
[ Marius, 7 tahun ]
"Apa kamu tahu? Marius sudah memiliki calon istri. Haha ..."
"Kak Adam!"
"Benarkah? Wow, luar biasa ... sekecil ini sudah punya calon istri ..."
Lucas kecil selalu bersemangat pada setiap cerita yang disampaikan Adam padanya. Tentu saja, dia sangat memujanya. Lucas sangat menghormatinya sebagai seorang kakak yang sangat berwibawa.
Tapi, berbeda dengan Marius. Dia tidak menyukai ketika kakaknya itu bercerita pada semua orang tentang gadis kecil yang dijodohkan padanya. Dia merasa malu ketika kakaknya melakukan itu.
"Dia dipanggil Ana. Waktu Ana masih bayi, dia selalu menangis. Tapi, saat tangan Ana memegang tangan Marius, ajaibnya Ana langsung berhenti menangis," celoteh Adam yang saat itu berumur 14 tahun.
"Jangan bercerita lagi, Kak Adam," pinta Marius kecil sembari menutup mulut kakaknya itu.
"Haha ... mereka bilang, anak yang berulang tahun tidak boleh marah," ejek Lucas.
"Diam! Ini semua karena kamu banyak bertanya."
Adam dan Lucas terus menertawakan Marius yang terlihat sangat malu karena ulah mereka.
"Aku tidak pernah menyukai Ana. Itu ide mama yang ingin menjodohkanku," kata Marius dengan lantang agar mereka berhenti menggodanya.
"Haha ... iya, iya. Kakak percaya," kata Adam seraya mengacak rambut Marius.
......................
"Lihatlah Marius kita. Dia sudah besar sekarang," kata Alya seraya mengelus pipi Marius. "7 tahun kan sekarang?"
__ADS_1
"Benar. Benar. Hari ini ulang tahunnya yang ke-7." Agnes sibuk menggendong Ana dan bermain dengannya. Sementara Ana kecil terus bergerak ingin turun.
"Selamat ulang tahun, ya." Alya memberikan sebuah kado untuk Marius.
"Terima kasih, Tante Alya."
Di saat yang bersamaan, dengan jalannya yang masih tertatih, Ana melangkahkan kakinya mengambil kado dari Alya, lalu memberikannya sendiri untuk Marius.
Seketika itu juga, wajah Marius memerah karena semua orang tua yang ada di sana sedang berseru kegirangan dan juga merasa gemas dengan pemandangan itu. Mereka asyik dengan pemikiran mereka tentang Marius dan Ana kecil.
Tidak tahan dengan reaksi orang-orang yang dianggap telah menggodanya, Marius memilih keluar dari ruangan itu untuk mencari kakaknya, Adam dan juga Lucas.
Tapi, yang tidak diketahuinya, gadis kecil itu juga mengikutinya hingga keluar ruangan.
"Da da a da da ..."
"Hah? Kenapa mengikutiku? Ayo kembalilah."
Marius menghampiri Anda, lalu mendorong tubuh kecil Ana agar kembali ke tempat orang tuanya berada. Tapi kemudian, Ana berbalik kembali memeluk Marius seraya berteriak kegirangan. Gadis kecil itu mengira dia sedang bermain dengan Marius.
Marius menghela napasnya. "Mengapa kamu selalu mengikutiku? Apa kamu tahu? Gara-gara kamu semua orang menertawaiku."
"Bu bu da da waaa waaa ..."
"Haahh ..." Marius kembali menghela napasnya. Kali ini cukup panjang dan keras hingga menggema di ruangan itu.
"Apakah dia Ana?"
Suara Lucas yang bersemangat menyebabkan semua orang datang dan mengintip mencari tahu siapa yang baru saja disebut oleh Lucas itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ana sudah dikerumuni oleh anak-anak dari berbagai usia. Mereka memegangi pipinya, bertingkah laku aneh hanya untuk menggodanya, hingga memeluknya. Ana terlihat ketakutan.
Marius kemudian menggendongnya, memandangi mereka satu persatu, lalu memarahi mereka. "Jangan berkerumun. Kalian membuatnya ketakutan."
Di antara anak-anak lainnya yang memandangi Marius dan juga Ana dengan penuh penyesalan, Adam berdiri di belakang kerumunan itu, tersenyum dengan lebarnya.
"Dia bilang dia tidak menyukainya. Tapi dia sangat menjaganya. Dasar!"
......................
[ Marius, 17 tahun ]
Marius memandangi Ana yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit dari pintu kamar rawat yang didiami Ana. Dia tidak berani untuk masuk atau menemui Ana secara langsung. Baginya dengan melihat kondisinya dari luar, itu sudah cukup.
"Dokter bilang lambung Ana mengalami peradangan. Mungkin karena kesibukannya di sekolah, dia jadi tidak teratur makan," jelas Doni yang ada di sampingnya saat ini.
Marius baru saja tiba dari Perancis tadi pagi. Begitu Ernest, papanya mengabari bahwa Agnes, mamanya telah meninggal, Marius langsung terbang kembali ke tanah air.
Ernest memintanya untuk beristirahat di sela-sela kesibukannya melayani tamu yang datang melayat. Di saat itulah dia bertemu dengan Doni.
Marius yang ingat betul siapa Doni, langsung mendatanginya dan menyapanya. Saat Marius menanyakan kabar Ana, barulah Marius tahu bahwa Ana sedang dirawat di rumah sakit. Marius terus meminta Doni untuk memberinya ijin agar bisa melihat Ana.
"Kamu bisa menemuinya kalau kamu mau, Marius. Om bisa kenalkan kamu sebagai anak dari teman om," kata Doni.
"Tidak, Om. Lebih baik begini. Saya tidak ingin mengambil resiko hanya untuk mencari tahu. Saya khawatir saya akan menyakiti Ana lagi."
Doni hanya bisa menghela napasnya. Tapi, satu hal yang membuatnya tersenyum.
"Anak ini benar-benar menyukai Ana. Melihat kondisi psikis Ana, aku hanya bisa berharap Tuhan tidak mempermainkan ikatan jodoh mereka. Agnes, Alya, ini juga tugas kalian untuk menuntun mereka, kalau kalian ingin melihat mereka bersatu."
__ADS_1