Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 31


__ADS_3

Sinar matahari pagi bersinar cukup terang hari ini. Terlihat malu-malu, sinarnya masuk ke kamar Marius melalui gorden jendela yang terbuka sedikit hingga mengenai mata Ana.


Ana terbangun dan menggosok lembut matanya agar membantu kedua matanya terbuka dan menjadi lebih fokus. Dan pada saat itulah, dia menyadari bahwa dia sedang tidak berada di kamarnya.


Ana menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah sebaliknya, dan mendapati wajah Marius tepat di depannya, terlalu dekat hingga Ana merasakan panas di seluruh wajahnya.


Saat dia akan menggerakkan tubuhnya, sesuatu yang berat terasa menindih bagian perutnya. Ternyata lengan kekar Marius sedang berada di atasnya.


Ana teringat, tadi malam dia membantu Marius untuk ke kamarnya karena mendapati pria itu sedang mabuk berat. Tapi, Marius malah menariknya dan menahannya hingga tidak bisa bergerak. Akhirnya, dia malah tertidur disini.


Ana segera menarik tangan Marius dan melemparkannya, menyebabkan Marius terbangun. Perlahan Marius membuka kedua matanya dan mendapati Ana yang sedang berbaring di sampingnya.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku?," tanya Marius. Perlahan dia menarik tangan lainnya yang berada di bawah kepala Ana. Dia meringis kesakitan karena merasa terlalu pegal.


Ana terkejut kembali mendapati bahwa dirinya sedang tidur di atas lengan Marius semalaman.


"A-aku yang seharusnya bertanya. K-kenapa kamu menarikku semalam?," tanya Ana. Kali ini dia terduduk di atas tempat tidur Marius.


"Aku menarikmu? Benarkah? Kurasa aku pasti mabuk semalam," kata Marius mencoba untuk duduk sambil memegangi kepalanya.


"I-itu dia ... berhentilah minum! Terutama jika di dekat kamar Rain. B-bagaimana jika Rain melihatmu?," tanya Ana yang masih belum percaya dia ada di kamar Marius saat ini.


"Jadi, kamu tidak melakukan apapun kan semalam?," tanya Marius.


"Apa?! A-aku yang seharusnya bertanya," kata Ana dengan marahnya.


"Terlihat jelas olehku, kamu tidak aku apa-apain," kata Marius sembari memandangi Ana dari bawah ke atas, lalu menatap kedua mata Ana.


Ana menyadari dirinya masih berpakaian lengkap. Begitu juga dengan Marius yang masih dengan kemejanya yang lengannya terlipat ke atas dan celana panjangnya, persis seperti semalam saat Ana menemukannya.


Tentu saja Marius tidak melakukan apapun. Tapi tatapan Marius membuatnya tidak nyaman. Segera dia menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


Marius memegangi kepalanya. "Sepertinya kepalaku masih terasa berat." Tiba-tiba, dia merubuhkan dirinya di samping Ana.


Ana terkejut Marius melakukan itu. Segera dia berdiri dari tempat tidur Marius.

__ADS_1


"D-dengar, lain kali kalau kamu mabuk, k-kmu balik saja sendiri. A-aku nggak mau bantu kamu lagi," kata Ana lalu berlari meninggalkan kamar Marius.


Marius yang masih dengan posisi jatuhnya, terus menatap Ana yang sedang berlari. Dia tersenyum melihat tingkah Ana yang menggemaskan di matanya.


Meski hanya sebentar, Marius merasa paginya terasa menyenangkan saat dia terbangun memandangi Ana yang masih tertidur di sampingnya.


"Seandainya setiap pagi seperti ini," ucap Marius lirih. Senyum manisnya masih terpasang indah di wajahnya.


................


Setelah makan siang, Rain ingin bermain di playroom. Mungkin karena cuaca siang itu cukup panas, sehingga gadis kecil itu ingin bersantai saja di playroomnya. Jadi, sedari tadi Ana hanya menemaninya di dalam playroom.


Rain sendiri sedang menggambar sedari tadi. Ana hanya duduk di sampingnya untuk menemaninya. Atau, bisa dibilang ... sedang melamun.


Sejak Ana keluar dari kamar Marius, otak di kepalanya terus memutarkan wajah Marius. Mulai dari saat Marius menatap dirinya saat di pangkuannya semalam, hingga saat dia melihat dengan jelas wajah Marius yang tertidur di sampingnya. Semua terasa begitu jelas, padahal kejadiannya sudah lewat berjam-jam yang lalu.


Kalau sudah begitu, tiba-tiba Ana akan merasakan panas di seluruh wajahnya. Dan tangannya mulai sibuk mengipasi wajahnya.


"Kak Ana ...," panggil Rain tiba-tiba.


"Ah, maaf membuat Rain khawatir. Kak Ana nggak apa-apa, kok," kata Ana dengan senyuman manisnya.


"Rain lagi menggambar apa?," lanjut Ana lagi agar Rain berhenti mengkhawatirkannya. Dia mulai membuka buku gambar halaman per halaman.


Tiba-tiba, Ana teringat sesuatu. Banyak yang sudah terjadi akhir-akhir ini, dan Ana belum sempat mengatakan apapun pada Rain. Ana tidak tahu bagaimana perasaannya, apakah dia takut, sedih, atau apa. Ana merasa dia harus mengajaknya berbicara.


"Rain ...," panggil Ana sembari memegangi kedua sisi bahu anak itu dan menuntunnya agar menghadap dirinya.


Rain menurut saja mengikuti tuntunan Ana. Dia menghadap Ana dan menatapnya dengan tatapan polos dari kedua matanya.


"Ehm ... Kak Ana tahu ... selama ini ada sesuatu yang membuat Rain takut, gelisah, atau mungkin marah ...," kata Ana dengan lembut agar Rain bisa mencernanya dengan baik.


"Apakah Rain tahu siapa orangnya?," tanya Ana.


Rain hanya terdiam. Kepalanya menunduk cukup dalam, hingga Ana tidak bisa melihat wajahnya. Karena itu, Ana mengangkat wajahnya agar Ana bisa melanjutkan apa yang akan dia katakan selanjutnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kalau Rain tidak tahu," kata Ana lagi. "Tapi yang ingin Kak Ana katakan bukan itu."


Ana memegangi wajah Rain dengan kedua tangannya, lalu menghapus sebutir air mata yang baru saja turun dari kedua mata Rain.


"Kak Ana hanya ingin Rain tahu bahwa orang yang Rain takuti saat ini tidak akan mengganggu Rain lagi. Daddy sudah menangkapnya semalam."


Rain terlihat kebingungan dengan yang dikatakan Ana, tapi sebersit kebahagiaan juga terlihat dari kedua matanya. Lalu, Ana mengangkat tubuh Rain, dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Dan suatu saat nanti, jika orang itu menganggu Rain lagi, Kak Ana, Daddy, Nunu, dan semua orang yang ada di rumah ini pasti akan melindungi Rain." Ana membelai lembut rambut anak itu.


"Benarkah?," tanya Rain yang masih terlihat sedikit takut.


"Kak Ana tidak tahu apa saja yang sudah Rain dengar dan yang Rain lihat. Tapi ...," Ana mengambil sedikit rambut Rain yang ada di samping telinganya, lalu meletakkannya dengan lembut di belakang telinganya.


"... tidak akan ada yang tahu apa itu, jika Rain tidak bercerita. Kak Ana ingin, Rain mulai mencoba untuk menceritakan apa yang Rain rasakan. Kak Ana janji akan mendengarkannya."


Ana mengeluarkan jari kelingkingnya ke hadapan Rain. Anak itu memandanginya dengan rasa ragu.


"Tapi, mereka ... bilang ... Rain anak ...," ucap Rain lirih, tapi Ana tahu apa yang akan dikatakan Rain selanjutnya.


"Apakah Daddy, Kak Ana, dan juga Nunu pernah membuat Rain menangis?"


Rain menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, Rain hanya perlu percaya pada Daddy, Kak Ana, dan Nunu. Jika kami tidak pernah mengatakan demikian, itu artinya mereka semua bohong."


"Daddy, Kak Ana, dan Nunu, kami semua sangat menyayangi Rain. Kami selalu mengharapkan kebahagiaan Rain. Jadi, Kak Ana yakin, Daddy pasti akan sedih kalau Rain lebih mendengarkan orang lain daripada Daddy."


Ana kembali menunjukkan jari kelingkingnya setelah tadi Rain masih ragu untuk menyambutnya. Perlahan, Rain mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkannya dengan jari kelingking milik Ana.


"Mulai hari ini, Kak Ana janji akan selalu mendengarkan Rain bercerita. Asalkan Rain janji akan selalu menceritakan semua yang Rain rasakan, Rain lihat, Rain dengar, Rain inginkan, .... apa saja yang ingin Rain katakan."


Rain menganggukkan kepalanya, lalu keduanya saling melemparkan senyum mereka. Terakhir, Ana memeluk gadis kecil itu dengan hangat, seakan memberi tahunya bahwa dia akan selalu melindunginya.


Sementara itu, di luar, Marius sedang berdiri dan bersandar di balik dinding playroom. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya yang bidang. Cukup lama Marius berada di sana hingga dia bisa mendengarkan pembicaraan dua gadis yang ada di dalamnya dari awal hingga akhir.

__ADS_1


Saat dia mendengar Rain tertawa di dalam bersama Ana, dia menghembuskan napas leganya. Senyumnya mungkin terlihat tipis, tapi hatinya sedang diliputi kebahagiaan yang besar.


__ADS_2