Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 55


__ADS_3

"Aku akan mencarikan kaos baru milik papa. Biasanya papa menyimpan beberapa untuk tamu. Nanti kamu bisa mandi dulu," kata Ana seraya melepaskan dirinya dari pelukan Noel.


"Ana ...," panggil Noel untuk menghentikan Ana. "Jangan khawatir. Aku biasanya membawa baju ganti. Nanti aku akan ambil di mobil."


"Ah iya, punggung ... Tadi batu itu mengenaimu, ya? Apakah kamu terluka? Aku, aku akan ambilkan obat, bentar ya."


"Ana, ana ..." Kali ini Noel meraih lengan Ana yang hampir saja berlari meninggalkannya. "Ana ... Aku tidak apa-apa. Tenangkan dirimu dulu."


"Aku ... aku ..."


Ana tidak tahu apa yang ingin dikatakannya. Saat ini isi di kepalanya benar-benar kosong. Dia tidak bisa memikirkan apapun. Ana sendiri tidak tahu mengapa dia jadi begini.


"Begini saja. Pergilah bersihkan dirimu. Mungkin nanti kamu akan bisa menjadi lebih tenang. Aku akan menunggu disini," kata Noel.


Ana mendengarkan semua yang dikatakan Noel. Tapi, otaknya tidak bisa memproses semua perkataannya itu. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk bisa memahami maksud Noel.


"Iya, mandi ... Tidak apa-apa. Kamu mandi di kamar mandi bawah. Aku akan menggunakan kamar mandi di kamarku. Aku akan ambilkan handuk baru ..."


Kali ini, Ana langsung berlari, bahkan Noel tidak bisa menghentikannya. Ana terlalu cepat baginya untuk bisa dihentikan olehnya.


Segera setelah Ana membuka pintu kamarnya, dia menutupnya kembali. Ana terduduk membelakangi pintu kamarnya itu. Di sudut itu, Ana kembali menata isi kepalanya yang sudah berantakan karena kejadian yang baru saja dia alami.


"Pelakor ...," ucap Ana lirih. Dia mengeluarkan tawa kecilnya yang terdengar cukup getir. "Aku merebut kekasih orang ..."


Hatinya terasa sakit saat dia mengatakannya. Entah di bagian mana dari kata-katanya itu yang terasa sangat menusuk di dadanya. Tuduhan dia merebut Marius, atau kenyataan dia dan Marius bahkan tidak memiliki hubungan apapun.


"Hubungan? Hubungan apa yang kamu harapkan, Ana? Hubungan yang didasarkan pada ocehan anak-anak?," ucapnya lagi. Tawa kecilnya kini terasa semakin perih.


"Oke, sudah cukup, Ana ..."


Ana berdiri dan menegakkan tubuhnya. Dia mengumpulkan kembali semua keberanian yang sebelumnya tumpah ruah.


"... Bukan saatnya untuk seperti ini sekarang. Mereka tidak bisa seenaknya menuduhku tanpa bukti. Tidak ada bukti apapun antara aku dan Marius."


Tok, tok ... "Ana!"

__ADS_1


Ana hampir melompat karena terkejut mendengar pintu kamarnya diketok dengan kasar di saat dia sedang memulihkan jiwanya yang terkoyak karena ulah para fans Valerie yang gila. Suara Naomi yang baru saja didengarnya membuat jantungnya hampir saja melompat keluar.


"Astaga ... apa yang mereka lakukan padamu?," teriak Naomi saat dia melihat penampilan Ana yang berantakan. Tak lama kemudian, Naomi sudah mulai kesurupan.


"Kurang ajar mereka! Akan kuhajar mereka satu persatu," kata Naomi geram.


"Nao, tunggu Nao ... Tunggu ..."


Ana memeluk tubuh Naomi dan menahannya agar tidak pergi. Dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa, Ana terus menarik Naomi untuk kembali.


"Tenang, Nao, tenang ..."


"Lihat yang mereka lakukan padamu. Mereka semua gila!," bentak Naomi.


"Lupakan mereka, ya. Aku lapar, Nao ...," kata Ana sambil memperlihatkan tatapan sendunya pada Naomi.


Naomi jelas terlihat sedang berperang melawan dirinya sendiri, antara keluar meladeni fans Valerie atau tidak tega dengan tatapan Ana saat ini. Ana tahu Naomi tidak akan tahan jika Ana menatapnya seperti itu.


"Ya sudah, ya sudah ... kamu pergi mandi sana. Baumu nggak enak sama sekali! Aku akan pesankan makanan," kata Naomi. Dia langsung menghentikan Ana yang sudah bersiap memeluknya, dan mendorongnya untuk mandi.


"Dia ingin mengantarkanku ke dokter Aris. Tapi malah ikut dilempari. Aku rasa ada yang melempari kami batu."


"Apa? Batu? Gila ya mereka."


"Nao ... aku perlu bertanggung jawab untuk membawanya ke dokter jika dia terluka karena aku."


"Oke, oke ... tenang. Kamu mandi dulu. Urusan itu nanti aku yang atur. Lagian dia dokter, dia pasti tahu seberapa parah lukanya. Dah sana mandi."


Naomi kembali mendorong Ana untuk mandi. Ana hanya bisa menurutinya. Hari ini mungkin adalah hari yang cukup berat baginya. Tapi kedatangan Naomi seperti sedang mengangkat sedikit bebannya itu.


Siang itu, Naomi menemani Ana hingga Doni pulang. Karena Doni, papanya menelponnya berkali-kali untuk memastikan Ana baik-baik saja. Meskipun Ana memintanya untuk tidak khawatir, tetap saja Doni pulang dari kantor lebih awal.


Noel sendiri akhirnya pamit pulang setelah sore. Dia terlihat tenang sudah ada yang menemani Ana saat itu.


Menjelang sore juga, kerumunan orang-orang sedikit demi sedikit berkurang. Meskipun banyak orang yang keluar masuk rumah Ana, tapi mereka tidak sembarangan menyerang orang yang bukan Ana. Sepertinya, mereka memang hanya mengincar Ana.

__ADS_1


"Setidaknya, tidak ada yang terluka selain aku," ucap Ana yang terdengar sudah tidak lagi bertenaga. Matanya terus bergerak menurun meskipun dia berusaha membuatnya agar tetap terbuka. Di akhir usahanya itu, pada akhirnya Ana tetap saja tertidur.


Ana terbangun karena dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Dia merasa seseorang sedang menyentuh wajahnya dengan sangat hati-hati. Tapi sentuhannya tetap membangunkannya.


Dibukanya perlahan kedua matanya untuk melihat siapa yang ada di dekatnya saat ini. Untuk beberapa detik, Ana melihat sosok Marius, dan beberapa detik kemudian, pandangannya menjadi gelap kembali. Ana dapat merasakan tangan Marius menutupi kedua matanya. Saat tangannya mendorong turun tangan Marius, pria itu melarangnya.


"Biar begini saja. Aku tahu kamu tidak bisa melihatku terlalu lama. Naomi sudah memberitahuku," kata Marius.


"Naomi ... memberitahumu?"


"Iya. Dia bilang kejadian di gudang waktu itu menimbulkan trauma untukmu setiap kali kamu ... melihatku."


"Sepertinya Naomi tidak bilang kalau aku sudah ingat kejadian 20 tahun lalu," pikir Ana.


"Naomi bilang kamu tidak ingin aku tahu, karena itu aku tidak mengatakan apapun kemarin."


"J-jadi kemarin kamu sudah tahu meski aku berusaha tidak menghindar?," tanya Ana.


"Iya. Aku ingin tahu apakah yang dikatakan Naomi benar atau tidak. Setelah melihatmu berusaha sangat keras kemarin ... aku berpikir untuk tidak membiarkanmu melihatku terlalu lama. Karena itu ... aku pergi."


"Jadi kemarin aku berusaha begitu keras untuk apa?," kata Ana merengut.


"Seharusnya kamu bilang padaku. Jadi kamu tidak perlu seperti itu."


"Aku kan cuma tidak mau membuatmu khawatir."


Ana dapat mendengar Marius menghela napasnya. Tanpa melihat Marius, Ana tidak dapat melihat raut wajah Marius saat ini. Ana ingin tahu apa yang sedang dipikirkan pria yang selalu dipujanya sejak dia masih berumur 4 tahun itu.


"Maafkan aku, Ana ..." Suara Marius terdengar sangat dalam saat mengatakannya. Ketika Marius mengatakannya, Ana dapat merasakan betapa dalamnya penyesalan Marius.


"Aku yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini. Semua ... salahku ..."


Ana mengangkat kedua tangannya dan memegangi tangan Marius yang saat ini sedang menutupi matanya. Dia genggam erat tangan Marius yang kokoh itu.


"Aku tidak pernah menyalahkanmu, Marius ..."

__ADS_1


__ADS_2