia juga khawatir Rain akan berubah pikiran. Dia segera membawa Rain pergi.

__ADS_1


"Ayo, Rain ..."


Pengacara Valerie segera mengikuti Valerie dari belakang begitu Valerie meninggalkan tempat itu. Tapi, Ana ... dia tidak berhenti memanggil nama Rain sembari terus mengeluarkan air matanya.


"Rain ... Rain ... Rain ..."


Marius tidak melepaskan pelukannya dari Ana. Dia berusaha keras agar Ana tidak mengejar Valerie dan juga Rain. Dia sendiri juga bingung dengan perubahan Rain, tapi dia mencoba untuk tidak membuat keributan baru yang akan menyulitkan masalah ini nantinya.


"Raaiinn ...."


Teriakan Ana yang terakhir seperti sedang mengeluarkan semua rasa sakit dari dalam hatinya. Karena setelah itu, seluruh badannya terasa tidak bertenaga. Pandangan menjadi gelap, dan dia tidak tahu lagi apa yang terjadi.


"Ana! Ana!," teriak Marius berulang-ulang.


Tanpa pikir panjang lagi, Marius langsung menggendong Ana ke kamarnya.


......................


Marius masih terus memegangi tangan Ana di saat gadis itu masih belum sadarkan diri. Meski dokter mengatakan ini adalah reaksi stress atau syok yang berlebihan, tapi Marius tetap tidak bisa berhenti khawatir.


Marius mengusap kening Ana, lalu membelai rambutnya ke atas. Dia tahu Ana sangat menyayangi Rain. Karena itu, kejadian hari ini pasti akan sangat menyakiti hatinya. Tapi, Rain ... bagaimana bisa?


Lucas masuk perlahan ke dalam kamar Ana dan mendekati Marius yang masih tidak melepaskan genggamannya pada tangan Ana.


"Katakan!," perintah Marius.


"Pengacaranya ... mereka bekerja untuk ARK," lapor Lucas.


"Nora ...," kata Marius geram.


"Bagaimana kamu yakin itu Nora?," tanya Lucas.


"Ini bukan gaya permainan Tuan Barnett. Dia pasti akan langsung membawa Ana jika dia ingin."


"Tapi, bagaimana caranya Nora mengubah keinginan Rain?," tanya Lucas.


"Cek semua CCTV, dan minta Tian memeriksa semua pelayan. Cari tahu apa yang akan dilakukan Valerie setelah ini. Dan tetap persiapkan rencana kita, jangan sampai tertunda. Kita butuh ini selesai lebih cepat, atau tidak akan ada lagi kesempatan."

__ADS_1


Lucas segera pergi dari kamar Ana begitu Marius selesai memberinya perintah. Marius, dia tetap di sana bersama Ana. Dia benar-benar tidak bisa meninggalkan Ana sendirian di saat kondisi Ana yang seperti itu. Hatinya tidak tenang.


"Bertahanlah, Ana. Aku janji aku akan menyelesaikan semuanya sesegera mungkin."


__ADS_2