
Marius baru saja selesai merapikan dasinya. Tidak seperti biasa dimana Ana yang selalu membantunya bersiap, kali ini Ana tidak dapat melakukannya.
Sudah dua hari terakhir ini, sejak Marius menenangkannya di kamar mandi, sejak itu Ana merasa tidak bertenaga, dan selalu ingin berbaring.
"Kepalaku terasa berat. Seluruh badanku seperti tidak ada tenaganya. Aku kira karena aku lapar, tapi setelah makan dua suap saja aku sudah terasa penuh. Apa karena aku kurang makan ya makanya lemas begini?"
Wajah Ana memang terlihat pucat. Bisa jadi karena dua hari ini pola makannya tidak teratur.
Hari pertama, Marius mengira karena Ana terlalu lelah setelah menangis. Tapi ketika hari kedua masih berlanjut, Marius mulai khawatir.
"Aku panggilkan dokter ya," katanya. Tangannya berkali-kali mengecek suhu tubuh Ana. Tapi tidak ada yang salah dengan itu.
"Aku mungkin cuma kecapekan. Istirahat sebentar nanti juga baikan," tolak Ana. Marius dapat melihat Ana berusaha keras memperlihatkan dirinya baik-baik saja.
"Tapi ini sudah dua hari, Ana. Dan kamu juga tidak semakin membaik. Kamu di kamar saja hari ini. Aku telepon dokter."
Ana masih berusaha menghalangi Marius. Tapi Marius sudah tidak peduli lagi. Dia sudah sangat khawatir Ana tidak juga membaik. Setidaknya dokter bisa memberi tahu apa yang salah dengannya.
Setelah mencium kening Ana, Marius keluar kamarnya dan mendapati Rain baru datang berlari. Marius pun menghalanginya.
Dengan duduk di atas salah satu kakinya, Marius berkata pada Rain, "Mommy sedang tidak enak badan. Mommy istirahat dulu, ya."
Rain mulai terlihat khawatir. "Mommy masih sakit? Mommy nggak ke dokter?"
"Daddy baru akan manggil dokter," jawab Marius.
Marius menatap Rain yang terlihat masih belum puas hanya dengan seperti itu saja. Dia menghela napasnya.
"Tapi, jangan ganggu mommy, ya. Jangan ajak mommy main dulu. Mommy butuh banyak istirahat."
Rain menganggukkan kepalanya berulang-ulang. Sinyal Marius yang mengijinkannya untuk melihat mommynya dibaca dengan sangat baik oleh Rain. Karena itu, dia menjadi begitu antusias.
Marius pun membukakan pintu kamarnya untuk Rain, dan gadis kecil itu berjalan dengan sangat pelan-pelan, bisa dibilang, mengendap-endap. Marius hampir tertawa karena tingkah polosnya itu.
Setelah menutup pintu kamarnya kembali, Marius segera menghubungi dokter.
Beberapa saat ketika Marius kembali ke kamarnya, dia kehilangan kata-katanya saat melihat sesuatu yang mungkin akan menjadi pemandangan terindah dalam hidupnya.
"Sstt ... mommy is sleeping," bisik Rain dengan meletakkan jari mungilnya di depan bibirnya. Marius kembali dihibur dengan tingkah polos Rain.
Ana mungkin sempat terbangun tadi, karena lengan Ana saat ini sedang memeluk Rain.
Tapi yang menggemaskan adalah putri kesayangannya itu kini tengah menyandarkan lengannya di atas tubuh Ana, lalu menepuknya pelan-pelan. Anak itu melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan Ana padanya setiap kali dirinya akan tidur.
Marius terduduk di samping tempat tidur, lalu kemudian membelai lembut rambut Rain. Senyum Marius tidak dapat berhenti mengembang. Pemandangan yang dilihatnya saat ini terlalu menggemaskan.
......................
Dokter yang akan memeriksa Ana, pada akhirnya datang juga. Sebelum masuk, Marius menceritakan gejala yang diderita Ana. Untuk beberapa saat, dokter itu mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Hmm ... kapan terakhir kalinya Nyonya haid?" tanya dokter itu tiba-tiba.
Marius merasa aneh dengan pertanyaan itu. Tapi, dia tetap menjawabnya. "Bulan lalu. Bulan ini sepertinya belum, seharusnya tiga minggu lalu."
"Jika dilihat dari gejalanya ini seperti tanda-tanda kehamilan. Saya akan mengeceknya, Tuan Marius," jelas dokter itu.
"Dokter ..." Marius menghentikan langkah dokter itu yang akan masuk ke kamarnya.
"Bisakah ... dokter tidak mengatakan apapun tentang kehamilan di depan istri saya?"
Ini baru dugaan, pikir Marius. Dia khawatir jika dokter itu mengatakan dugaannya bahwa Ana sedang hamil, dan ternyata hasil tesnya menunjukkan sebaliknya, itu akan mempengaruhi Ana hingga tidak dapat dikendalikan lagi. Akan lebih baik jika Ana tidak dulu tahu apapun tentang ini.
"Bodohnya aku. Kenapa aku tidak melihat hasilnya waktu itu?," rutuk Marius dalam hatinya.
Dokter itu adalah dokter yang biasanya menangani keluarga Hadinata. Dia tahu benar mengapa Marius melakukan itu. Karena itu, dokter itu menyetujuinya.
Tidak banyak pertanyaan yang ditanyakan Ana saat dokter memeriksanya. Wajahnya masih terlihat sangat lelah, padahal yang dilakukannya sedari tadi hanyalah tidur. Ana benar-benar seperti kehabisan tenaganya.
"Aku akan mengantarkan dokter ke depan dulu, ya. Kamu kembalilah tidur," kata Marius seraya mencium kening Ana.
Perlahan, Ana kembali tidur di samping Rain yang sudah tertidur sedari tadi. Lengannya dilingkarkan pada tubuh Rain memeluk gadis kecil itu. Baru setelah itu, Marius menyusul dokter yang sudah terlebih dahulu keluar dari kamarnya.
"90% saya yakin, Nyonya sedang hamil. Tapi, agar lebih pasti, saya akan bawa darah Nyonya untuk dites. Nanti malam akan saya kabari."
Marius tidak berani untuk yakin sebelum hasil tes itu mengatakan demikian. Terlalu banyak tanda-tanda yang salah yang selama ini dia dan Ana dapati dan akhirnya berujung kekecewaan. Untuk itulah dia tidak mau Ana mengetahuinya. Dia tidak sanggup melihat Ana kembali hancur karena rasa kecewanya.
Tapi Marius tetap merasa bahagia meski hanya dengan dugaan itu. Kali ini, dia menjadi sangat berharap bahwa hasil tes nya tidak akan salah.
......................
Marius terus menatap ponselnya. Mengeceknya berkali-kali. Tapi tidak ada satu pesan pun atau panggilan tak terjawab yang masuk. Dia terus merasa gugup dan cemas.
"Kamu masih ada kerjaan?," tanya Ana dari atas tempat tidur.
Marius tersentak kaget saat Ana bertanya padanya. Istrinya itu sedari tadi menonton drama kesukaannya. Dia tidak menduga Ana akan mengajaknya berbicara.
"... k-kamu mau tidur?," tanya Marius gugup. Dia berdiri menghampiri Ana.
Ana menggelengkan kepalanya. Dia terlihat khawatir. "Aku melihatmu sedari tadi tidak tenang. Ada apa?"
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Kamu masih mau menonton atau sudah ingin tidur? Atau kamu lapar? Aku masakkan sesuatu untukmu," tanya balik Marius untuk mengalihkan perhatian Ana padanya, agar bisa mengurangi rasa khawatir Ana.
Tapi Ana tidak berhenti bertanya. Untuk beberapa saat, rasa cemas Marius menunggu kabar dari dokter teralihkan dengan mengobrol bersama Ana. Meski matanya tidak berhenti melirik ke arah ponsel yang diletakkannya di atas nakas.
Begitu ponsel itu menyala, Marius langsung mengambilnya. "Kamu nontonlah lagi, ya. Aku jawab telepon ini dulu. Aku segera kembali," katanya terburu-buru tapi masih sempat memberi ciumannya pada pipi Ana.
Saat Marius keluar, dia langsung menjawab telepon itu. Dan raut wajahnya langsung berubah lebih ceria.
"Selamat, Tuan Marius. Usia kandungan Nyonya Ana sudah 15 hari."
__ADS_1
Kata-kata selanjutnya yang disampaikan dokter itu sudah tidak terdengar lagi oleh Marius. Dia terlalu fokus dengan kebahagiaannya. Marius bahkan menitikkan air matanya.
"Tuan Marius .... Tuan Marius ....," panggil dokter itu dari balik telepon.
Marius langsung kembali pada kesadarannya. Dia segera menghapus air matanya. "Maaf, Dokter. Maafkan saya," katanya sumringah.
Setelah beberapa hal yang disampaikan dokter itu, panggilan itu akhirnya berakhir. Dan tak lama setelah itu, ponsel Marius kembali berbunyi. Sebuah pesan lain dari dokter yang mengirimkan hasil tes itu.
Marius kembali menyakinkan dirinya sendiri dengan membukanya. Meski dia sudah tahu hasilnya, tapi dia tetap terkejut saat melihatnya. Dan sedetik kemudian tertawa bahagia.
Butuh waktu beberapa menit bagi Marius menyiapkan dirinya untuk menyampaikan kabar gembira ini pada Ana. Dia ingin ini tetap menjadi kejutan bagi Ana. Setelah semuanya siap, dia mulai memasuki kamarnya.
Ana sedang menonton saat Marius masuk. Begitu melihat Marius, Ana langsung menghentikannya. Dengan tatapan penuh penasaran, dia menatap Marius yang sedang berjalan ke arahnya.
"Apa apa, Marius? Kenapa tadi kamu terburu-buru keluar? Apa terjadi sesuatu?," tanya Ana.
"Aku ingin kamu melihat sesuatu, Ana."
Marius kemudian memberikan ponselnya yang saat ini pada layarnya sedang menampilkan gambar hasil tes itu.
Ana masih belum memahami maksud Marius. Dia terus melihat ke arah Marius dengan tatapan khawatirnya, tapi kedua tangannya tetap menerima ponsel itu.
Pelan-pelan, Ana berusaha memahami situasinya dan juga gambar yang ditunjukkan Marius padanya.
Jari tangan Ana tidak berhenti bergerak. Sesekali dia memperbesar gambarnya. Dengan gerakan cepat dia menggesernya ke kanan lalu ke kiri. Masih kurang yakin dengan apa yang dilihatnya, dia kembali memperbesarnya. Tapi ternyata, itu sudah paling maksimal yang bisa ditayangkan untuknya.
Ana menengadahkan kepalanya untuk melihat Marius. Lalu kembali lagi pada ponsel Marius yang ada di tangannya. Saat Ana melihat Marius kembali, air mata sudah perlahan keluar dari kedua matanya.
Marius tahu, Ana sudah memahaminya, tapi dia masih belum bisa mempercayainya. Marius mengerti itu.
Diraihnya wajah Ana dengan kedua tangannya, lalu menuntunnya agar dapat melihat dirinya. "Dokter bilang usianya sudah 15 hari."
"I-itu artinya ..."
Marius menganggukkan kepalanya. "Itu artinya, kamu sudah hamil dua hari yang lalu."
Napas Ana menjadi semakin berat karena tangisannya yang akan segera pecah sebentar lagi. Marius perlahan menarik Ana ke arahnya dan mendekapnya dalam pelukan. Tangis Ana semakin pecah dan tak tertahankan.
Kejutan yang luar biasa yang Marius dan Ana terima hari ini. Ana menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Di saat mereka sudah berhenti berharap, di saat itulah doa mereka dijawab. Ana tidak dapat berhenti bersyukur karenanya. Ini akan menjadi salah satu yang terbaik dari hidup Ana.
......................
"Apa yang Rain minta tadi sebelum meniup lilin ulang tahunnya?"
"Rain minta adik."
"Adik?"
"Hmm! Rain minta 3 adik. Satu perempuan. Dua laki-laki."
__ADS_1
"Kok beda?"
"Biar mommy sama daddy punya dua anak perempuan dan dua anak laki-laki. Jadi adil."