
Setelah Lucas menerima laporan dan memberitahu Marius mengenai hal ini, Marius langsung datang ke tempat kejadian. Mobil yang membawa Rain masih berada disana, begitu juga dengan Rain.
Hal pertama yang Marius lakukan ketika tiba di tempat kejadian adalah mencari Rain. Dan ternyata memang benar, anak itu masih di dalam mobil bersama seorang pelayan dan juga sopir, menunggu kedatangan Ana yang belum juga muncul.
"Daddy, Kak Ana ... Kak Ana ...," kata Rain yang sudah hampir menangis.
Saat Ana turun bersama dengan David, Rain sama sekali tidak merasa takut sedikitpun. Dia mengira Kak Ana nya itu hanya akan pergi sebentar. Tapi ketika dua orang pengawal lainnya memasang raut wajah panik karena terlalu lama menunggu Ana dan juga David kembali, barulah Rain mulai merasa cemas. Ditambah lagi ketika dua orang pengawal itu kembali dengan memapah David yang sudah tidak sadarkan diri, tanpa Ana bersama mereka.
"Sshh ... It's okay. She's fine ...," kata Marius berbohong, karena dia sendiri juga tidak tahu bagaimana keadaan Ana sekarang.
"Biar Rain pulang dulu. Agar dia tidak bertambah takut disini," kata Lucas memberi saran. Marius menyetujuinya. Jika Rain tetap disini juga tidak akan dapat banyak membantu.
"Rain pulang dulu, ya. Daddy akan segera membawa pulang Kak Ana," bujuk Marius. Meski terlihat keberatan, tapi Rain akhirnya bisa mengerti. Dia menyetujui permintaan daddy nya itu. Mobil itu mengantarkan Rain pulang dengan ditemani seorang pelayan dan pengawal.
Setelah memerintahkan orang untuk membawa David ke rumah sakit, Marius bersama beberapa pengawal pergi memeriksa tempat ditemukannya David sambil mendengarkan penjelasan dari pengawal yang bertugas bersama David siang itu. Tapi, tidak ada petunjuk yang bisa dia dapatkan. Lalu, bagaimana dia bisa menemukan Ana?
"Seharusnya aku terus berusaha agar dia tidak pergi," kata Marius yang menyesal dalam hatinya.
Tiba-tiba ponsel Marius berbunyi. Mata Marius terbelalak lebar saat dia melihat identitas penelpon itu tertulis nama 'Ana' di layar ponselnya.
"Ana, kamu dimana?," tanya Marius segera setelah dia menjawab panggilan itu.
"Selamat sore, Tuan Marius. Akhirnya saya dapat berbicara langsung dengan Tuan. Saya tahu bahwa gadis ini pasti akan berguna untuk menghubungkan saya dengan Tuan."
Suara seorang pria yang terdengar, merubah tatapan mata Marius menjadi tajam dan menusuk. Dia mulai memahami situasi apa yang sedang dia hadapi saat ini.
Segera dia memberi Lucas sebuah tanda untuk memberikan ponselnya. Marius segera mengetikkan beberapa kata pada ponsel milik Lucas itu.
"Hubungi TechTeam untuk melacak GPS ponsel Ana."
__ADS_1
Begitu Lucas membaca pesan itu, segera dia bergerak melakukan perintah Marius.
"Dimana Ana? Apa yang kamu lakukan padanya?," tanya Marius yang sedang menahan amarahnya. Dia tahu selama belum mendapatkan informasi bagaimana keadaan Ana saat ini, kemarahannya hanya akan semakin membahayakan Ana.
"Jangan khawatir, Tuan Marius. Pengasuh Tuan saat ini masih baik-baik saja. Atau ... jika melihat kedekatan dan mendengar kecemasan Tuan ini, bisakah saya menyebutnya dengan ... kekasih Tuan?"
"Apa maumu?"
"Bagaimana jika saya membuktikan sekali lagi tentang kecurigaan saya ini? Hmm ... bagaimana jika ... saya meminta Tuan untuk memilih, antara kekasih Tuan dengan ... putri Tuan yang bernama Rain?"
"Rain?"
"Benar, Tuan Marius. Saya ingin pertukaran. Antara kekasih Tuan dengan putri Tuan, siapa yang paling Tuan sayangi?"
"Jadi, yang kamu inginkan sebenarnya hanyalah Rain. Benar, kan? Dan saya yakin, kamu yang memerintahkan para penculik itu."
"Hahaha ... Memang hebat Tuan Marius seperti yang dikatakan orang-orang. Tapi saya tidak ada waktu untuk bermain-main lagi. Segera bawa Rain kemari, yang saya yakin Tuan pasti sedang melacak ponsel kekasih Tuan ini. Dapatkan alamat ini, dan segeralah kemari. Karena kekasih Tuan sedang menanti."
"Datanglah kemari untuk membuktikannya sendiri, Tuan Marius. Waktu Tuan hanya 1 jam dari sekarang. Dan tidak perlu membawa pengawal. Atau nyawa gadis ini taruhannya." Dan pria itu memutuskan panggilannya.
"Apa sudah ditemukan posisinya?," tanya Marius pada Lucas yang sedang menelpon.
"Masih proses," jawab Lucas.
"5 menit, katakan pada mereka aku mau jawabannya dalam waktu 5 menit! Ana tidak punya banyak waktu menunggu mereka," bentak Marius yang sudah mulai tidak bisa menahan amarahnya.
......................
Ana mencoba membuka kedua matanya, tapi berat rasanya, seperti ada yang menahannya agar tetap tertutup. Saat Ana mengangkat tangannya untuk menyingkirkan penahan pada matanya itu, tangannya yang lain seakan dipaksa untuk ikut bergerak, dan Ana dapat merasakan nyeri pada pergelangan tangannya. Kini, Ana memahami bahwa kedua tangannya sedang terikat.
__ADS_1
Ana terus memaksa kedua tangannya untuk bergerak dan melepaskan penahan pada matanya itu, meski terasa sangat sakit. Setelah penahan itu terlepas, mata Ana mulai membiasakan dirinya dengan cahaya yang ada di sekitarnya.
Ana dapat melihat dirinya saat ini sedang duduk di atas lantai sebuah gudang tua. Terasa dingin menyengat sama seperti udara di sekitarnya. Dinding di belakang Ana pun juga terasa sangat dingin saat dia tidak sengaja memundurkan tubuhnya ke belakang.
Ada banyak orang sedang berdiri di seluruh sudut gudang tua itu. Entahlah ada berapa, Ana tidak dapat menghitungnya, 100? 200? Banyak sekali. Mereka bersenjata. Ada yang membawa balok kayu, tongkat bisbol, bahkan pisau.
Rasa takut Ana mulai menyerang melihat kengerian ini. "Dimana aku? Siapa mereka? Apa mau mereka?," pikir Ana.
Sayup-sayup, tapi Ana dapat mendengar dengan jelas suara pria yang sedang berbicara.
"Datanglah kemari untuk membuktikannya sendiri, Tuan Marius. Waktu Tuan hanya 1 jam dari sekarang. Dan tidak perlu membawa pengawal. Atau nyawa gadis ini taruhannya."
"Marius? Apa mau mereka?," tanya Ana dalam hatinya.
"Apakah mereka akan kemari?," tanya suara pria yang berbeda dari suara pertama yang Ana dengar.
"Tentu saja. Gadis ini penting baginya. Dia pasti akan kemari," kali ini suara pria yang baru saja menyebut nama Marius yang menjawabnya.
"Bersiaplah, mereka akan tiba sebentar lagi," kata pria itu lagi.
Dan orang-orang yang sedang berdiri itu langsung bergerak untuk bersiap seperti yang diperintahkan pria itu.
"Jangan, Marius. Kamu jangan kemari," teriak Ana dalam hatinya.
"Sepertinya dia sudah sadar," kata seorang pria yang baru saja melihat Ana bergerak mencoba untuk melepaskan ikatannya.
Dan, suara langkah kaki terdengar hingga ke seluruh penjuru gudang tua itu. Pria yang baru saja memerintahkan mereka untuk bersiap sedang berjalan ke arah Ana.
Ana mencoba mengenali pria itu. Tapi dengan cahaya yang redup saat ini, kedua matanya masih terlalu sulit untuk fokus. Pria itu terus mendekati Ana, dan saat pria itu duduk di atas satu kakinya di depan Ana, barulah Ana ingat siapa pria itu.
__ADS_1
"Kamu ... Ted ...," kata Ana lirih.
"Selamat malam, Nona Ana," sapa Ted, pria yang sedari tadi berbicara dengan Marius di telepon.